
Hari pernikahan telah tiba. Semua anggota keluarga telah bersiap siap untuk melangsungkan pernikahan Ryu dan Davira. Nampak Angela dan suaminya sudah rapi. Begitu juga dengan Zoya dan Jiro beserta putri kecilnya. Sementara Kenzi tengah berbincang dengan Yu dan dua sahabatnya Siena berikut Samuel.
Sementara Ryu duduk menghadap cermin. Menatap pantulan wajahnya. Seketika dadanya terkesiap, bayangan masa lalu tiba tiba saja hadir di benaknya. Ryu memejamkan matanya, mengeratkan kepalan tangan. Masih hangat dalam ingatannya hari hari kelam, suara tangisan, peluru yang berdesing. Jeritan pilu, darah dan air mata. Hingga ia harus kehilangan kakinya. Namun ia masih beruntung, memiliki sosok ibu yang luar biasa. Wanita biasa, penakut dan di bawah tekana. Berubah menjadi wanita luar biasa demi melindungi keluarganya, putra putrinya.
Sehebat hebatnya seorang laki laki tetap ia akan membutuhkan sosok istri yang hebat di belakangnya. Keluarga dan sosok Ibu dua hal yang tidak dapat di pisahkan. Seorang suami tetap butuh sosok istri, butuh keluarga untuk pulang. Begitupula dengan seorang anak, butuh sosok Ibu. Ibu selalu meneduhkan, Ibu selalu memberi. Sosok Ibu layaknya hutan, sosok ibu jelmaan alam semesta yang selalu memberi kasih tanpa mengeluh.
"Ibu..." ucap Ryu pelan membuka mata dan tersenyum memandang cermin. Nampak Siena memeluknya dari belakang.
"Semua akan baik baik saja sayang, percayalah. Tidak ada satupun yang akan kubiarkan melukai putra putriku."
"Ya Bu.."
Ryu berdiri, memutar tubuhnya menggenggam erat kedua tangan Siena.
"I love you."
Siena tersenyum mendekatkan wajahnya mencium kening Ryu dengan dalam.
"Ayo, semua sudah menunggu."
Ryu menganggukkan kepalanya, lalu bergandengan tangan bersama Siena keluar dari kamar, menemui yang lain.
"Sudah siap?" tanya Kenzi menatap ke arah Ryu.
Saat pernikahan tengah berlangsung, ia keluar dari ruangan bersama dua sahabatnya. Menghubungi anak buahnya untuk berjaga jaga. Meski semua telah usai, tapi naluri seorang Ibu selalu ingin yang terbaik. Masih ada ganjalan dalam hati soal Aranza, putra Avram yang menghilang bak di telan bumi. Setelah memerintahkan anak buahnya, Siena kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengikuti jalannya pernikahan Ryu.
***
Pernikahan Ryu telah selesai, semua menyambut anggota keluarga yang baru. Kebahagiaan mereka semakin lengkap. Namun Siena masih punya rasa was was. Teringan tentang Aranza yang di kabarkan hilang tanpa ada jejaknya meski anak buah Siena sudah mencari informasi keberadaannya.
Namun Siena tidak ingin larut dalam pikirannya justru akan membuat yang lain khawatir. Ia memilih diam dan ikut berbaur bersama yang lain. Menikmati kebahagiaannya bersama keluarga kecilnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Siena mendongakkan wajah menatap Kenzi yang memeluknya dari belakang.
"Tidak ada."
"Kau jangan bohong, aku tahu kau tidak bisa bohong." Kenzi memutar tubuh Siena supaya menghadapnya. Menatap kedua bola mata Siena dengan dalam. Jelas di matanya terlihat ada yang ia pikirkan.
"Aku tahu, tidak mudah kau percaya padaku lagi. Dan aku tahu, tidak mudah kau berbagi lagi denganku. Tapi Siena, aku mohon katakan apa yang menjadi keresahanmu jika itu menyangkut putra putriku. Izinkan aku ikut mengambil alih tanggungjawab yang selama ini kau pikul sendirian," ungkap Kenzi panjang lebar.
"Tidak ada sayang, kau tidak perlu khawatir. Aku baik baik saja," sahut Siena memeluk erat Kenzi.