
"Kenalkan, dia istriku." Kata Genzo memperkenalkan Althea kepada Kitaro dan Althea.
"Halo!" sapa Althea megulurkan tangannya ke arah Kitaro dan Ariela.
"Althea."
"Althea, kau cantik sekali." Kata Ariela membalas jabatan tangan Althea, lalu mengusap perut Althea.
"Terima kasih!" sahut Althea tersenyum.
"Kau memang sahabat yang keterlaluan, punya istri cantik baru sekarang kau kenalkan kepada kami. Lalu bagaimana dengan Alexa?" tanya Kitaro.
Genzo terdiam, melirik ke arah Althea sesaat. Saat ini, ia tidak ingin menyakiti perasaan istrinya.
"Aku sudah memutuskan segala hal yang berhubungan Alexa." Timpal Genzo.
"Keputusan yang tepat. Tapi aku tidak yakin hidupmu akan tenang, hahahaha!" Kitaro menimpali di iringi tertawa kencang.
"Aku ambilkan teh, kalian tunggu sebentar." Sela Althea dan berlalu dari hadapan mereka.
"Lalu siapa mereka yang telah menyerang ke rumahmu?" tanya Ariela.
Genzo menarik napas dalam dalam, lalu menceritakan awal mula kejadian malam itu, di mana ia telah membunuh salah satu anak gengster terkenal di kota tersebut.
"Masalah besar akan segera datang." Ucap Kitaro.
"Ya kau benar!" sahut Genzo.
"Tapi tenang saja, kami di pihakmu. Kalau kau butuh bantuan, hubungi kami." Tawar Kitaro sambil menepuk bahu Genzo.
"Terima kasih, kalian sahabat terbaikku. Aku sempat takut kehilangan kalian saat kita terpisahkan." Genzo mengingat masa lalunya.
"Kau tidak perlu memikirkan masa lalu, yang harus kau hadapi masalah besar yang akan segera datang." Ariela kembali mengingatkan.
"Kau benar!" sahut Genzo lagi.
Saat mereka tengah berbincang, Althea datang membawa kopi dan cemilan di atas nampan. Lalu mempersilahkan mereka duduk.
"Kau kenal Genzo di mana?" goda Ariela.
"Tidak sengaja tapi punya anak!" seru Kitaro menimpali ucapan Ariela.
"Bukan mauku." Sahut Althea datar.
Kitaro dan Ariela terdiam, menatap tajam ke arah Genzo. Namun Genzo hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Kemudian Ariela dan Kitaro tersenyum menatap ke arah Althea. Bukan hal yang mengejutkan jika pernikahan mereka bukan kesengajaan, siapa yang tak kenal Genzo?
***
Malam di panti jompo.
Seperti dugaan Genzo sebelumnya. Ketua gengster itu akan menghabisi keluargany. Malam ini masih sama seperti malam biasanya.
Kenzi dan Siena tertidur di sofa di depan televisi yang menyala. Sementara mereka betdua tertidur lelap, menggunakan selimut.
Dua pria berjalan mengendap di lorong panti jompo. Langkah mereka terhenti di depan kamar di mana Kenzi dan Siena tengah tertidur, lalu mereka membuka pintu kamar dan berjalan perlahan mendekati mereka berdua. Berdiri tegap dengan senjata api mengarah ke mereka berdua.
Namun meski usia mereka sudah tidak muda lagi, mereka berdua mampu menangkap pergerakan yang halus sekalipun. Kenzi dan Siena membuka mata, menatap kedua pria yang sudah berdiri di hadapannya dengan senjata api di tangan kedua pria tersebut.
"Klik!"
Kedua pria itu menarik pelatuk, namun belum sempat mereka menembak. Dengan sigap, Kenzi dan Siena mengeluarkan senjata api di balik selimutnya
"Dor dor!"
Peluru menembus perut kedua pria itu, salah satu tewas di tempat sementara satu pria lagi masih bernapas dan berteriak.
"Arrgg!!"
Suara teriakan pria tersebut, membangunkan satpam panti jompo yang tertidur tak jauh dari kamar Kenzi. Pria tersebut langsung berlari kemar Kenzi dan membuka pintu.
"Tuan, kau sedang menonton film perang? tolong kecilkan sedikit." Pinta pria itu lalu kembali menutup pintu.
"Dor!"
Satu peluru menembus dada pria yang sedari tadi di bekap mulutnya oleh Kenzi. Keduanya tewas, lalu Kenzi dan Siean saling tatap dan tersenyum puas.
"Jangan remehkan kami para orang tua." kata Kenzi.