THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Sesampainya di rumah, Genzo langsung membawa wanita itu ke rumahnya, ia meminta asisten rumah tangga untuk membersihkan wanita itu terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai wanita tersebut duduk di kursi. Wajahnya terlihat cantik, matanya liar memperhatikan sekitar ruangan.


"Kakak makan yang banyak, aku pergi dulu sebentar." Genzo mengusap punggung wanita itu pelan. Lalu ia beranjak pergi mencari keberadaan Samuel dan Cristoper yang masih berada di ruang kerja Ryu memperbaiki komputer.


Genzo meminta Samuel dan Cristoper untuk ikut bersamanya menemui wanita tadi. Namun sesampainya mereka di ruang makan, wanita itu tidak di temukan. Genzo memperhatikan seluruh sudut ruangan. Nampak wanita itu te tengah duduk di sudut ruangan menangkup kedua kakinya.


"Paman, kemarilah!" seru Genzo lantang.


Samuel dan Cristoper berjalan menghampiri Genzo. Mereka menatap wanita itu yang tengah menundukkan kepalanya.


"Dia siapa?" tanya Samuel menatap tajam wanita itu.


"Aku tidak tahu, Paman. Aku membawanya kerumah, karena kulihat dia sangat kelaparan." Genzo jongkok di hadapan wanita itu, lalu mengangkat dagunya supaya melihat ke arahnya. Ia sibakkan rambut yang menghalangi wajahnya.


"Paman besar, izinkan dia tinggal di sini," ucap Genzo.


Samuel menatap tajam wanita itu, wajahnya mengingatkan dia pada Zoya dan Jiro. Perlahan ia jongkok dan mempeehatikan dengan seksama.


"Nona Aira? benarkah ini kau?' tanya Samuel pelan dengan nada bergetar.


Genzo termangu mendengar ucapan Samuel, menatapnya cukup lama. " Kak Aira? apa benar?" tanya Genzo setengah tidak percaya namun ada rasa bahagia menjalar di hatinya.


"Paman tidak yakin, tapi wajah kecil Aira masih Paman ingat."


Cristoper yang sedari tadi berdiri, ikut jongkok dan memperhatikan wajah wanita itu. Namun detik berikutnya wanita itu matanya melebar menatap Genzo dan yang lain. Raut wajah ketakutan terlihat sangat jelas.


"Jangan bunuh aku..jangan bunuh aku ." ucap wanita itu mengibaskan tangannya berkali kali.


"Aku tidak akan menyakitimu, katakan siapa namamu?" tanya Samuel.


"Jangan bunuh aku! pergi! pergi!" teriak wanita itu lagi menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya. "Ibuuuu...!!!!!


" Tenanglah Nak..tenang.." ucap Samuel.


Genzo yang tidak tega langsung memeluk wanita itu erat.


"Kakak tenanglah, kau aman di sini."


"Lepaskan aku! lepaskan aku! jangan bunuh aku, Ibuuuu!! teriaknya panjang lalu wanita itu jatuh pingsan dalam pelukan Genzo.


" Kakak tenanglah.." ucap Genzo, air matanya menetes membasahi pipinya.


"Tuan Muda tenanglah, jika benar wanita ini adalah Nona Aira. Kemungkinan keluarga Anda masih hidup." Samuel mengusap bahu Genzo untuk menenangkan.


"Sebaiknya kita bawa ke kamar, biar Dokter memeriksa kondisinya." Usul Cristoper.


Samuel menyerujui usul Cristoper, lalu mereka membawa tubuh wanita itu ke kamar untuk segera di tangani Dokter.


Selama dalam pemeriksaan, Genzo dan yang lain menunggu di luar kamar. Genzo terlihat masih terisak, jika benar wanita itu adalah Aira, putri Jiro dan Zoya. Bagaimana nasib mereka? berapa lama Aira mengais sampah mencari makanan? sementara ia tidur di kasur yang empuk, hangat dan tidak kelaparan. Rasa sakit dan rasa yang tidak dapat ia ungkapkan. Hanya mampu ia tekan perasaannya, ia tidak ingin terlihat cengeng. Tapi air mata itu tidak dapat ia bendung kala mengingat keluarganya.


Samuel menghela napas panjang, ia berjalan perlahan mendekati Genzo. "Paman mengerti, kau hanya perlu bersabar."


Genzo menganggukkan kepalanya, ia tersenyum samar menatap Samuel sesaat. Tak lama kemudian, Dokter keluar dari ruangan dan memberikan penjelasan tentang kondisi wanita itu.


"Baik Dok, bagaimana dengan tes DNA?" tanya Samuel lagi.


