
Sesampainya di rumah sakit. Kenzi keluar dari pintu mobil. Mereka langsung membawa Zoya ke ruang persalinan. Sementara Kenzi dan Jiro menunggu di luar ruangan dengan cemas.
"Kak, Ayah!"
Kenzi dan Jiro menoleh ke arah Ryu dan Samuel yang baru saja datang.
"Bagaimana dengan kakak?" tanya Ryu.
"Belum tahu Nak," sahut Kenzi.
"Tenang kak, kak Zoya pasti baik baik saja." Ryu menenangkan kakaknya, yang tak berhenti berjalan mondar mandir.
Ryu merangkul bahu Jiro untuk duduk di kursi, tapi sebelum mereka duduk. Dari dalam ruangan terdengar suara tangisan bayi cukup kencang.
"Anakku!" Jiro menatap Ryu tersenyum lebar.
"Iya kak." Ryu menoleh ke arah pintu ruangan sesaat.
"Ayah, aku sudah menjadi Ayah!" Jiro langsung meneluk Kenzi bahagia.
"Iya nak, aku sudah menjadi kakek," imbuh Kenzi tersenyum mengusap punggung Jiro.
Tak lama suara pintu ruangan di buka dari dalam. Mereka semua langsung menghampiri Dokter Lin Lin
"Dok? bagaiaman istri saya?" tanya Jiro sudah tidak sabar.
"Dokter Ryu, selamat anda menjadi seorang paman. Tuan Jiro, anda mendapatkan seorang putri yang cantik. Tuan Kenzi, anda sekarang menjadi seorang kakek."
"Dokter, terima kasih," ucap Ryu.
"Sama sama Dok, silahkan masuk." Dokter Lin Lin mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.
"Sayang. " Jiro langsung menghampiri Zoya dan mencium keningnya dengan dalam. "Terima kasih." Zoya menganggukkan kepalanya tersenyum.
"Selamat ya Nak.." Kenzi memberikan ucapan selamat dan untaian doa untuk sang bayi.
"Kakak, aku sudah jadi paman." Ryu tersenyum menatap Zoya dengan mata berkaca kaca, ia teringat Ibunya.
"Kau cepat menyusul Ryu," ucap Zoya menggoda Ryu.
Mereka masih bisa berbahagia meski tidak ada Siena di tengah tengah mereka. Namun tanpa mereka sadari, kelancaran dan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini, semua karena Siena. Wanita tangguh dan Ibu terbaik yang mereka miliki, rela mengorbankan apa saja demi keluarganya.
Di atas senyum kebahagiaan menyambut keluarga baru yang tengah mereka rasakan saat ini. Ada seorang Ibu luar biasa tengah mempertaruhkan nyawanya demi kenyamanan, ketenangan dan kebahagiaan keluarganya.
"BUKKK!!"
Tangan Siena mengepal langsung meninju wajah Laila hingga tersungkur ke jalan. Siena langsung balik badan menghadap Laila yang mencoba bangun dan berdiri tegap menghadap Siena dengan tatapan marah sembari mengusap pelipisnya yang berdarah.
Laila kembali menerjang, kaki kanannya di angkat menendang wajah Siena.
"Buk!"
Sasaran Laila mengenai udara, Siena berhasil menghindar. Namun terjangan kaki Laila berikutnya berhasil mengenai pelipis Siena. Darah segar mengalir membasahi wajahnya. Siena tersenyum sinis menatap Laila, mengusap darah di hidungnya dengan jari lalu menjilatnya sembari tertawa lebar.
"Manis, semanis nyawamu yang akan mati sebentar lagi," ucap Siena mencibir.
"Bermimpilah!"
Laila berlari mendekati Siena yang berdiri tegap, meninju wajah Siena berkali kali. Namun wanita itu tidak bergeming sama sekali. "Puaskan amarahmu wanita iblis!" ucap Siena pelan. Namun membuat Laila semakin di kuasai amarah.
"BUK! BUK!"
Laila meninju perut Siena dua kali hingga terhuyung ke belakang, namun detik berikutnya wanita itu memutar tubuhnya melayangkan kaki kananya ke wajah Laila hingga ambruk ke jalan darah segar mengalir dari hidung Laila. Siena kembali maju menarik kerah baju Laila dan mengangkatnya supaya berdiri.
"Bukk!! tangan Siena mengepal menghajar mulut dan hidung Laila hingga terjengkang ke belakang dan terjatuh. Belum puas Siena menyiksa Laila. Ia kembali menarik tangan Laila, namun di saat bersamaan dua buah mobil melaju dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak tubuh Siena andai dia tidak berlari menghindar.
" DOR! DOR! DOR!"
Salah satu pria dari dalam mobil menarik tubuh Laila masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi, di ikuti mobil lainnya. Sementara anak buah Laila langsung masuk kembali ke dalam mobil meninggalkan lokasi.
"Avram, kau pikir aku tidak tahu siapa kau." Gumam Siena menatap mobil musuh meninggalkan tempat.
"Mereka selalu kabur jika sudah kepepet," ujar Keenan berdiri di samping Siena di ikuti Rei.
"Siap dia? Hernet?" tanya Rei.
"Bukan, dia bos utama geng Crips," sahut Siena sembari menyeka darah di wajahnya.
"Kalian tetap waspada dan berjaga di rumah keluargaku di kejauhan. Dan yang lain menyebar untuk memata matai mereka! perintah Siena pada anak buahnya
" Siap Bos!" sahut mereka serempak.
"Ayo kita pulang, kau obati lukamu." Keenan menarik tangan Siena, kemudian mereka meninggalkan lokasi.