
"Sayang, bertahanlah." Siena ikut mendorong Brankar bersama suster membawa Ryu masuk ruang UGD.
"Maaf Nyonya, sebaiknya anda tunggu di luar," ucap salah satu suster lalu menutup pintu ruangan.
"Ibu!"
Siena menoleh ke arah Angela yang berlari menghampiri langsung memeluknya. "Kakak kenpa Bu?"
"Ibu belum tahu sayang, sepertinya kakakmu menyembunyikan sakitnya dari kita semua," ucap Siena terisak.
"Bu, kenapa keluarga kita seperti ini?" Angela tengadahkan wajah menatap Siena.
"Ibu-?"
"Tidak bisakah kita hidup bahagia seperti teman temanku yang punya orangtua utuh tanpa pertengkaran dan bayang bayang kematian?" tanya Angela tidak mengerti dengan keluarganya.
"Sayang, nanti kita bicarakan di rumah. Sekarang kita tunggu hasil pemeriksaan kakakmu, oya? Zoya di mana?" tanya Siena.
"Kak Zoya nanti ke sini bareng kak Jiro Bu, tadi baru saja pulang." Angela melepas pelukannya lalu mereka duduk di kursi. Sementara Samuel berdiri tak jauh dari mereka.
Tiga puluh menit berlalu, Dokter keluar dari ruangan dengan tergesa gesa meninggalkan ruangan UGD. Siena menatap Dokter dengan perasaan cemas. Tak kama Dokter kembali masuk ke dalam ruangan bersama Dokter wanita.
"Ibu.. kakak kenapa?" tanya Angela khawatir.
"Ibu tidak tahu sayang."
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan, Siena dan Angela langsung menghampiri.
"Dok, bagaimana dengan putraku?" tanya Siena.
"Putra anda mengidap penyakit kanker Chronic lymphocytic Leukimia Nyonya."
"Ya Tuhan.." ucap Siena lirih.
"Kanker yang di derita putra Nyonya berada di tingkat very high-risk."
"Ryu..putraku.." Siena langsung memeluk Angela.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya."
"Terima kasih Dok." Siena membungkuk hormat, lalu mengajak Angela masuk ke dalam ruangan bersama Samuel.
Dari balik lorong, nampak Kenzi memperhatikan dan mendengarkan semua yang mereka bicarakan.
"Maafkan aku, Nak..aku bukan Ayah yang baik. Seharusnya ini tidak terjadi padamu." Kenzi bergumam lirih. Matanya menoleh ke arah lorong lain. Nampak Jiro dan Zoya berjalan tergesa gesa menuju kamar di mana Ryu di rawat.
"Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum Siena melihatku, aku kembali lagi nanti." Kenzi balik badan melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
***
"Sayang, apa kau butuh sesuatu?" tanya Siena menatap Ryu, alat alat medis terpasang di tubuhnya. Ryu hanya menggelengkan kepala.
"Tidak Bu, aku hanya mau Ayah ada di sini.." jawab Ryu pelan sekali.
"Sayang, tidak adakah permintaan lain selain itu?" tangannya Siena terulur menyentuh pipi Ryu dengan lembut.
"Itu permintaanku satu satunya.."
Siena berdiri tegap menatap sendu putranya. "Haruskah aku meminta Kenzi menemani Ryu?" ucap Siena dalan hati.
"Baiklah sayang, Ibu akan memanggil Ayahmu ke sini." Siena tersenyum getir menatap putranya yang tak pernah merasakan hidup bahagia.
"Janji..."
"Iya sayang, Ibu janji. Sekarang juga Ibu pergi mencari ayahmu." Siena menoleh ke arah Samuel. "Tolong kau jaga putraku, aku segera kembali."
"Baik Nyonya!" sahut Samuel.
Siena tersenyum ke arah Ryu sesaat, lalu bergegas pergi meninggalkan Ryu bersama Samuel.
Sepeninggal Siena, seorang gadis mengetuk pintu ruangan lalu masuk ke dalam kamar Ryu.
"Siapq kau?" tanya Samuel waspada menatap wajah gadis itu bengkak seperti habis di hajar seseorang.
"Aku, Davira temannya Dokter Ryu." Davira membungkukkan badan sesaat, lalu minta izin pada Samuel untuk menemui Ryu.
"Baiklah, tapi kau tidak boleh membuatnya tidak tenang." Samuel mempersilahkan Davira untuk menemui Ryu.
"Dokter.." sapa Davira duduk di kursi besi.
"Kau.." Ryu berusaha membuka matanya menatap gadis di hadapannya. "Kau kenapa?" tanya Ryu menatap wajah Davira lebam lebam.
"Tidak apa apa Dokter, tadi aku ke rumahmu. Tapi kakakmu bilang, kau di rawat disini."
Davira meraih tangan Ryu dan meremasnya pelan. "Kau sakit apa?" tanya gadis itu.
Ryu tersenyum samar, "aku bertanya padamu, kau malah balik bertanya."
Davira tersenyum kecil. "Kau harus bisa bertahan, kau harus sembuh.." ucap Davira memberikan semangat.
"Buat apa aku hidup lebih lama, jika harus melihat orangtuaku berpisah, bertengkar, berkelahi. Tidak ada kedamaian, kenyamanan lagi." Ryu menjawab dengan sangat pelan semua kekecewaannya.
"Tidak, bukan mau mereka. Tentu kau tahu kenapa mereka seperti itu." Davira berusaha menenangkan.
"Tidak ada lagi yang kuharapkan, tidak ada alasanku untuk tetap bertahan dan sembuh." Ryu menatap langit kamar kamar.
"Ada.." sahut Davira.
Ryu menoleh ke arah Davira. "Apa? siapa?"
"Aku.." jawab Davira.
"Kau?"
Davira menganggukkan kepalanya. "Aku menyukaimu dari pertama, izinkan aku untuk mencintaimu sekali saja."
Ryu terdiam menatap gadis di hadapannya, untuk pertama kalinya ada seorang wanita berharap cintanya.