"Bisa di lakukan Tuan!" sahut Dokter.


Kemuduan Dokter pamit undur diri setelah menjelaskan semuanya pada mereka. Genzo masuk ke dalam ruangan di ikuti Samuel dan Cristoper.


"Aku yakin, dia Nona Aira." Samuel menarik napas dalam dalam memperhatikan wanita itu tertidur pulas.


***


Keesokan paginya wanita itu sudah terbangun, namun ia masih sama seperti waktu pertama kali di temukan Genzo. Wanita itu tidak mengingat apa apa lagi selain menjerit memanggil Ibunya dan berteriak histeris. Genzo menyarankan wanita itu untuk di tangani dan di awasi Dokter. Supaya kesehatan dan traumanya cepat pulih dan normal kembali. Pagi itu juga, wanita tersebut di bawa ke rumah sakit milik Genzo, di bawah pengawasan Samuel dan beberapa penjagaan di sekitar ruangan dan area rumah sakit. Mereka tidak mau, kejadian masa lalu berulang lagi. Terlepas wanita itu adalah Aira atau bukan, Genzo tetap waspada dan memberikan penjagaan ketat.


Genzo sendiri pergi ke sekolah seperti biasa, tapi kali ini ada yang beda. Nampak Alexa berdiri di depan pintu gerbang sekolah, menunggu kedatangan Genzo.


"Kau sedang apa?" tanya Genzo berdiri di hadapan Alexa.


"Aku menunggumu," ucap gadis itu pelan, kepalanya tertunduk sembari membenarkan letak kaca matanya.


"Menungguku?" ucap Genzo mengulang.


"Aku minta maaf atas kejadian tempo hari, seharusnya aku tidak meninggalkanmu tanpa mengucapkan terima kasih." Jelas Alexa malu malu.


"Sudah, lupakan!" sahut Genzo menarik tangan Alexa memasuki halaman sekolah, dan mereka berpas pasan dengan Ariela. Gadis itu nampak murung, sekilas melirik ke arah Genzo lalu ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Dia kenapa?" tanya Genzo dalam hati. Tidak biasanya sikap Ariela cuek jika bertemu Genzo. Namun Genzo mengabaikan akan sikap Ariela. Mereka kembali berjalan memasuki kelas.


Ruangan kelas nampak hening, jam pelajaran di mulai. Detik berlalu, jam terus berputar, dan akhinya bel pun berbunyi tanda jam istirahat di mulai. Genzo mengajak Kitaro dan Alexa untuk makan siang di kantin. Alexa tidak menolak kali ini, ia merasa tidak enak hati karena Genzo selalu membantunya. Begitu juga Genzo, ia merasa kasihan dengan Alexa karena sering di bully teman teman sekelas termasuk Ariela.


Sesampainya di kantin, Genzo memesan makanan untuk mereka bertiga. Tak jauh dari tempat mereka duduk, nampak Ariela bersama kawan kawannya makan siang di kantin itu juga. Sesekali Genzo melirik ke arah Ariela, gadus itu nampak beda sejak dari pagi, raut wajahnya terlihat murung. Tak lama kemudian, Ariela nampak meninggalkan teman temannya tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.


Genzo yang sedari tadi memperhatikan ikut berdiri dan memutuskan untuk mengusul Ariela. "Kalian tunggu dulu di sini," ucap Genzo lalu ia beranjak pergi.


"Ariel!" panggil Genzo.


Namun gadis itu hanya menoleh sekilas lalu mempercepat langkah kakinya. Genzo ikut mempercepat langkahnya saat Ariela coba menghindari.


"Tunggu dulu!" seru Genzo menarik tangan Ariela mundur ke belakang.


"Ada apa?!" tanyanya dengan nada bergetar dan matanya terlihat berkaca kaca.


"Apakah kau baik baik saja?" tanya Genzo.


"Aku baik baik saja! awas! jangan ganggu aku!" gadis itu menepis tangan Genzo lalu berlari meninggalkannya.


"Ada apa dengannya?" tanya Genzo pada dirinya sendiri. "Sudahlah." Genzo kembali melangkahkan kakinya menuju kantin.


Sementara Ariela terus berlari ke taman sekolah sembari menangis lalu duduk di bamgku taman.


"Bagus! itu namanya adik yang baik!" sapa seseorang dari arah belakang.


Ariela menoleh ke arah suara, nampak Sean berdiri di belakangnya.


"Aku sudah lakukan apa maumu! jangan sakiti Genzo!" seru Ariela kesal, lalu ia berdiri dan berlari kembali masuk ke dalam kelas.