
Pagi pagi sekali Genzo sudah rapi dengan pakaian seragam sekolahnya. Ia berdiri di depan cermin mempeehatikan pantulan wajahnya.
"Aku di abaikan mereka berdua, apa kekuranganku?" gumamnya menatap wajahnya sendiri. "Tidak bisa, kalian tidak bisa mengabaikan Genzo begitu saja."
Ia tersenyum pada bayangannya di cermin. Lalu bergegas keluar dari kamarnya. Dengan tergesa gesa menuruni anak tangga. Karena tidak ingin terlambat, ia sampai meluoakan sarapan bareng kakek dan neneknya.
"Hei, kau tergesa gesa, mau kemana sayang?" tanya Siena menarik tangan Genzo mundur ke belakang.
"Grandma." Genzo tersenyum sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Katakan, hal apa yang membuatmu melupakan kami berdua?" tanya Siena melirik ke arah Kenzi yang baru saja datang dan berdiri di samping Siena.
"Aku..aku ada tugas!" seru Genzo tersenyum lebar.
"Oya?" Siena melirik ke arah Kenzi yang hanya tersenyum. "Tugas atau?"
"Tugas, Grandma, Grandpa! serunya.
" Cup!!"
Genzo mencium pipi Siena sekilas.
"Aku berangkat dulu!" Ia berlari ke luar rumah.
Siena dan Kenzi hanya tersenyum memperhatikan cucunya.
"Mirip kamu sayang," ucap Siena.
"Pasti dong, aku kakeknya." Balas Kenzi, merangkul bahu Siena. Berjalan bersama menemui Aira di kamarnya.
Sesampainya di kamar Aira. Mereka berdua terkejut, melihat Aira tengah berdiri menatap foto kedua orang tuanya yang terpajang di atas meja. Dari bibirnya terucap memanggil Jiro dan Zoya.
"Ayah...Ibu.." ucapnya pelan namun jelas terdengar oleh Kenzi dan Siena.
"Aira sayang.." sapa Siena merangkul bahu Aira. "Apa kau sudah mengingat orang tuamu?"
Aira menoleh ke arah Siena dan Kenzi. Matanya melotot liar menatap mereka berdua.
"Siapa kalian? pergi! pergi!" teriaknya, tangannya ia kibaskan berkali kali. "Jangan bunuh aku! jangan bunuh aku! