
Pertemuan penting dengan melibatkan pihak berjalan dengan tegang, pasalnya banyak pihak yang tidak setuju dengan rencana Dokter Ryu. Namun ia tetap bersikeras akan melawan dan menyuarakan pada semua lapisan masyarakat untuk tidak mengkonsumsi obat obatan narkotika. Berbagai agenda rencana Dokter Ryu kemukakan, ada yang menyambut gembira pemikiran Ryu dan mereka mendukung sepenuhnya. Setelah semua selesai, Ryu memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di halaman gedung, ia terkejut melihat banyak pria kekar sudah berjajar rapi menggunakan setelan jas hitam. Samuel langsung menarik tangan Ryu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Samuel melirik sesaat ke arah mereka yang ternyata sama sama masuk ke dalam mobil. Saat Samuel melajukan mobilnya pun mereka semua mengikuti dari belakang. Awalnya Samuel sangat cemas begitu juga Ryu. Namun pergerakan mereka bukan untuk melukai Dokter Ryu. Lebih tepatnya mengawal, Ryu penasaran mengapa mereka membuntuti mereka. Bahkan mobil yang mereka tumpangi ada di depan dua, disamping kiri dan kanan, juga di belakang.
"Sepertinya mereka orang suruhan Ibumu." Samuel mulai merasa tenang.
"Sepertinya begitu, paman." Ryu menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, hatinya tenang mendapatkan pengawalan dari Ibunya.
"Ibu..." ucapnya pelan.
Setiap kali ia terbayang wajah Siena, menyebut namanha. Hatinya terasa perih, dan air matapun menetes.
"Andai kutahu takdir memisahkan kita dengan cara seperti ini, tak mungkin kusia siakan waktu kebersamaan kita dulu dengan ulah bodohku," rutuk Ryu pada dirinya sendiri.
Samuel hanya diam memperhatikan Ryu di balik kaca spion.
Tak lama mereka telah sampai di depan rumah. Ryu keluar dari pintu mobil bersama Samuel. Mereka berdua menoleh ke arah iring iringan mobil yang mengawal. Dari kejauhan mereka membungkuk hormat pada Ryu, lalu mereka kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan tempat.
Ryu menghela napas panjang, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan semangat baru. Pertemuannya dengan Siena meski sekilas cukup untuk mengobati rasa rindunya.
Langkah Ryu terhenti menatap ke dalam ruang keluarga. Ia melihat wanita itu, Angela dan Kenzi tengah bermain dengan putri kecil Zoya.
Kenzi yang menyadari kehadiran Ryu, ia berdiri dan menghampiri Ryu, namun Ryu langsung balik badan melangkah menuju kamarnya. Di ikuti Kenzi dari belakang.
"Nak.." sapa Kenzi berdiri di belakang Ryu menatap punggungnya.
"Ada apa?" tanya Ryu balik tanpa menoleh ke arah Kenzi.
"Nak, Ayah ingin bicara denganmu.."
Ryu memutar tubuhnya menatap tajam Kenzi yang berjalan mendekatinya. Saat ini yang ada di pikiran Ryu membenci dirinya sendiri telah membuat kesalahan lagi.
"Mau bicara apa? katakan," ucap Ryu dingin.
"Nak, apa Ayah melakukan kesalahan?" tanya Kenzi hati hati sekali.
"Kau tidak salah, aku yang salah."
"Apa maksudmu?" tanya Kenzi balik.
Ryu tersenyum sinis menatap tajam Kenzi. Ia berjalan satu langkah mendekati Kenzi.
"Kesalahanku adalah memintamu kembali kerumah, hingga Ibu pergi meninggalkan kami semua." Ryu berusaha menahan gejolak emosi di dalam dadanya, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang. Tapi tetap saja tidak bisa, saat nama Siena di sebut. Emosi Ryu seakan meledak ledak.
"Pecat wanita itu, biar aku meminta suster di rumah sakit untuk membantu kak Zoya merawat bayinya," ungkap Ryu tegas.
"Tapi Nak, apa salah dia?" tanya Kenzi bingung.
"Terus saja bela wanita itu, kenapa Ayah tidak mengerti perasaanku? kenapa Yah? oh atau jangan jangan Ayah mulai menyukai wanita itu? katakan padaku Yah!
" Ryu, aku-?"
"Sampai kapan Ayah menyakiti hati Ibu! sampai kapan Ayah akan terus mengkhianati Ibu! jawab Yah!
" Ryu, dengar-?'
"Apa salah Ibu? apa?!" tatap Ryu tajam. "Aku menyesal meminta Ibu membawamu pulang, Ayah memang egois!"
"Plakk!
Ryu tidak menduga mendapat tamparan keras dari Kenzi, tangannya memegang pipi menatap marah pada ayahnya sendiri.
" Dengarkan aku bicara, aku tidak akan menikahi wanita manapun, cukup sekali Ayah melakukan kesalahan."
"Kontraangggg!!"
Ryu melemparkan tongkatnya kelantai, menatap marah Kenzi.
"KALAU BEGITU, PECAT WANITA ITU SEKARANG JUGA!" Jerit Ryu hingga terdengar saudaranya yang lain.
"Kakak! kakak jangan egois, kenapa harus menyalahkan Kak Mei!"
"Diam kau! kau tidak tahu apa apa anak kecil!" sungut Ryu semakin marah. Karena Angela lebih peduli wanita itu dari pada perasaan kakaknya.
"Ryu, jika itu maumu. Baik, Ayah akan memecatnya sekarang juga." Kenzi menarik napas panjang, ia tidak mau suasana rumah menjadi tegang dan rumit lagi.
"Ryu! apa apan kau ini!" seru Jiro masuk ke dalam kamar bersama Mei Chan yang menggendong putri Zoya.
"Apa kau masih buta?" Ryu semakin geram. "Selama ini apa yang terjadi pada Ibu? apa kau sudah melupakan Ibu kita kak!!
" Tapi kau tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa Ibu, dia wanita baik baik, dan kami semua sudah nyaman. Dia mampu membantu semua pekerjaan di rumah ini." Jiro tidak setuju dengan usul Ryu.
"Baik, jika itu mau kalian, dan kau kak," tunjuk Ryu pada Jiro. "Kakiku cacat, wajah Ibu hancur, Om Adelfo mati. Semua gara gara kebodohanmu, jangan sampai kau mengulang kebodohanmu hingga kau akan menyesal seumur hidupmu. Dan saat penyesalan itu tiba, kau benar benar sudah kehilangan aku dan Ibu. Permintaan Maafmu sampai matipun sudah tidak dapat di dengar lagi. Ingat Itu!!!" pekik Ryu, dengan langkah tertatih ia berjalan keluar meninggalkan mereka.
"Jiro, sebaiknha kau pecat dia. Ayah tidak mau kehilangan lagi." Kenzi berlalu meninggalkan kamar.