THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Seorang anak remaja, duduk termenung di kursi teras rumahnya. Menatap ke arah pintu gerbang berharap seseorang yang ia tunggu selama 17 tahun lamanya kembali ke rumah.


Anak remaja itu tidak lain adalah Genzo. Tujuh belas tahun lamanya sejak kepergian Davira mengantarkan Ryu ke Bandara. Sampai hari ini, ia tidak mengetahui keberadaan orangtuanya. Genzo masih tetap setia duduk di kursi teras rumah menunggu kedatangan orang tuanya. Selama tujuh belas tahun lamanya ia lakukan tiap hari selepas pulang sekolah. Ia akan beranjak dari kursi teras rumah kalau sudah lelah menanti.


"Tuan Muda, saatnya anda berangkat sekolah." Cristoper membungkukkan badannya sesaat.


"Paman, aku mau sekolah. Tapi ada syaratnya," pinta Genzo.


"Silahkan Tuan Muda!"


"Kau boleh mengawalku, tapi jangan terlalu dekat."


Cristoper terdiam sesaat, menatap wajah rupawan anak remaja di hadapannya.


"Baiklah Tuan Muda, aku mengikuti perintahmu!"


"Bagus, sekarang aku mau berangkat sekolah." Genzo berdiri, lalu mengambil tas yang tergeletak di atas meja. "Kita berangkat!"


"Baik Tuan!"


***


Cristoper menepikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolah.


"Tuan Muda, kita sudah sampai," ucap Cristoper menoleh ke belakang.


"Kau tidak perlu keluar, aku bisa sendiri," jawab Genzo. Ia membuka pintu mobil lalu keluar, Genzo berdiri di depan pintu sekolah menatap baliho yang bertuliskan Suzuran High School


Tersungging senyum di sudut bibirnya, ia lepas kaca mata hitam yang ia kenakan lalu di lemparkan ke dalam mobil lewat kaca jendela yang terbuka. Saat kakinya mulai melangkah memasuki gerbang sekolah, terdengar suara riuh anak perempuan menatap ke arahnya.


Namun Genzo tidak terpengaruh sama sekali, ia berjalan dengan santai menuju lorong sekolah.


"Woyyy!!


Genzo berjengkit kaget, saat salah satu sahabatnya menepuk pundaknya dari belakang.


" Kau?" ucap Genzo menatap jengah sahabatnya yang bernama Kitaro.


"Tumben, kau datang lebih awal?" tanyanya berjalan mundur menghadap ke arah Genzo.


"Bukkk!"


Kitaro yang berjalan mundur, menabrak seorang anak perempuan yang berjalan berlawanan arah. Beruntung dengan sigap, Genzo menarik tangan anak peremouan itu supaya tidak terjatuh.


"Maaf, maaf, aku tidak sengaja!" ucap Kitaro membungkukkan badannya di hadapan anak perempuan yang menggunakan kaca mata tebal dan rambutnya di kepang.


Anak perempuan itu hanya menggelengkan kepala, sembari mendekap erat buku di tangannya. Lalu ia berlalu dari hadapan Genzo dan Kitaro tanpa bicara sepatah katapun.


"Makanya, kalau jalan lihat lihat," gerutu Genzo mentapa jengah Kitaro, lalu ia kembali berjalan bersama Kitaro.


"Aku baru melihat anak perempuan itu." Kitaro mengerutkan dahi mengingat wajah anak tadi. Ia merasa baru melihatnya di sekitar sekolah.


"Aku tidak tahu, dan tidak perduli," kata Genzo datar, lalu ia belok ke kanan masuk ke dalam kelas. Ia memilih bangku yang paling belakang, namun di bangku itu sudah ada yang menempati seorang anak laki laki.


"Pindah! Perintah Genzo pada anak itu.


Melihat siapa yang berbicara, anak laki laki itu langsung berpindah tempat tanpa membantah lagi. Siapa yang tidak kenal Genzo? Satu sekolah pasti mengenal Genzo, anak paling tampan, arogan dan juga dingin, tetapi di sukai oleh anak perempuan. Genzo duduk di kursi itu bersebelahan dengan Kitaro.


Tak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam kelas yang tak lain adalah wali kelas Genzo. Dia datang tidak sendirian, tapi bersama seorang anak perempuan yang menggunakan kaca mata tebal.


" Hei, bukankah itu anak perempuan tadi?" bisik Kitaro di telinga Genzo.


"Aku tidak tahu!" sahut Genzo tanpa memperhatikan ke depan. Ia asik dengan permainan game di ponselnya.


"Anak anak! Kita kedatangan murid baru. Pindahan dari sekolah Pui Ching, silahkan perkenalkan dirimu." Perintah sang guru.


Anak perempuan itu mengangguk cepat, ia benarkan letak kacamatanya lalu mulai memperkenalkan dirinya


"Namaku Alexa mohon bimbingannya!"


Anak itu terdiam memperhatikan teman teman sekelasnya yang hanya tertawa dan saling berbisik.


"Diam!" pekik sang guru. Tiba tiba seisi ruangan menjadi hening. "Silahkan kau duduk, terserah kau mau duduk dengan siapa."


Anak perempuan itu menganggukkan kepalanya, lalu melangkahkan kakinya pelan. Ia melihat bangku kosong di depan Genzo, perlahan ia duduk di bangku itu dan meletakkan tas beserta buku yang ia pegang.


Pelajaranpun di mulai, seluruh murid di ruangan itu memperhatikan guru dan mencatat apa yang di sampaikan, berbeda dengan Genzo yang terus asik dengan permainan game di ponsel miliknya. Hingga tak terasa jam istirahat, bel pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas menuju kantin. Sementara Genzo memilih pulang dan kabur dari sekolah hanya untuk pergi ke Bandara di mana ia kehilangan Ibu dan Ayahnya.