
Setelah sekian lama hidup di dunia hitam. Genzo mulai berfikir ingin hidup tenang bersama keluarga kecilnya yang baru saja terbentuk. Benih cinta hadir di dalam hatinya, meski Althea masih menjaga jarak dengannya. Genzo memakluminya karena semua itu salahnya dia.
Genzo mengutarakan keinginannya kepada Kenzi dan Siena. Ia meminta pendapat, apa yang harus di lakukan untuk menyelesaikan masalah barunya dengan salah satu kepala genster yang terkenal kejam dan menghalalkan segala cara.
Kenzi dan Siena menyarankan untuk menggunakan strategi otak, otot, musnahkan. Tidak lupa, mereka juga meminta Genzo untuk melibatkan ayahnya juga dua sahabatnya kitaro dan Ariela untuk membantunya. Siena dan Kenzi berpesan kepada Genzo untuk menggunakan cara cara lama lagi, yang hanya akan menimbulkan masalah masalah baru.
"Ingatlah, lakukan semuanya dengan senyap tanpa meninggalkan jejak. Kau harus menumpasnya sampai ke akar akarnya. Jika tidak, mereka akan tumbuh lagi bak jamur. Meski kejahatan di muka tidak akan hilang, setidaknya kau memberikan jeda kepada semuanya untuk melihat kebaikan dan keindahan." Ungkap Kenzi panjang lebar.
"Keluarga hal utama yang harus kau perjuangkan. Kerjasama menjadi tim yang baik akan membuat kau semakin kuat dalam menghadapi situasi apapun." Timpal Siena.
"Kalian benar." Kata Genzo.
"Pulanglah, segera lakukan. Istrimu jangan kau libatkan, biar dia tenang." Pesan Siena.
Genzo menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dan membungkukkan badan. Mencium kening kakek dan neneknya, dan beranjak pergi untuk menemui Kitaro dan Ariela.
****
Di pertemuan rahasia itu, tiga sahabat saling berbagi tugas dan merencanakan siasat yang matang untuk menghabisi gembong gengster. Tidak hanya itu, Genzo menyerahkan bukti bukti yang selama ini pihak berwajib cari, tentang catatan kejahatan gembong gengster tersebut.
"Bukti ini akan aku serahkan kepada pihak kepolisian, setelah kita membereskan masalahmu. Jika aku berikan sekarang, yang aku khawatirkan terjadi kecurangan." Usul Kitaro.
"Biar kusimpan di brangkasku untuk sementara, sekarang ini yang kita perlukan siasat jitu." Timpal Ariela.
"Aku suka gaya kalian, tidak salah kumemiliki sahabat seperti kalian." Puji Genzo.
"Sekarang kau pulang, amankan keluargamu terlebih dahulu. Setelah itu kita bekerja, kita bertemu nanti malam." Usul Kitaro.
"Oke!" sahut Genzo. Kemudian ia beranjak pergi dari hadapan mereka, kembali pulang kerumahnya.
Hanya butuh tiga puluh menit saja. Genzo telah sampai di rumahnya. Dan bergegas menemui Ryu untuk membantunya memasang berbagai perangkap dari berbagai sudut rumah dan halamannya. Setelah itu ia meminta Davira untuk berkemas, segera meninggalkan rumah itu ke tempat persembunyian sementara.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu?" tanya Althea menatap tajam ke arah Genzo.
Genzo menarik napas dalam dalam, meraih kedua tangan Althea, meremasnya pelan lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Maafkan semua kesalahanku, maafkan aku yang sudah menyakiti perasaanmu. Aku ingin perbaiki semuanya, dan memulai semuanya dari awal bersamamu. Apa kau mau?" tanya Genzo menatap kedua bola mata Althea.
Sesaat Althea terdiam, menatap kedua bola mata Genzo dan mencari kesungguhan. Detik berikutnya Althea tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih sayang." Kata Genzo memeluk erat Althea, dengan segenap perasaan yang ia miliki.
"Sekarang kau harus ikut dengan ibu, bersembunyi di tempat aman. Dan jangan keluar sebelum aku datang, apa kau paham?"
"Tapi kau harus kembali padaku, ingatlah..tidak hanya aku yang menunggumu. Tapi ada putra kita yang menunggu kau pulang kembali ke rumah dengan selamat." Kata Althea.
"Aku berjanji!" sahut Genzo, lalu mencium bibir Althea cukup lama.
