THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Hari ini, Ryu memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya. Selain itu, Ryu juga memutuskan untuk mewariskan seluruh harta dan perusahaan termasuk rumah sakit yang ia miliki, akan di berikan pada putra tunggalnya yaitu Genzo kecil. Tetapi semua harta warisan itu akan menjadi milik Genzo jika usianya genap 17 tahun.


Bersama pengacaranya ia membuat pernyataan, mewariskan semua hartanya untuk Genzo. Di saksikan oleh salah satu orang kepercayaan Ryu yang bernama Cristoper.


Cristopher sendiri berasal dari Amerika, salah satu tunawisma yang di angkat saudara oleh Ryu, dan dia sendiri di tugaskan untuk menjaga Genzo kecil menggantikan posisi Samuel yang sudah berusia senja.


Setelah membuat surat wasiat bersama pengacaranya, Ryu menemui beberapa mantan anak buah Siena dulu yang masih setia menunggu markas Siloa tempat dulu mereka dan Siena berkumpul. Ryu meminta mereka untuk menjaga putra kecilnya dan Davira. Karena esok, ia harus pergi ke Negara lain untuk urusan pekerjaan.


"Tuan, kau jangan khawatir. Kami akan menjaga tuan muda dengan nyawa kami!" sahut mereka serempak.


"Terima kasih, aku percayakan keluargaku pada kalian." Ryu membungkukkan badannya sesaat. Setelah memberikan perintah, ia kembali ke rumahnya dengan perasaan lega.


***


Sesampainya di rumah, ia langsung menuju ruang kerjanya. Ia juga memindahkan semua data rahasia dan hasil penemuannya ke dalam sebuah chip. Lalu chip itu ia masukkan ke dalam ponsel miliknya dengan menggunakan kata sandi tanggal kelahiran Genzo. Setelah semua selesai, semua dokumen penting dan ponsel itu ia simpan di tempat rahasia, di balik dinding terdapat brankas di mana ia menyimpan semua file rahasianya.


"Sayang, apa yang sedang kau kerjakan?" sapa Davira berdiri di ambang pintu.


Ryu menoleh sesaat, lalu ia berdiri dan menghampiri istrinya. Menarik pinggang Davira dan mendekapnya erat.


"Tidak ada sayang, aku hanya menyimpan beberapa dokumen itu saja," jawab Ryu sembari mencium pipi Davira sekilas.


"Jadi? besok kau berangkat?" tanya Davira, tangannya melingkar di leher Ryu.


"Iya sayang, aku tidak lama. Hanya satu minggu saja."


"Baiklah, yang penting kau jaga kesehatanmu dan hati hati." Davira menyandarkan kepalanya di dada Ryu. "Aku pasti merindukanmu."


"Aku juga sayang," sahut Ryu membalas pelukan Davira.


"Ayah! Ibu!'


Davira melepas pelukannya menoleh ke arah Genzo. Lalu ia mengangkat tubuh Genzo dan memangkunya. " Ada apa sayang?" tanya Davira mencium pipi Genzo dengan gemas.


"Ibu, turunkan aku. Sekarang aku sudah besar."


"Baiklah sayang." Davira menurunkan tubuh Genzo.


"Bagaimana kalau kita main di taman?" tawar Ryu pada Genzo.


"Mau, Ayah! ayo!" Genzo menarik tangan Ryu keluar dari ruangan. Sementara Davira ngeloyor ke dapur untuk mengambil teh dan cemilan. Setelah itu ia menyusul suami dan anaknya pergi ke taman di samping rumahnya.


"Sayang? siapa mereka?" tanya Davira meletakkan nampan di atas meja, menatap ke arah beberapa pria yang berjaga di setiap sudut rumah Ryu.


"Mereka anak buah Ibu dulu, aku sengaja meminta mereka untuk menjaga kalian," jawab Ryu.


Davira menarik napas panjang, lalu ia duduk di samping kanan Genzo.


"Sayang, ayo di makan kue nya," Tawar Davira pada Ryu dan Genzo.


