
Althea, seorang gadis berusia 20 tahun..Pekerjaannya mencuri dan pernah satu kali masuk penjara selama satu tahun. Gadis miskin yang tidak pernah tahu siapa ayah dan ibunya. Kini gadis itu tengah bahagia karena akan di nikahi seorang pria kaya, di takuti dan punya kekuasaan di kota itu.
Althea tidak perlu memikirkan bagaimana caranya besok ia makan, tidur, bahkan mengganti pakaian yang bagus bagus. Seketika hidup Althea akan berubah drastis akibat perbuatan Genzo dan dirinya yang tengah mabuk.
Persiapan pernikahan di lakukan dengan cepat oleh anak buah Genzo. Tak butuh waktu berhari hari, persiapan pernikahan akan di gelar hari ini.
Namun tiga puluh menit sebelum pernikahan di langsungkan. Genzo mengajukan persyaratan hitam di atas putih.
Di ruangan lain, Genzo, Joe dan Althea tengah berbicara serius. Joe membacakan persyaratan apa saja yang Genzo minta.
"Jika dalam tiga bulan kau tidak hamil, maka Tuan Genzo akan menceraikanmu dengan berbagai fasilitas yang akan di berikan, seperti rumah dan sejumlah uang. Tetapi jika kau hamil sebelum tiga bulan, maka pernikahan akan tetap di lanjutkan dan kau akan menjadi istri Tuan Genzo, apa kau paham??"
Althea mengangguk tanda kalau ia paham. Namun yang Althea pahami adalah ia tidak akan kelaparan dan kedinginan saat malam tiba Yang ada dalam pikiran Althea saat ini adalah uang dan kenyamanan yang Genzo tawarkan.
"Baillah, aku setuju!" sahut Althea tersenyum mengembang.
Kemudian Joe memberikan surat perjanjian itu kepada Althea untuk di tandatangani menggunakan cap jari Althea.
Setelah selesai, mereka bertiga masuk ke dalam ruangan lain dan melangsungkan acara pernikahan. Tak butuh waktu lama, hanya butuh waktu satu jam pernikahan selesai di gelar, kini Althea dan Genzo resmi menjadi suami istri.
***
Meskipun sudah menikah Althea tidur di kamarnya sendiri, begitu juga Genzo. Terkadang Genzo tidak pulang sama sekali, namun Althea tidak perduli. Baginya perut kenyang, punya uang bisa tidur nyaman menurut dia sudah cukup. Ia tidak perduli Genzo ada di rumah atau tidak, mau pergi kemana sama siapa, Althea tidak mau tahu. Bahkan Genzo tidak pernah menyentuhnyapun, Althea tidak pernah protes.
Hingga pernikahan mereka berjalan dua bulan. Genzo sering menemui Alexa, dan Althea mulai bosan dengan kehidupannya yang sekarang. Hidup bergelimangan harta tapi ia tidak mendapatkan kasih sayang bahkan tidak ada perhatian sedikitpun dari Genzo.
Althea ingin mencoba sesuatu yang baru, ia tak lagi keluar masuk mall, membeli barang barang yang memang sudah banyak ia kumpulkan. Althea mencoba mengalihkan perhatiannya pada Genzo. Selain itu, Althea mulai tertarik dengan pria tersebut.
Pagi pagi sekali Althea sudah bangun, ia menyiapkan sarapan untuk Genzo dan mencoba untuk mendekatinya. Setelah sarapan ia buat, Althea memberanikan diri menemui Genzo di kamarnya. Pintu perlahan ia ketuk, dan terdengar suara menyahut dari dalam.
"Masuk!"
Althea membuka pintu, lalu ia masuk ke dalam. Sesaat berdiri memperhatikan Genzo yang hanya menggunakan balutan handuk.
"Ada apa kau kemari?" tanya Genzo.
"Ah tidak apa apa, aku hanya ingin mengantarkan sarapan untukmu." Jawab Althea lalu berjalan mendekati meja, ia letakkan nampan di atasnya. Lalu kembali berdiri tegap memperhatikan Genzo yang tengah memilih pakaian.
"Hari ini kau ada acara kemana?" tanya Althea tersenyum manis meski Genzo tidak melihatnya.
"Hmm!"
"Kalau boleh, aku temani?" tanya Althea lagi meski jawaban Genzo hanya.
"Hmm!"
"Oya, kalau sudah selesai, bagaimana kalau sarapan dulu?" tanyanya mulai menarik bibirnya karena respon Genzo biasa saja.
"Hey! bagaimana dengan sarapannya?" tanya Althea. Namun Genzo sama sekali tidak perduli, ia berlalu begitu saja meninggalkan Althea tanpa sepatah katapun.
"Jangan menyerah!" seru Althea menyemangati dirinya sendiri. Pandangannya ia alihkan pada sebuah foto seorang wanita cantik yang terpajang di meja.
Perlahan Althea mendekati meja dan memperhatikan foto tersebut.
"Mungkin ini alasanmu tidak mau beesamaku, tidak mau bicara denganku.." ucap Althea pelan.
"Rasanya aku berada di tempat yang salah, aku sudah berada di antara mereka."
Althea tersenyum tipis, lalu balik badan dan memutuskan untuk pergi saja. Namun baru saja dua langkah, ia merasakan pusing di kepala. Namun Althea menganggap itu hal biasa dan melangkahkan kakinya lagi, tiba tiba pandangannya menjadi gelap, perlahan tubuhnya ambruk ke lantai jatuh pingsan.
***
Entah sudah berapa lama Althea jatuh pingsan di kamar Genzo. Perlahan ia membuka mata lalu bangun dan duduk di lantai sembari memegang kepalanya yang berat.
"Aku harus ke Dokter!"
Althea mencoba berdiri lalu berjalan keluar dari kamar Genzo, menuju ruangan di mana Dokter pribadi Genzo berada.
"Nona apa yang terjadi?" tanya Dokter. Lalu membantu Althea untuk berbaring di atas ranjang.
"Dok kepalaku pusing, perutku mual sekali." Jelas Althea.
"Baiklah Nona."
Kemudian Dokter memeriksa Althea secara keseluruhan. Tiga puluh menit berlalu, Dokter selesai memeriksa dan menyatakan kalau Althea hamil.
"Hamil Dok?" tanya Althea.
"Benar Nona, usia kandungan anda sudah sekitar 6 minggu. Selamat Nona, anda akan menjadi seorang Ibu!" sahut Dokter membungkukkan badannya sesaat, lalu ia memberikan obat dalam botol kecil.
"Terima kasih Dok."
"Nona, segera sampaikan kabar gembira ini kepada tuan Genzo. Saya tidak bisa memeriksa kandungan nona untuk minggu berikutnya. Sebab hari ini saya mendapatkan liburan untuk menemui kuarga saya. Nona akan di periksa oleh Dokter lain yang akan segera datang." Ungkap Dokter itu panjang lebar.
"Baik Dok!" sahut Althea, lalu turun dari atas tempat tidur.
"Hati hati Nona, jaga kandungan anda dengan baik!"
Althea menganggukkan kepalanya, melangkah gontai menuju kamar pribadinya.
"Hamil? suamiku saja tidak menginginkanku, apalagi anakku.." ucap Althea lirih