THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Sepulang sekolah, Genzo mengantarkan Alexa pulang ke rumahnya. Meski gadis itu menolaknya, namun Genzo bersikeras.


"Paman, kita antarkan temanku ke rumahnya." Perintah Genzo.


"Baik Tuan!" sahut Cristoper.


Mobil pun melaju meninggalkan sekolah menuju rumah Alexa. Sepanjang perjalanan anak gadis itu hanya diam mrnundukkan kepala tanpa bicara sepatah katapun. Genzo ikut terdiam memperhatikan jalan raya. Tak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah gang sempit, mobil tidak dapat masuk melalui gang itu. Terpaksa Cristoper menepikan mobilnya di depan gang sempit itu, lalu Genzo dan Alexa keluar dari pintu mobil.


"Paman, kau tunggu di sini."


Cristoper menganggukkan kepalanya, memperhatikan Genzo berjalan bersama dengan gadis itu melalui gang sempit hingga hilang dari belokan.


"Apakah ini rumahmu?" tanya Genzo menatap sebuah rumah kecil terlihat sangat kotor di depannya. Rumah itu terhimpit rumah lainnya yang berukuran sedang.


"Iya!" jawab Alexa. "Terima kasih, sudah mau mengantarkan aku pulang."


"Ayo masuk!" perintah Genzo. "Aku mau lihat rumahmu."


Alexa menganggukkan kepalanya, lalu ia melangkahkan kakinya mendahului Genzo. Alexa menjerit saat membuka pintu rumahnya, nampak seorang pria tua tergeletak tak berdaya di bawah lantai.


"Ayah!" pekiknya berlari menghampiri pria paruh baya itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Genzo ikut membantu Alexa mengangkat tubuh pria paruh baya itu. Wajahnya terlihat lebam lebam seperti habis di pukuli.


"Aku tidak tahu," jawab Alexa. "Ayah, apa yang terjadi?" tanyanya pada pria paruh baya itu.


"Mereka datang lagi," ucap pria itu terbata bata.


"Mereka siapa?" tanya Genzo.


"Kau siapa?" tanya Pria itu menatap ke arah Genzo.


"Dia temanku, yah!" sela Alexa.


"Sudah kubilang, jangan berteman dengan siapapun! Cepat usir dia!" perintah pria itu marah pada Genzo.


"Tapi-?"


"Pergi!" teriak pria itu menunjuk ke arah Genzo.


Genzo menarik napas dalam dalam, lalu ia mundur dan beranjak pergi meninggalkan rumah Alexa dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


Keesokan paginya di sekolah, Genzo mencari keberadaan Alexa. Hari ini, gadis itu tidak masuk sekolah. Genzo berpikir kalau Alexa mungkin sedang kurang enak badan. Namun, hari berikutnya Alexa tidak terlihat lagi di sekolah.


"Kemana Alexa?" gumam Genzo, duduk termenung di ruang kelas.


"Woii, lagi mikirin apa?!" Kitaro menepuk pundak Genzo dan membuyarkan lamunannya.


"Alexa."


"Anak baru itu?" tanya Kitaro duduk di sebelah Genzo.


"Ya!" sahut Genzo.


"Kenapa kau tidak cari tahu ke rumahnya?" usul Kitaro.


'Kau benar, sebaiknya aku ke rumahnya sekarang!" Genzo berdiri, lalu mengambil tasnya dan berlari keluar.


"Genzo!" panggil Kitaro, namun Genzo mengabaikannya. "Masa iya, dia menyukai gadis cupu itu?" gumamnya pelan.


Sementara Genzo pergi ke rumah Alexa tanpa pengawalan Cristoper. Ia menggunakan taksi untuk sampai di rumah Alexa.


Sesampainya di depan rumah gadis itu, ia langsung mengetuk pintu rumah. Namun tidak ada jawaban apapun, perlahan ia menarik tuas pintu dan membukanya perlahan. Betapa terkejutnya Genzo melihat isi rumah yang terlihat sangat berantakan. Nampak Ayah gadis itu terkapar bersimbah darah di lantai. Genzo langsung berlari menghampiri pria itu dan mengangkat tubuhnya ke atas kursi.


"Tuan, apa yang terjadi? di mana Alexa? tanya Genzo pelan.


" To, tolong pu-putriku," ucapnya terbata bata.


"Katakan, di mana Alexa!"


"Me, mereka mem, membawanya pergi.." ucapnya semakin pelan dan nyaris tak terdengar, andai Genzo tidak mendekatkan wajahnya.


"Katakan."


Pria itu berbisik di telinga Genzo, menyebutkan tempat di mana Alexa berada. Ia juga sempat mengatakan alasannya kenapa Alexa di bawa oleh sekelompok orang. Ternyata, selama ini sang Ayah telah menjual putrinya pada seseorang untuk menggantikan uang yang telah ia curi.


Genzo terdiam mendengarkan dengan seksama, ia menarik napas dalam dalam saat pria itu menghembuskan napasnya yang terakhir. Genzo berdiri menatap lama wajah pria itu.


"Orang tua yang tidak bertanggung jawab, tega teganya memperlakukan putrinya sendiri seperti barang," ucap Genzo geram. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.