
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Dokter mengizinkan Zoya untuk pulang. Semua anggota keluarga menyambut gembira kehadiran putri kecil di tengah tengah mereka.
Hari berganti, ketidakhadiran Siena di tengah tengah mereka sudah tidak membuat mereka bingung lagi. Lama lama mereka terbiasa tanpa ada Siena lagi, meski ada momen momen tertentu yang selalu mengingatkan mereka pada Siena.
Sementara Kenzi sendiri berusaha mencari keberadaan Siena dan markas Kartel Siloa. Namun ia tidak menemukan mereka tinggal di mana sekarang. Akhirnya Kenzi memutuskan untuk kembali bekerja dengan normal untuk membiayai Angela kuliah dan kebutuhan mereka. Selain itu, Kenzi berusaha untuk menggantikan semua tugas Siena sebagai seorang Ibu sebelum ia berangkat bekerja.
"Ayah, aku tidak susu hangat. Aku mau teh saja, dan ini..aku tidak suka selai kacang." Protes Angela karena sarapan yang di sajikan Kenzi semuanya salah tidak seperti Siena yang paham betul kesukaan anak anaknya.
"Maaf sayang, Ayah tidak tahu. Biar Ayah ganti." Kenzi membuatkan lagi sarapan yang baru buat Angela.
"Tidak usah Ayah, biar aku sendiri yang buat," sahut Angela cemberut. Kemudian ia membuat sarapannya sendiri.
"Ayah!
" Iya!" sahut Kenzi menoleh ke arah Ryu yang menghampirinya.
"Ayah tahu di mana dokumen yang semalam kubawa?" tanya Ryu.
"Ayah tidak tahu, kau taruh di mana?" tanya Kenzi yang memang tidak tahu kalau Ryu sedikit teledor dan sering lupa menyimpan pekerjaannya setelah dari rumah sakit karena kelelahan. Biasanya Siena yang merapikannya.
"Aku lupa Yah.." ucap Ryu terdiam sesaat. Lalu dia ingat di mana biasa Siena menyimpan semua pekerjaan Ryu. Ia bergegas kembali ke kamarnya.
"Ayah, aku berangkat dulu." Angela mencium pipi Kenzi sesaat dan berlalu begitu saja.
Kenzi menggelengkan kepala menatap gelas susu di tangan kanannya dan piring berisi roti di tangan kirinya. Lalu ia letakkan di atas meja bergegas keluar dari ruang makan.
Baru saja hendak ke kamar, terdengar suara tangisan bayi di kamar Zoya, terlihat Jiro terburu buru keluar dari kamar memanggil Kenzi.
"Ayah!" seru Jiro menghampiri.
"Iya?"
"Putriku menangis terus, aku tidak tahu kenapa. Di kasih susu tetap saja tidak mau dan terus menangis,' jelas Jiro bingung.
"Coba kita lihat." Kenzi berjalan mengikuti langkah Jiro masuk ke dalam kamar Zoya.
"Ayah, putriku kenapa?" tanya Zoya panik.
"Coba ayah lihat." Kenzi meletakkan tangannya di kening bayi itu. "Panas, mungkin dia kurang sehat. Sebaiknya kita bawa ke Dokter."
"Baik Ayah." Zoya mengangkat bayinya lalu menggendongnya.
"Baik Ayah!"
Akhirnya Kenzi mengantarkan menantu dan bayinya ke rumah sakit. Sempat terpikirkan kalau mereka semua sangat membutuhkan Siena. Tapi ia sendiri tidak tahu di mana dia berada.
"Mungkin aku harus menyewa jasa baby sitter untuk sementara waktu," gumam Kenzi pelan.
***
Sementara itu Siena tengah merencanakan untuk melenyapkan Hernet. Kabar yang ia dapatkan dari mata matanya, Hernet masih hidup sejak penembakan yang di lakukan Siena tempo hari, tapi keadaan Hernet saat ini dalam kondisi koma. Pria itu masih bertahan menggunakan alat alat medis.
Setelah mereka menyusun rencana, lalu bergegas menuju rumah sakit di mana Hernet di rawat.
Sesampainya di halaman rumah sakit. Siena, Rei dan Keenan memperhatikan sekitar, banyak sekali anak buah Hernet di setiap sudut halaman rumah sakit. Siena tidak mungkin keluar memperlihatkan wajahnya. Bisa bisa mereka langsung menyerang.
"Bagaimana ini?" tanya Keenan.
"Tenang saja." Keenan membuka tas berisi alat alat make up wanita dan rambut palsu.
Siena mendandani Keenan dan Rei layaknya wanita. Wajah mereka yang lumayan tampan terlihat seperti perempuan. Sementara Siena menggunakan kumis dan rambut palsu untuk pria. Setelah mereka selesai, make up lalu menukar pakaiannya menggunakan pakaian wanita.
Setelah selesai, mereka bertiga keluar dari pintu mobil. Rei dan Keenan berjalan melenggok bak wanita tersenyum ramah pada musuh yang berjaga jaga. Sementara Siena mencoba untuk berjalan dengan gagah layaknya pria memasuki rumah sakit.
Mereka memutar arah menuju lorong rumah sakit saat melihat Avram dan anak buahnya berjalan keluar dari rumah sakit. Langkah mereka terhenti di ujung lorong rumah sakit, melihat tiga pria berjaga di depan pintu kamar tempat Hernet di rawat.
"Rei dan kau, Keenan. Tugasmu menggoda pria itu. Aku akan masuk ke dalam ruangan." Siena membagi tugas dengan mereka berdua.
"Siap." Mereka menjawab antusias.
Rei dan Keenan berjalan menghampiri tiga pria itu dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. Saat mereka berbincang agaj jauh dari pintu dan membelakanginya. Siena langsung masuk ke dalam ruangan. Tersenyum menyeringai menatap Hernet terbaring tak berdaya dengan alat alat medis terpasang di tubuhnya.
"Baby..aku datang menjemputmu," ucap Siena tersenyum menyeringai.
Perlahan ia mendekati ranjang menatap sesaat wajah Hernet. Lalu membungkukkan badannya. Tersenyum sinis menatap wajah Hernet. Tangannya terulur, perlahan tapi pasti Siena melepaskan Ventilator.
Wanita itu tersenyum lebar saat Ventilator di lepas, wajah Hernet menegang. Matanya terbuka melotot, mulutnya menganga.
Siena terus menikmati wajah Hernet. Ia merasa puas telah menyiksa dan melenyapkan musuhnya satu persatu. Kemudian ia menarik bantal, ia tutup wajah Hernet dengan bantal itu supaya cepat mati. Siena mengalihkan pandangannya ke arah alat Elektrodiorgram, terlihat aktifitas jantung Hernet sudah berhenti. Siena tersenyum menatap tubuh Hernet yang sudah tidak ada pergerakan lagi. Lalu ia kembali mengambil bantalnya di letakkan di bawah kepala Hernet. Setelah memastikan pria itu tewas, Siena menggosokkan telapak tangannya sesaat lalu bergegas keluar ruangan.
Rei dan Keenan yang tengah merayu tiga pria itu, melihat Siena sudah keluar dari ruangan menuju lorong. Mereka berdua mengakhiri sandiwaranya, bergegas menyusul Siena.