THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
give in



"Bos."


Siena memutar kursinya menghadap anak buahnya yang berada di hadapannya, menatap tajam pria itu.


"Ada apa?"


"Ketua Laila hendak melakukan penyerangan ke rumahmu, Bos!"


Siena duduk tegap matanya menatap tajam anak buahnya yang menundukkan kepala.


"Rupanya dia hendak merebut Kenzi dari putraku." Siena bergumam dalam hati.


"Apalagi?" tanyanya.


"Hanya itu yang kami dapat informasi dari mata mata."


"Kau boleh pergi." Perintah Siena.


"Baik bos!"


"Ambil saja, aku sudah tidak membutuhkannya lagi." Siena berdiri dari kursi yang sedari tadi ia duduki lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.


***


Keesokan paginya, saat mereka hendak menikmati sarapan. Angela tidak mau duduk bersama selama ada Kenzi.


"Aku tidak sudi makan bersama pria yang telah mengkhianati istrinya sendiri." Angela berdiri dari kursinya lalu mengambil tas yang tergeletak di atas meja makan.


"Angela! jaga bicaramu!" seru Ryu kesal pada adiknya yang masih keras kepala.


"Nak, kalau kau mau sarapan. Biar Ayah sarapan di teras rumah." Kenzi berdiri, ia merasa kikuk berada di antara anak anaknya. Terlebih Angela sangat membencinya. Kenzi berdiri lalu mengambil piring di atas meja.


"Tidak Ayah, kau tetap di sini." Jiro menahan tangan Kenzi supaya tetap duduk di kursi.


"Tapi Nak-?"


"Sudahlah, kau tidak perlu drama. Kau pikir aku kasihan?" sungut Angela. "Aku berangkat sekolah dulu kak!"


Angela ngeloyor begitu saja meninggalkan ruang makan. Ryu menggelengkan kepalanya melihat sikap Angela, lalu beralih menatap ke arah Kenzi.


"Maafkan Angela, yah.." ucap Zoya menyentuh punggung Kenzi, lalu memintanya untuk duduk kembali.


"Tidak Nak, aku yang salah." Kenzi kembali duduk di kursi dengan perasaan yang canggung.


"Bos, Nona Angela masih muda. Kita harus memakluminya, suatu hari nanti Nona pasti menerima Bos seutuhnya." Samuel ikut menenangkan Kenzi. Ia khawatir mentalnya akan terganggu akibat depresi yang di pengaruhi obat obatan.


"Swiiinnng!


"Prankk!"


Kaca jendela pecah, sebuah peluru melesat hampir saja mengenai Samuel. Beruntung dia sudah makan manis asam garam dunia hitam, hanya dengan menggeser wajahnya peluru itu mengenai guci yang terletak di atas meja.


"Merunduk ke bawah meja!" pekik Samuel.


"DOR DOR DOR!


Peluru berseliweran memecah kaca jendela. Ryu dan yang lain merunduk ke bawah meja, Samuel langsung berlari ke arah kamar mengambil senjata api. Ryu langsung memapah tubuh Kenzi berjalan merunduk menghindari peluru menuju tempat aman di dalam rumah. Zoya dan Jiro menyusul Samuel mengambil senjata api yang sudah di siapkan.


"Zoya tangkap!" Jiro melemparkan senjata api ke arah Zoya yang bersembunyi di balik tembok dapur melindungi Kenzi dan Ryu.


"Tap!"


"Dor! Dor! Dor!


" Ahhkkkk!


Satu persatu musuh tumbang, darah memercik ke lantai rumah. Zoya langsung mendekati Ryu dan Kenzi lalu berlari ke arah ruang tamu hendak menuju pintu belakang rumah. Namun sial, musuh semakin banyak terpaksa Zoya bersembunyi di balik pintu bersama Kenzi dan Jiro.


"Cepat kalian keluar dari sini, aku akan melindungi kalian!" seru Samuel memerintahkan Jiro untuk membawa mereka semua meninggalkan rumah.


"Baik paman!"


Jiro berlari lalu berguling sembari melesatkan peluru ke arah musuh.


"DOR! DOR! DOR!


" PRANKKK!!


"BRAKKKK!!


Pintu utama rusak akibat benturan keras musuh yang terpental menabrak pintu. Jiro langsung berlari mendekati Zoya dan yang lain. Lalu membuka pintu belakang rumah sembari melesatkan peluru ke arah musuh yang sudah menunggu di luar.


" Ahhhkkkk!


"Cepat lari!" perintah Jiro pada yang lain.


Zoya dan Ryu langsung berlari ke halaman memapah Kenzi, di susul Jiro dan Samuel menuju mobil yang terparkir.


"Klik!"


Langkah Zoya dan yang lain terhenti, saat Laila keluar dari pintu mobil mengarahkan senjatanya pada Ryu.


"Mundur, atau dia mati!" ancam Laila.


Zoya, dan yang lain mundur menatap geram Laila yang menarik tangan Kenzi dari pelukan Ryu.


"Kau pikir hebat?" ucap Laila tertawa mencemooh menatap Ryu.


"Kau pikir kau pun hebat? wanita iblis!"


Laila melirik ke samping. Siena sudah berdiri dengan senjata api mengarah ke pelipisnya.


"Turunkan senjatamu!" bentak Siena.


Perlahan Laila mundur sembari mendekap tubuh Kenzi yang hanya diam tanpa perlawanan menatap Siena.


"Maafkan aku sayang, sebaiknya aku ikuti mau Laila. Supaya anak anakku tidak di ganggunya," ucap Kenzi dalam hati.


"Laila cukup! kita pergi dari sini. Aku ikut denganmu, tapi lepaskan anak anaku." Kenzi menatap tajam Siena meski bibirnya bicara dengan Laila.


"Ayah! ayah jangan menyerah begitu saja!" pekik Ryu kesal.


"Tidak Nak, aku ikut dia." Kenzi mundur menarik tangan Laila.


"Kau lihat Siena?" Laila tersenyum mencemooh. "Dia lebih memilihku dari pada kau!"


"Cih! Siena hanya menanggapi dingin ucapan Laila.


" Mungkin kita tidak mungkin bersama lagi, meski aku akan berusaha memaafkanmu. Tapi aku salah, kau pecundang!" jerit Siena dalam hati.