
Entah sudah berapa lama Genzo terdiam mematung di halaman Bandara. Ia terus memperhatikan keluar masuk orang orang yang lalu lalang. Hingga akhirnya ia merasa bosan. Dengan langkah gontai ia memutuskan untuk pulang. Namun baru saja beberapa langkah, ia melihat Cristoper sudah berdiri di dekat mobil tengan menatap ke arahnya.
"Paman!" sapa Genzo, berjalan mendekati Cristhoper.
"Tuan Muda, kabur dari sekolah lagi?" tanya Cristoper.
"Maaf paman!" sahut Genzo.
Cristoper membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Genzo masuk ke dalam, setelah itu ia masuk ke dalam mobil memperhatikan raut wajah Genzo lewat kaca spion.
"Kita pulang, Paman!"
"Baik Tuan!"
Cristoper menyalakan mesin, mobilpun melaju meninggalkan halaman Bandara. Sepanjang perjalanan Genzo bertanya tentang informasi yang ia minta mengenai keluarganya.
"Bagaimana Paman?" tanya Genzo menatap keluar kaca mobil.
"Kita bicara di rumah Tuan!"
"Baiklah Paman."
***
Sesampainya di rumah, Genzo duduk di sofa. Cristoper memanggil bawahannya untuk menghadap Genzo.
"Informasi apa yang kau dapatkan tentang kakek dan nenek di Indonesia?" tanya Genzo menatap tiga pria berjajar rapi di hadapannya.
"Tuan Muda, menurut informasi yang kami dapatkan. Tuan Kenzi dan Nyonya Siena, sudah meninggalkan rumah sejak 10 tahun yang lalu. Tapi kami tidak dapat menemukan keberadaannya." Pria itu membungkukkan badan setelah selesai memberikan informasi.
Genzo menarik napas panjang, lalu beralih menatap ke arah pria yang kedua.
"Bagaimana dengan kau? apa yang kau dapatkan?" tanya Genzo.
"Bagaimana mungkin, keluargaku menghilang semua?" gumam Genzo pelan. "Bagaimana dengan Paman Jiro?" tanya Genzo pada pria terakhir.
"Maaf Tuan Muda, jika informasi yang saya dapatkan juga akan membuat Tuan Muda kecewa," ucap pria itu membungkukkan badannya sesaat.
"Lanjutkan!" perintah Genzo.
"Selama dalam penyelidikan, pihak perusahaan di mana Tuan Jiro bekerja, mengatakan kalau Tuan Jiro sudah sejak 11 tahun yang lalu tidak bekerja lagi, mereka pulang kembali ke sini. Namun saat kami memeriksa tanggal kapan mereka melakukan penerbangan, tidak ada tercatat kalau Tuan Jiro dan keluarganya kembali ke Hongkong."
"Tidak mungkin! seru Genzo mengusap kasar wajahnya. " Semua keluargaku menghilang begitu saja, aku yakin ada sesuatu yang tidak beres! tapi apa?!!"
Genzo menarik napas panjang, menyandafkan tubuhnya di sofa. Menatap langit langit ruangan dengan mata berkaca kaca.
"Kalian semua ada di mana? apa yang terjadi?" tanyanya dalam hati.
"Tuan Muda tenanglah, kita pasti bisa mengungkap kasus ini," ucap Cristoper menenangkan Genzo yang sudah di anggap anaknya sendiri.
"Paman!"
"Ya Tuan!" sahut Cristoper.
"Perintahkan mereka untuk mencari informasi keberadaan keluargaku, jangan kembali sebelum menemukan titik terang!"
"Baik Tuan!"
Cristoper membungkukkan badannya sesaat, lalu ia mengajak tiga pria itu keluar dari ruangan untuk menyusun strategi. Sementara Genzo masih memikirkan keluarganya yang hilang bak di telan bumi.
"Kak Aira, kau di mana? apa kau baik baik saja?" tanya Genzo pada dirinya sendiri, tetingat pada Aira, putri Jiro dan Zoya satu satunya. "Aku pasti menemukan kalian, pasti."
Genzo berdiri, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar pribadi milik Ryu dan Davira.
"Ayah, Ibu, aku merindukan kalian."