THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Sincerity



Kematian Hernet membuat Avram semakin geram. Apalagi dia baru menerima kabar tentang kematian Livian setelah pihak berwajib melalukan penyelidikan panjang.


Keuangan di organisasinya semakin menurun banyak barang barang yang di tahan Bea Cukai. Klien dari kalangan atas pun semakin berkurang kepercayaan mereka terhadap organisasi itu.


"Aku pikir Siena wanita yang mudah aku taklukan. Ternyata kusalah besar." Avram mendengus geram menatap layar monitor di hadapannya.


"Dengan mudah dia membunuh dua orang hebat di sisiku." Avram berpikir keras bagaimana caranya menaklukkan Siena. "Keberadaannya pun sulit di lacak. Dan siapa dua pria tua yang membantunya?"


Avram berdiri dari kursinya mendekati kaca jendela menatap lurus kedepan. "Kenzi bukanlah satu ancaman. Tapi Siena lah yang harus di waspadai, dia lebih berbahaya dari apa yang kukira."


***


Di rumah Dokter Ryu, suasananya menjadi lebih tenang dan nyaman. Terlebih di rumah itu selalu ramai dengan suara tangis sang bayi yang sudah berusia 3 bulan. Mereka bisa hidup normal seperti yang di mimpikan selama ini. Siena memang tidak ada di rumah itu, tapi selalu ada di dalam hati mereka.


Kenzi tidak khawatir lagi ketika keluar rumah untuk mencari Siena. Karena Mei Chan mampu merawat bayi Zoya dengan baik. Tidak hanya itu, wanita tersebut sudah mulai beradaptasi dan di terima dengan baik oleh anak anak Siena. Mei Chan selain membantu merawat bayi Zoya, ia juga bisa mengerjakan hal lain termasuk keperluan Angela dan Kenzi. Mereka mulai menyukai Mei Chan, kecuali Dokter Ryu.


Dokter Ryu mulai resah dengan kehadiran Mei Chan. Meskipun wanita itu sangat baik dan ramah. Tetapi justru itu yang membuat Dokter Ryu khawatir, bukan senjata api yang menempel di kepala yang bisa meruntuhkan sebuah ikatan sekuat apapun. Tapi sosok yang ramah dan baik lebih membahayakan. Ia sangat takut posisi Ibunya akan tergantikan. Namun berkali kali ia menepisnya, Ryu percaya jika keluarganya dan Kenzi tidak akan mengkhianati Siena untuk yang kesekian kalinya.


Di sisi lain ia bahagia, bisa melihat Angela hidup normal pulang dan pergi kemana saja tanpa ada rasa takut lagi mendapat serangan. Joro dan Zoya yang sibuk merencanakan masa depan keluarga dan putri kecilnya. Kenzi yang tanpa lelah mencari Siena meski hasilnya nol.


Kini tidak terdengar lagi suara peluru, tangisan pilu. Teriakan kesakitan dan ketakutan, mimpi buruk yang bertahun tahun mereka alami dan lihat. Darah yang memercik, tubuh yang meregang nyawa. Semua itu telah sirna seperti sebuah keajaiban atau lebih tepatnya mimpi. Mimpi yang hampir saja tidak mungkin mereka dapatkan. Hari hari kelam telah tergantikan dengan kebahagiaan.


Awalnya mereka bertanya 'apa ibu di sudah ditemukan?' Setiap kali Kenzi pulang selepas mencari Siena. Tetapi seiring waktu, lambat laun pertanyaan itu tidak ada lagi keluar dari mulut mereka. Entah mereka lelah atau menganggap Ibunya sudah tiada. Namun bagi Ryu semua itu menjadi kesedihan sendiri. Lebih baik di bayang bayangi kematian asalkan bisa melihat dan bersama ibu tercinta.


Hingga suatu hari, saat mereka tengah makan malam. Seperti biasa Mei Chan mempersiapkan makan malam untuk mereka semua. Dokter Ryu baru saja duduk di kursi dan memgang sendok.


Adiknya Angela, entah itu di ucapkan dengan sadar atau hanya sebuah kekhawatiran Ryu saja.


"Apakah Ayah mau menikah lagi? kalau Ayah mau menikah lagi aku sudah dapat calon yang cocok."


"Trankk!!


Suara sendok beradu dengan piring, membuat yang lain menatap ke arah Ryu.


" Kau kenapa kak?" tanya Angela.


Ryu berdiri menatap kesal semua anggota keluarganya. Mei Chan yang tengah mempersiapkan nasi di atas mangkok Kenzi berjalan mendekati Ryu.


"Tuan, apa kau butuh sesuatu?" tanya Mei Chan.


Ryu menoleh menatap benci wanita itu. "Tidak perlu sok manis didepanku," ucap Ryu kasar. "Kalian semua, aku benci kalian semua!" Ryu langsung mengambil tongkatnya dan berlalu begitu saja.


Kenzi berdiri memanggil Ryu. "Nak!"


Namun Ryu terus melangkah meninggalkan ruang makan. Kenzi kembali duduk dan termenung, ia mengerti kenapa Ryu seperti itu.


"Apa aku salah bicara?" tanya Angela pada Kenzi.


"Sudah, kalian makan. Biar Ayah yang urus nanti." Kenzi kembali duduk menemani anak anaknya makan.


Sementara Ryu di kamarnya duduk di depan cermin menatap foto Siena di tangannya. Air mata menetes dengan deras membasahi foto Siena.


"Ibu...aku rindu.." ucap Dokter Ryu lirih.


"Kau di mana Ibu.." ucapnya terisak. Lalu ia meletakkan foto itu di atas meja. Mengambil buku Diary dan balpoin. Ryu selalu mengungkapkan semua isi hatinya di buku itu. Bahkan semua tentang Siena dan kerinduannya akan sosok Ibu terhebat yang ia miliki.


Sebaris puisi ku tulis seuntai doa untukmu Ibu. Kugoreskan nama dan wajahmu, sejengkalpun tak pernah pudar dalam detak jantung, erat tersemat sebuah nama. Bangga kumemanggil namamu Ibu.


Mungkin kau tak lagi hadir di sisiku, namun kau tetap di hatiku Ibu, kesetiaan ini kuberikan berharap keabadiaan dalam peluk rindumu Ibu yang berlalu di ujung waktu. Terhenti di terkam luka, yang menyembulkan kepedihan yang semakin menghujam.


Ibu..


Saat seperti ini, kala bayang wajahmu datang menyapa..


Waktu terasa berputar kebelakang mengingat masa kecilku..


Tetesan keringat dan air mata, perjuanganmu melawan maut demi melahirkanku..


Setelah kudewasa kau persembahkan hidup dan matimu hanya untukku..


Kau ajariku berjalan, kau resah saat kumenangis kala malam tiba..


Kau ajariku semua rupa dan warna..


kau ajariku makna kehidupan..


Sampai saat ini kasihmu tak pernah pudar..


kau korbankan dirimu untukku..


Kutuliskan kata cinta untukmu meski tak mampu untuk membayar semua yang telah kau berikan untukku..


Kasihmu..cintamu..serupa serenade tasbih semestaNya, untuk tetap bertahan dalam keikhlasan..


Ketulusanmu..sungguh kukagum atas kesetiaanmu Ibu..


Tanpa benih noda tak tertukar dengan apapun di dunia ini..


Ketulusanmu Ibu..serupa pelangi, sesuci air penuh berkah bermandikan doa dan puja..


"Ibu...


Jari jemari Ryu berhenti menulis. Dadanya sesak tak mampu lagi menyimpan lara, malam ini pecah tangisan itu serupa pesta air mata.