
Kenzi termenung di balkon kamar. Ia tidak berhenti memikirkan Siena. Ia sadar betapa besar pengorbanan Siena untuknya dan keluarga kecil yang selalu ia coba lindungi.
Dari mengurus anak anak, merawat dan memenuhi kebutuhan putra putrinya. Melindungi nyawa mereka hingga memberikan kebahagiaan yang sama sekali belum pernah ia rasakan. Namun apa yang sudah Kenzi berikan? selain membawanya semakin dalam masuk ke lingkaran hitam dan berakhir perpisahan.
Kenzi menundukkan kepalanya, menangis dalam diam. Menyesali apa yang sudah ia lakukan pada istrinya. Yang dulu sangat ia cintai dan lindungi. Kini hilang entah di mana, jangankan melihat senyum manisnya. Mendengar suaranya pun Kenzi sudah tidak lagi. Kini ia benar benar kehilangan sosok Siena. Wanita yang begitu tulus mencintai dan membetikan hidupnya untuk kebahagiaan Kenzi dan putra putrinya.
"Sayang, kau di mana..aku sangat merindukanmu..aku menyesal sayang, sangat menyesal.." ucap Kenzi terisak.
"Aku mohon pulanglah, maafkan semua kesalahanku..maafkan aku sayang."
Suara pintu kamar di ketuk, Kenzi menoleh sembari mengusap air matanya.
"Masuk!"
Perlahan pintu kamar di buka, nampak Mei Chan menghampiri Kenzi membawakan secangkir kopi di atas nampan.
"Tuan, ini kopinya."
"Letakkan di atas meja,' sahut Kenzi.
Mei Chan meletakkan gelas kopi di atas meja. Lalu menatap Kenzi cukup lama.
" Tuan butuh yang lain?" tanya Mei Chan.
Perlahan Kenzi tengadahkan wajahnya menatap wanita di hadapannya.
"Kau di sini khusus merawat bayi, bukan merawatku. Apa kau paham?" ucap Kenzi sedikit heran.
"Maaf Tuan." wanita itu membungkuk sesaat lalu berpamitan untuk kembali bekerja.
"Ada ada saja," gumam Kenzi.
Kenzi kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Menatap langit dengan tatapan kosong, sementara di balik tembok rumah. Nampak Siena tengah memperhatikan Kenzi yang melamun di balkon kamar yang dulu Siena tempati.
"Kau melamun? apa kau merindukan Laila?" tanya Siena dalam hati terus menatap ke arah Kenzi yang melamun.
Ia kembali teringat masa lalu, saat Kenzi tengah melamun di balkon. Siena pasti langsung duduk di pangkuan Kenzi dan bergelayut manja menggodanya.
"Sayang!" pekik Kenzi dari atas balkon menatap ke arah Siena.
Siena menoleh ke arah Kenzi yang berdiri menatapnya.
"Sial, aku ketahuan!" Siena langsung berlari menuju tepi jalan raya di mana dia menepikan mobilnya.
Kenzi berlari keluar rumah menyusul Siena. Namjn sayang, sesampainya di depan gerbang rumahnya. Siena telah pergi dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.
"Siena!" jerit Kenzi ia berlari menuju tepi jalan raya memperhatikan sekitar sambil terus memanggil Siena.
"Siena! kau di mana!" pekik Kenzi tanpa rasa malu meski di perhatikan orang lain.
"Sayang! jangan pergi! tolong maafkan aku!"
Mata Kenzi terus memperhatikan sekitar, namun ia tidak menemukan Siena. "Aku yakin, itu Siena. Aku tidak mungkin salah."
"Ayah!"
Kenzi menoleh ke belakang, nampak Angela berlari menghampirinya.
"Sayang."
"Ayah ayo pulang, di sini tidak ada Ibu.." ucap Angela sedih. Ia berpikir kalau Kenzi tengah berhalusinasi.
"Tidak sayang, aku melihat Ibumu." Kenzi menolak untuk pulang.
"Aku mohon Ayah, kita pulang." Angela menarik tangan Kenzi.
"Baiklah sayang.." akhirnya Kenzi menyerah dan mengikuti langkah Angela.
"Ayah hanya sedang merindukan Ibu, percayalah kalau Ibu masih mencintai Ayah. Suatu hari nanti Ibu pasti kembali dan memaafkan Ayah. Hanya butuh waktu, itu yang ibu butuhkan saat ini."
Kenzi tersenyum, merangkul bahu Angela. Mereka berdua berjalan bersama kembali ke rumah. Dari jauh Siena keluar dari persembunyiannya menatap punggung mereka berdua dan tersenyum.
"Nak, putriku. Kau sudah dewasa sayang, syukurlah kau sudah menerima ayahmu."