
Sesampainya di kamar, Kenzi langsung bangun dan menghajar habis habisan dua pria itu. Lalu ia berlari keluar kamar menuju pintu belakang markas.
"Aku harus pergi dari sini dan sembunyi untuk sementara " gumam Kenzi bersemangat, keinginannya untuk memperbaiki hubungan dengan keluarganya semakin menggebu gebu, halusinasinya tentang mudahnya kembali pada keluarga serasa di depan mata. Akibat obat obatan narkotika yang ia konsumsi membuat ia sering berhalusinasi.
Kenzi terus berlari menyusuri tepi jalan raya tanpa menoleh ke belakang. Tanpa ia sadari anak buah Laila mengejarnya. Tubuh Kenzi yang mulai melemah karena ketergantungan obat, membuat ia tidak bisa lagi cepat berlari. Seharusnya ia hari ini minum obat lagi untuk menjaga staminanya. Langkah Kenzi mulai pelan lalu ia terjatuh dan terungkur di tepi jalan. Dengan mudah anak buah Laila menangkap Kenzi dan memegang Lengannya dengan kuat.
"Lepaskan aku, atau kalian akan menyesal!" seru Kenzi berusaha memberontak, sementara tubuhnya menggigil menagih asupan obat obatan narkotika.
"Sayang, tenanglah." Laila berlari menghampiri, di tangannya memegang alat suntik yang siap di berikan pada Kenzi.
"Pegang yang kuat!" perintah Laila.
Sementara dari kejauhan, sebuah mobil menepi di dekat Kenzi berada. Nampak Jiro, Zoya dan Samuel yang baru saja tiba dari Indonesia. Tidak sengaja melintas jalan itu dan melihat Ayahnya tengah berlari di kejar pria tak di kenal. Jiro meminta sopir taksi untuk berhenti.
"Hentikan!" pekik Jiro.
Kenzi dan yang lain menoleh ke arah suara.
"Bos?" sapa Samuel setelah sekian lama tidak bertemu, ia sangat sedih melihat bos nya sekarang dalam keadaan mengenaskan. Matanya berkaca kaca menatap Kenzi.
"Jiro, putraku? samuel?" ucap Kenzi pelan.
Entah datang dari mana tenaga Kenzi, melihat Jiro putranya ada di depan mata bersama Samuel anak buah yang setia. Kenzi bangun dan berdiri berteriak.
"Lepaskan aku!!"
Anak buah Laila mundur ke belakang begitu juga dengan Laila. Kenzi langsung berlari setengah terhuyung menubruk tubuh Jiro dan memeluknya erat.
"Bawa Ayah pergi.." ucapnya lirih.
Jiro tidak mengerti ada apa dengan Ayahnya, ia sendiri tidak menyangka jika Kenzi masih hidup. Jiro langsung memeluk Kenzi erat menatap marah pada mereka semua.
"Brengsek! apa yang sudah kalian lakukan pada ayahku!" teriak Jiro menatap marah pada Laila.
"Dia suamiku!" seru Laila tak mau kalah.
"Suami? ayahku menikahi wanita iblis seperti kau? tidak mungkin!" hardik Jiro tak kalah marah.
"Jiro, sebaiknya kita bawa pulang Ayah." Zoya berbisik.
"Kau benar, paman Sam. Kita pergi dari sini."
"Tidak semudah itu kau membawa suamiku pergi!" Laila mengeluarkan senjata api, lalu di arahkan pada mereka semua. Di ikuti anak buahnya.
"Kau pikir aku bodoh?" Samuel mengeluarkan benda bulat, lalu ia genggam dengan kedua tangannya.
"Kau menggertakku?" Laila tersenyum sinis.
"Tidak, ini bahan peledak. Aku lemparkan pada kalian. Tidak hanya kami yang mati, tapi juga kau!" ancam Samuel.
Laila sempat ragu, namun melihat kesungguhan Samuel. Perlahan ia dan anak buahnya mundur.
"Pergi menjauh!" bentak Samuel. Meski ia sudah tidak muda lagi, namun keneraniannya tidak berkurang untuk membela Kenzi dan keluarganya.
"Mundur!" seru Laila pada anak buahnya.
"Ingat, aku akan merebut suamiku kembali." Laila mengancam. Namun samuel hanya tertawa mencemooh.
"Bermimpilah!"
Laila dan anak buahnya mundur dan kembali ke markas.
"Paman kita pulang."
Samuel menganggukkan kepala, Jiro memapah tubuh Kenzi yang menggigil masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah Siena.
Di perjalanan, Jiro bertanya pada Samuel.
"Paman bawa bahan peledak?" Jiro dan Zoya menoleh.
"Tidak, ini hanya mainan saja," sahut Samuel tersenyum.
"Ya ampun." Jiro menggelengkan kepalanya. "Paman ini hebat juga akalnya."
Samuel tertawa kecil menoleh ke belakang, lalu beralih menatap Kenzi yang menggigil dalam pelukan Jiro.
"Bertahanlah Ayah.." ucap Jiro mencium puncak kepala Kenzi.
"Apa yang terjadi padamu, Ayah." Jiro membatin.