
Bel berbunyi tanda jam pelajaran telah usai. Genzo berdiri hendak mendekati Alexa. Namun gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan ruang kelas. Genzo kembali diam memperhatikan Alexa hingga hilang dari balik pintu.
"Sejak kapan kau perduli pada seorang perempuan? tanya Kitaro pada Genzo. " Jangan jangan, kau sudah jatuh cinta?" bisiknya pelan di telinga Genzo, lalu tertawa lebar menggoda sahabatnya.
"Ah sudahlah, ayo kita pulang!" ajak Genzo pada Kitaro.
Genzo berjalan bersama keluar dari ruangan kelas. Nampak halaman sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang masih ada di halaman sekolah.
"Aku duluan ya!" ucap Kitaro saat mobil jemputannya sudah tiba.
"Ya! sahut Genzo menyandarkan tubuhnya di pintu gerbang sekolah. Sesekali ia melirik jam tangannya. " Tumben, paman telat menjemputku," gumamnya pelan. Lalu ia edarkan pandangannya ke sekitar jalan raya. Matanya menyipit menatap ke arah sebrang jalan.
"Alexa?"
Genzo berdiri tegap, lalu melangkahkan kakinya hendak menyebrang jalan. Setelah di pastikan aman, lalu ia menyebrang jalan menghampiri Alexa yang tengah bersama sekelompok pria. Terlihat Ariela di antara mereka.
"Alexa!" seru Genzo.
Gadis itu menoleh ke belakang, begitu juga sekelompok pria itu dan Ariela.
"Genzo?" sapa Ariela terkejut melihat kedatangan Genzo.
"Sedang apa kau disini?" tanya Genzo melirik ke arah Alexa sesaat, lalu mengalihkan pandangannya pada Ariela dan yang lain.
"Oh, jadi ini? yang namanya Genzo?" tanya salah satu pria maju mendekati Genzo.
"Sean! jangan sakiti dia!" cegah Ariela menarik tangan Sean yang tak lain adalah kakak kandungnya.
"Diam kau! Sean menepis tangan Ariela dengan tatapan sinis ke arah Genzo. " Berani sekali kau menolak adikku? apakah kau tidak tahu, siapa kami?" ucapnya dengan nada angkuh.
Genzo hanya diam menatap tajam Sean. Ia menarik mundur tangan Alexa supaya menjauh dari mereka.
"Atau kau cari mati?" Sean tersenyum mencemooh.
"Sean jangan!" cegah Ariela menarik tangan kakaknya supaya tidak menyakiti Genzo.
"Jawab! apa kau bisu?!" ucapnya lagi dengan nada tinggi.
"Aku tidak perduli kalian siapa, itu tidak penting bagiku. Tapi, jika kalian menyakiti Alexa, itu menjadi urusanku." Genzo menjawab dengan tatapan dingin ke arah Sean.
"Kurang ajar!" Sean mendorong tubuh Genzo ke belakang, ia merasa di tantang oleh ucapan Genzo. "Kita lihat, apa kau bisa pulang dalam keadaan selamat? atau bersujud di kakiku memohon untuk nyawamu, hahahaha!" Sean tertawa terbahak bahak di ikuti oleh kawan kawannya ikut tertawa.
"Aku terima tantangannmu!"
Sean berhenti tertawa, begitu juga kawan kawannya. Ia melangkah mundur ke belakang dan memberikan kode pada kawan kawannya untuk maju ke depan.
Sementara Genzo melepas tas punggung, dan jaket yang ia kenakan, lalu di letakkan di bawah kakinya. Tersenyum dan menatap tajam ke arah mereka.
"Habisi dia!" perintah Sean.
"Sean, aku mohon jangan lakukan itu padanya. Aku menyukai Genzo!" rengek Ariela namun Sean mengabaikannya.
Perkelahian satu lawan tujuh orang pria sekaligus, tidak membuat nyali Genzo menciut. Dengan gerakan santai, ia menepis setiap pukulan mereka tanpa ada rasa takut.
Sementara Alexa berdiri terpaku, memperhatikan Genzo yang tengah bertarung. Mendekap erat buku di tangannya, sesekali membenarkan letak kaca mata yang ia kenakan.
"Tuhan, lindungi Genzo. Jangan biarkan dia terluka," ucapnya dalam hati.
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari tempat mereka bertarung. Cristoper berdiri di dekat sebuah pohon memperhatikan Genzo melawan tyjuh pria sekaligus. Ia menyandarkan tubuhnya sembari menyalakan sebatang Rokok. Ia hisap dalam dalam rokok itu memperhatikan setiap gerakan Genzo.
"Tidak sia sia aku melatihnya, dia anak yang cerdas dan tangguh," ucapnya pelan. "Tuan Ryu, lihatlah putramu sekarang."
Pertarungan berjalan seimbang, bahkan Genzo berhasil mengalahkan ke tujuh pria tersebut tanpa berhasil menggores kulitnya yang lembut. Sean sendiri tidak percaya, anak buahnya berhasil di kalahkan oleh anak remaja yang duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Mundur!" perintah Sean. "Ingat, urusan kita belum selesai, jangan berpikir aku sudah kalah!" ancam Sean menunjuk ke arah Genzo.
Kemudian ia memetintahkan anak buahnya untuk meninggalkan tempat. Ariela sempat menolak dan tetap ingin berada di dekat Genzo. Namun Sean menarik paksa tangan Ariela untuk ikut pulang bersamanya.
Genzo tersenyum sekilas, mengambil kembali tas dan jaketnya. Namun saat ia memutar tubuhnya, Alexa sudah tidak ada di tempatnya. Genzo mengedarkan pandangannya, tetap saja gadis itu tidak ada, yang terlihat hanyalah Cristoper yang berdiri di dekat pohon besar tengah menatap ke arahnya.
"Paman!"
Genzo berlari mendekati Cristoper dan bertanya tentang Alexa.
"Apakah paman melihatnya?" tanyanya khawatir.
Cristoper tersenyum, menepuk pundak Genzo.
"Dia pulang, kau harus lebih bersabar lagi Tuan Muda!"
Genzo menarik napas dalam dalam mendengar penuturan Cristoper.
"Perempuan mahluk yang unik, perempuan utu ramah tapi sensitif terhadap perasaannya sendiri," ucap Cristoper merangkul bahu Genzo dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Kau benar Paman, perempuan itu rumit, karena mereka lebih banyak menggunakan sisi emosional." Timpal Genzo tertawa.
"Pria lebih melihat sisi rasional, hingga emosional di kesampingkan. Berbeda dengan perempuan yang lebih banyak pertimbangan hingga dianggap lebih rumit!" ucap Cristoper di akhiri tertawa.
"Hahaha kau benar Paman!"
Cara berkomunikasi pria dan wanita berbeda, itulah yang menyebabkan sering terjadi kesalahpahaman. Baik dalam hubungan sepasang kekasih, sahabat, dan suami istri. Perempuan sering tidak mengkomunikadikan apa yang sebenarnya ingin mereka katakan dan berharap pasangannya bisa menangkap apa yang mereka maksud.
Genzo dan Cristoper menyebrang jalan, di sela langkahnya berbicara layaknya mereka sahabat. Ikatan emosional terjadi di antara mereka. Layaknya anak dan ayah, sahabat. Bahkan lebih dari nyawanya sendiri.