
Tiga hari pasca gagalnya pernikahan Genzo dan Alexa. Kini ia lebih banyak mengurung diri, bahkan tidak mau di dekati Althea. Apalagi Genzo mendapatkan ancaman dari ayahnya Alexa karena sudah mempermalukannya.
Tak lama kemudian, Genzo beranjak dari kamarnya dan memutuskan untuk menemui Kenzi dan Siena yang berada di panti jompo. Panti jompo itu sendiri di buat Genzo khusus menampung para lansia yang tidak memiliki keluarga. Setelah pembebasan Kenzi dan Siena, mereka berdua memilih tinggal di panti jompo milik Genzo.
Setiap hari, Kenzi dan Siena hanya duduk di kursi depan layar tv. Hingga tertidur pulas, namun meski usia mereka sudah sangat tua. Pergerakan sedikit saja mereka tahu.
"Kakek..Nenek.." sapa Genzo lalu duduk di kursi.
"Apa kabarmu sayang?" tanya Siena menatap raut wajah Genzo yang terlihat murung.
Genzo menceritakan apa yang terjadi di rumahnya. Kedua orangtuanya berkonspirasi dengan Althea menggagalkan rencana pernikahannya.
Kenzi dan Siena tertawa terbahak bahak mendengar cerita cucunya. Sampai keluar air mata, lalu mereka berhenti tertawa menatap sayang ke arah cucunya.
"Sesuatu yang tidak kau sukai, suatu hari nanti akan kau rindukan. Hal yang kau sukai sekarang, suatu hari nanti kau akan membencinya." Kata Siena dengan lembut.
"Kakek dan Nenek sama saja!" ucap Genzo kesal, lalu ia berdiri dan membungkukkan badannya. Mencium Siena dan Kenzi sekilas.
"Sudah malam, aku pulang."
Siena dan Kenzi tertawa kecil seraya menganggukkan kepalanya. Lalu keduanya kembali asik menonton acara tv.
Sementara Genzo memilih pulang naik bus malam. Di dalam bus, Genzo duduk menundukkan kepalanya, memikirkan kata kata Siena dan memikirkan ancaman keluarga Alexa.
Tiba tiba saja bus berhenti, nampak tiga pria seusia Genzo masuk ke dalam bus dan mengganggu penumpang pria yang tengah tertidur. Genzo hanya diam memperhatikan.
Ketiga pria tersebut mulai mengganggu seorang anak perempuan hingga ketakutan. Anak perempuan itu menatap ke arah Genzo seolah olah meminta pertolongan.
Genzo berdiri, lalu berjalan ke depan. Meminta sopir bus itu untuk menepikan busnya dengan paksa. Setelah bicara dengan sang sopir, Genzo kembali menemui tiga pria yang hendak melecehkan anak perempuan tersebut.
"Jangan jadi pecundang, ayo lawan aku!" tantang Genzo.
Ketiga pria tersebut tertawa mencemooh. Lalu salah satu dari mereka maju menerjang Genzo dengan menggunakan tangan kosong.
Hanya dengan satu pukulan tangan dan terjangan kaki kirinya. Genzo berhasil melumpuhkan pria yang setengah mabuk itu.
Pria itu ambruk tersungkur dan membentur besi. Darah segar mengalir dari kening pria itu. Melihat temannya tak sadarkan diri atau mati, temannya maju dan mengeluarkan belati dari balik jaketnya.
"Srertt!!""
Satu serangan berhasil melukai lengan Genzo hingga kulitnya tersayat dan mengeluarkan darah segar. Saat pria itu hendak melukai Genzo lagi. Dengan gerakan cepat, tangan kanannya mencengkram tangan pria itu lalu menariknya kedepan, lalu lutut kanan Genzo di benturkan ke leher pria itu hingga darah segar keluar dari mulutnya membasahi celana Genzo.
Pria itu tidak berkutik lagi, tinggal tersisa satu. Dengan satu pukulan tangan kosong tepat mendarat di leher pria itu hingga terjungkal dan menewaskannya. Setelah ketiga pria itu tak berkutik lagi, Genzo baru sadar. Kalau salah satu pria tersebut, putra salah satu gengster yang paling berpengaruh di kota itu. Genzo bergegas keluar dari bus, melangkahkan kakinya menyusuri tepi jalan raya.
***
Sesampainya di rumah. Ia langsung bergegas ke kamar pribadinya. Terlihat Althea tengah tertidur pulas di sofa. Karena tidak tega melihat perutnya yang sudah terlihat membesar. Genzo menghampirinya, mengangkat tubuh Althea lalu menggendongnya ke atas tempat tidur.
Setelah menyelimuti tubuh Althea. Genzo bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari noda darah.
Tiga puluh menit berlalu, Genzo telah selesai. Ia naik ke atas tempat tidur, berbaring di samping Althea untuk pertama kalinya.
Ia pandangi wajah Althea yang terlihat sangat cantik saat tertidur. Perlahan tapi pasti, terukir senyuman di sudut bibirnya. Tangannya terulur pelan, membenarkan rambut yang menghalangi wajah Althea.
"Apa yang kau lakukan?" tangan Althea memegang tangan Genzo.
"Tidak ada, tidurlah sudah malam." Kata Genzo lalu menarik tangannya dan merubah posisi tidurnya membelakangi Althea.
Althea bangun dan hendak turun dari atas tempat tidur. Ia tahu kalau Genzo tidak ingin tidur satu ranjang dengannya. Namun kali ini Genzo mencegahnya.
"Kau mau kemana?" tanya Genzo menarik pelan tangan Althea.
"Tidur di sofa." Jawab Althea.
"Tidurlah di sini, temani aku.." pinta Genzo.
"Tidak perlu, aku biasa tidur di sofa." Tolak Althea, tidak ingin hatinya terluka lagi karena sikap Genzo. Althea memilih tidur di sofa.
Genzo menarik napas dalam dalam, membiarkan Althea tidur di sofa. Namun ia tidak memejamkan matanya, terus memperhatikan Althea.