Mereka melangkah bersama menemui Davira. Lalu meninggalkan rumah dengan membawa barang barang yang berharga saja, sementara Ryu memasang jebakan di rumahnya di bantu anak buah Genzo.
Setelah memastikan Davira dan Althea aman. Genzo bergegas menemui Kitaro dan Althea beserta anak buahnya untuk menggiring ketua gengster ke rumah Genzo yang sudah di sediakan berbagai jebakan. Malam itu juga mereka bertiga bergerak cepat, sebelum musuh menyadarinya.
Sesampainya di markas besar mereka. Genzo, kitaro dan Ariela menyerang dari berbagai sisi. Kali ini mereka tidak menggunakan senjata api. Melainkan menyiapkan bahan peledak yang cukup untuk meratakan markas itu dengan tanah.
Di mulai dari Ariela dari arah barat. Melemparkan 5 bahan peledak ke gudang persenjataan ilegal. Bersamaan dengan kitaro dari arah timur, meledakkan gedung pertama. Di mana dalam gedung itu terdapat aktifitas peracik obat obatan terlarang untuk di kirim ke berbagai negara.
Sementara Genzo dari arah utara. Meledakkan gedung kedua bersama pos pos penjagaan dan tempat beristirahat para pembesar mafia dan gengster lainnya.
"DUARRR!!"
"DUARRR!!"
"DUARRR!!!
Suara ledakan terjadi bersamaan, kehancuran terjadi di mana mana, api membumbung tinggi. Mobil pengangkut barang dan senjata, mobil mewah yang terparkir semua meledak bersamaan, asap tebal membumbung tinggi, area tersebut berubah menjadi lautan api.
Suara jeritan, bau daging terbakar semakin menyengat. Genzo, Kitaro, dan Ariela berdiri dari jarak yang cukup jauh, menatap kehancuran markas dan gengster terkenal itu, hingga tak satupun anggota Polisi yang berhasil menangkap mereka.
Setelah memastikan markas itu rata dengan tanah, mereka bertiga bergegas meninggalkan lokasi sebelum Polisi lainnya datang.
Sementara di rumah, Ryu yang berhasil memasang perangkap di setiap sudut rumahnya. Mendapatkan bantuan dari Kenzi dan Sieba, meski pergerakan mereka lamban, namun soal siasat dan jebakan mereka sudah terlatih.
Setelah mereka memasang semua jebakan, mereka bertiga bersembunyi di luar rumah sambil memegang remote kontrol.
"Bagaimana Ayah? apa kau melihat sesuatu?" tanya Ryu.
"Kau nyalakan layar monitor, apa berfungsi?" perintah Kenzi.
Ryu menganggukkan kepalanya, lalu menyalakan layar monitor dihadapannya. Nampak jelas seluruh sudut ruangan yang sudah di pasang cctv.
Detik berlalu mereka menunggu tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain. Detik berikutnya mereka mulai melihat pergerakan mencurigakan dari arah pintu belakang rumah, jendela kamar Genzo. Balkon kamar Ryu dan di berbagai sudut ruangan.
Ryu dan Kenzi, juga Siena tersenyum mengembang saat melihat dua ketua gengster memasuki rumahnya melalu pintu utama.
"Lakukan sekarang!" perintah Kenzi.
Ryu menganggukkan kepalanya, lalu memencet semua tombol yang terhubung ke jebakan yang mereka buat. Nampak di layar monitor, satu persatu musuh ambruk bersimbah darah di lantai, ada yang di kamar Genzo dan sudut ruangan lainnya. Tinggallah dua ketua gengster itu baru nenyadari kalau mereka di jebak. Salah satu ketua gengster yang tak lain adalah Alexa, menatap ke arah cctv, begitu menyadarinya ia memerintahkan ketua gengster yang lain untuk keluar dari rumah tersebut, namun sayang. Ryu memencet tombol merah berkali kali.
"DUARR!! DUARR!! DUARRR DUARR!!"
Ledakan dahsyat secara bersamaan di semua penjuru rumah. Seketika rumah Genzo hancur berantakan rata dengan tanah. Api membakar, membumbung tinggi bersama asap pekat.
Ryu yang bersembunyi di dalam mobil bersama orang tuanya tersenyum puas telah membasmi musuh sampai ke akarnya tanpa harus peperangan dan mengotori tangannya dengan darah musuh.