
"Pantas saja Ibuku sering menangis, pantas saja Ibuku mengatakan kalau Ayah sudah mati. Ibu tidak ingin anak anaknya tahu, kalau Ayahku ternyata bukan pria yang baik." Angela mengungkapkan semua kekesalannya.
"Kau tahu, ayahmu sekarang salah satu pemimpin Yakuza."
"Yakuza?" Angela melirik ke arah Aranza yang tengah menyetir. "Orang orang Yakuza, pernah menyerang kak Ryu."
"Kapan? apa masalahnya mereka menyerang kakakmu?" Aranza menoleh sesaat ke arah Angela.
"Aku tidak tahu, kak Ryu tidak pernah cerita." Angela menarik napas dalam dalam. "Maaf aku sudah melibatkanmu, kemungkinan Ayah akan membuat perhitungan pada kita."
"Tidak masalah, aku mau kok." Aranza melirik, memberikan senyuman yang menenangkan hati Angela.
Sesampainya di halaman rumah, Angela langsung keluar dari pintu mobil. Ia melambaikan tangan pada Aranza, saat mobil melaju meninggalkan rumahnya.
Angela balik badan menatap rumahnya sesaat lalu ia melangkahkan kakinya memasuki rumah menuju kamar Siena.
Perlahan ia membuka pintu kamar, ia melihat Siena tengah tertidur pulas di atas sofa. Angela berjalan perlahan mendekati Siena lalu jongkok di hadapannya.
"Ibu.." ucapnya dalam hati. Tangannya terulur hendak membenarkan rambut yang menghalangi wajah Siena. Namun tangannya ia tarik kembali, takut mengganggu tidur siang Siena.
"Aku baru tahu, kau telah melewati hari hari yang sangat buruk, kau korbankan dirimu sendiri demi anak anakmu. Ibu, perjuanganmu begitu berat. Maafkan aku selalu merepotkanmu Bu.." gumam Angela dalam hati. Angela tersenyum, dengan sangat pelan ia mencium rambut Siena cukup lama.
Tidak ada kata yang dapat melukiskan, sebait hati telah tergoreskan. Sebuah nama dan seraut wajah paruh baya telah menghuni detak tak bergemeretak, jantung tanpa ruang tertanam satu rasa menyapa, kasih sayangmu Ibu tak terbalas.
Sungguh kagumku atas kesetiaan tanpa noda dan kasih sayang tak kan pernah tertukar, begitu murni tanpa pamrih. Hingga dadamu tak mampu lagi menyimpan lara sekian lama terpendam. Abadi cinta dan kasih sayangmu, meski pedih mengisi relung batinmu. Kau tak ragu memberikan sisa hidupmu demi buah hati dan kesetiaan meski ternoda. Kasihmu sepanjang masa, selama napasmu masih ada, kasihmu abadi.
Angela kembali berdiri tegap, mengusap air mata di sudut netra dengan jarinya. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar kamar, hatinya masih memendam amarah terhadap Kenzi dan Laila.
***
Kenzi yang awalnya hanya menganggap Aranza dan Angela hanya anak anak, berubah menjadi sangat marah dan mencurigai wanita bertopeng itu adalah dalangnya untuk menghancurkan hidupnya dan Laila.
Kenzi duduk di ruang markas Crips di temani Hernet dan Livian menunggu anak buahnya memberikan informasi yang dia butuhkan.
"Informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Kenzi pada seorang pria yang berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk.
"Bos.' Pria itu tengadahkan wajahnya menatap Kenzi lalu memberikan informasi yang sudah di dapatkan.
" Katakan!" ujar Kenzi.
"Aranza, pria berusia 22 tahun, putra Avram. Avram sendiri salah satu pria yang memiliki jabatan penting di pemerintahan. Sementara Angela adalah adik dari seorang Dokter cacat yang bernama Ryu. Alamat rumah mereka berhasil kami lacak Bos!"
"Ryu.." ucap Kenzi dalam hati, ia tertegun sesaat mendengar nama putranya di sebut. Namun ia meragukan kalau Dokter Ryu yang di maksud anak buahnya adalah putranya. Setahu Kenzi, Ryu tidak cacat.
"Bagus, kau boleh pergi!"
"Siap Bos!" pria itu balik badan dan meninggalkan ruangan.
"Ryu dokter cacat yang di incar ketua Lim bukan?" tanya Hernet.
"Benar," sela Livian.
"Tapi dia bukan Ryu putramu Kenzi, karena dokter itu cacat meski dari wajahnya hampir mirip." Sambung Hernet.
"Aku tidak ada urusan dengan Dokter cacat itu, tapi adiknya yang bernama Angela juga si Aranza itu harus bertanggungjawab telah melenyapkan calon anakku." Kenzi semakin geram. "Aku akan buat perhitungan, ini bukan masalah sepele. Kuyakin, ada dalangnya."