
Hari hari Ryu dan Davira di lewati dengan penuh canda tawa dan kebahagiaan. Hingga tak terasa sembilan bulan masa kandungan Davira. Mereka berdua sangat menanti di mana buah cinta mereka akan lahir ke dunia. Nama untuk calon putra mereka telah di persiapkan. 'Genzo'
Sebagai seorang Ilmuwan terkenal, dan peraih penghargaan dari Pemerintah atas usahanya memberantas narkoba dengan mendirikan sebuah panti rehabilitasi untuk para pecandu narkoba. Ryu menuai kesuksesan dan incaran para mafia yang menginginkannya untuk bekerjasama dalam menciptakan senjata. Namun Ryu menolaknya secara halus, ia tidak ingin terlibat dalam dunia mafia seperti ayahnya. Ryu sudah menemukan keluarga kecil yang membuat hidupnya lebih berarti, seorang wanita yang bisa menerimanya meski cacat.
***
Di suatu pagi yang cerah, saat mereka berdua tengah menikmati sarapan pagi. Tiba tiba saja Davira mengeluhkan perutnya sakit. Tanpa pikir panjang lagi, Ryu membawa Davira ke rumah sakit. Karena ia tahu, kalau Davira akan segera melahirkan putra mereka yang sudah lama di nantikan.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di rumah sakit. Davira langsung di bawa ke ruang persalinan. Sementara Ryu sendiri berada di samping Davira saat persalinan. Davira menginginkan melahirkan putranya dengan cara proses alamiah. Ia sangat ingin tahu, bagaimana perjuangan seorang Ibu saat melahirkan anaknya.
Saat proses persalinan berlangsung, kedua tangan Davira memeluk erat bahu Ryu untuk pertahanan. Sementara Ryu mengarahkan istrinya untuk menarik napas dan mengembuskannya.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa," ucap Ryu memberikan semangat pada Davira. "Tarik napas, hembuskan."
Ryu terus berulang mengatakan itu pada Davira. Hingga detik berikutnya terdengar suara tangisan bayi. Perlahan Davira menarik kedua tangannya, melepaskan rasa lelah setelah melahirkan.
"Terima kasih sayang." Ryu mengecup kening Davira sekilas, lalu ia mengambil tisu di atas meja, menyeka keringat di wajahnya.
Sedetikpun Ryu tidak meninggalkan Davira, hingga proses persalinan selesai. Seorang perawat menghampiri Ryu.
"Dokter, selamat. Anda sudah menjadi seorang Ayah."
"Terima kasih Sus," jawab Ryu menatap wajah seorang bayi yang masih merah dalam pangkuan suster.
Suster memberikan bayi berselimutkan warna putih, dan memberikannya pada Ryu.
"Putraku.." ucap Ryu tersenyum memperhatikan wajah bayi itu. Lalu mengecup keningnya sekilas. Lalu ia berikan bayi itu pada Ibunya.
"Genzo kecilku." Davira tersenyum mengembang, ia cium pipi bayi itu dengan lembut.
"Aku kabari Ibu dan Ayah dulu."
Davira menganggukkan kepalanya, tersenyum memperhatikan Ryu sesaat, lalu pandangannya ia alihkan pada putra kecilnya.
Kabar gembira telah lahirnya putra mereka, Ryu ingin berbagi bersama keluarga dan saudaranya yang lain.Ia menghubungi Jiro dan Angela, tidak lupa ia juga mengabari Kenzi dan Siena. Namun sayang, mereka berdua tidak bisa datang untuk melihat cucu keduanya. Di karenakan usia mereka sudah tidak dapat bepergian jauh, di tambah kondisi Siena yang kurang sehat. Akhirnya Ryu berjanji akan menjenguk mereka dan membawa putranya ke Indonesia.
"Ada apa?" tanya Davira melihat raut wajah Ryu sedih.
"Ibu dan Ayah tidak bisa datang, Ibu sakit."
Ryu duduk di tepi tempat tidur, dengan tatapan ke arah sang bayi.
"Kau jangan sedih, nanti kita sama sama jenguk ayah dan ibu," timpal Davira menenangkan hati suaminya.
"Tentu sayang, tapi setelah kau pulih normal. Dan bayi kita sudah bisa di ajak bepergian jauh."