"Ayah, kalau aku sudah besar. Mau seperti oma sama opa! tunjuk Genzo ke arah matahari yang mulai tenggelam, menyisakan semburat oranye.


" Apa kau tidak ingin menjadi seperti Ayahmu?" tanya Davira mencubit gemas hidung Genzo.


"Oya?" tanya Ryu mencium puncak kepala Genzo.


"Aku ingin seperti oma dan opa biar bisa melindungi kalian, dan aku mau menjadi Dokter supaya bisa menyembuhkan kalian kalau sakit!" ucapnya lagi dengan polos.


Ryu dan Davira terdiam dan saling pandang, penuturan Genzo seolah olah mengingatkan mereka tentang masa lalu dan masa depan yang belum pasti. Namun keduanya kembali menepis dan menganggap apa yang di ucapkan Genzo hanyalah kepolosan anak anak saja.


Tawa canda terlontar indah di taman itu, momen yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Waktu terus berlalu, hari mulai gelap. Mereka pun masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.


Genzo kelelahan hingga ia tertidur pulas lebih awal. Sementara Davira mempersiapkan pakaian Ryu dan di masukkan ke dalam koper.


"Sayang, kata kata Genzo membuatku khawatir," ucap Davira memecah keheningan di kamar itu.


"Jangan kau ambil hati, Genzo masih kecil. Ia bisa bicara apa saja tanpa berpikir dulu layaknya orang dewasa." Timpal Ryu menenangkan hati Davira.


"Tapi sayang-?"


"Sudahlah, sebaiknya kita tidur." Potong Ryu. Ia berdiri menghampiri Davira dan memeluknya erat. "Selagi putra kita tidur, aku mau bersenang senang denganmu sayang."


Davira tersenyum lalu menarik tangan Ryu naik ke atas tempat tidur. Kamar itu, menjadi saksi bisu apapun yang mereka lakukan.


***


Keesokan paginya, Ryu sudah bersiap siap untuk pergi ke Bandara. Sebelum ia berangjat, ia habiskan waktu beberapa menit bersama putranya.


"Dengarkan Ayah, selama Ayah pergi. Jaga Ibumu dan jadilah anak yang baik."


"Tentu Ayah, semua pesan Ayah akan selalu kuingat!" jawab Genzo kecil, lalu ia menciumi wajah Ryu sampai puas. "Ayah cepat kembali!"


"Iya sayang, kau tunggu di rumah. Ayah pergi dulu." Ryu mengusap puncak kepala Genzo.


"Sayang, kau tunggu di rumah. Ibu antarkan Ayahmu dulu." Sela Davira.


"Iya Bu!" sahut Genzo.


Ryu berjalan bersama Davira menuju halaman rumah. Sementara Genzo duduk di kursi teras rumah memperhatikan kepergian mereka berdua. Ia melambaikan tangannya saat mobil yang membawa kedua orangtuanya melaju meninggalkan rumah.


"Ayah! cepat kembali!" teriak Genzo tersenyum melambaikan tangannya.


"Tuan Muda, sebaiknya kau menunggu di dalam," ucap Cristoper berdiri di hadapan Genzo.


"Tidak Paman, aku menunggu Ibu di sini!" Genzo kecil menolak untuk masuk ke dalam rumah. Ia memilih bermain game di ponsel miliknya sembari menunggu Davira pulang.


"Tik tik tik!"


Jam dinding terus berbunyi, pagi telah menjelma sore. Namun Davira tak kunjung pulang. Cristoper memerintahkan beberapa penjaga untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Davira. Berkali kali ia menghubungi Davira maupun Ryu, namun sambungan telpon mereka tidak ada yang aktif.


Cristoper membujuk Genzo untuk masuk ke dalam rumah. Meski ia kesulitan merayu anak itu, namun akhirnya Genzo kelelahan setelah seharian menunggu Ibunya pulang.


Tak lama kemudian dua penjaga yang di perintahkan Cristoper kembalu dengan tangan kosong. Cristoper terdiam cukup lama setelah mendapatkan informasi dari mereka berdua.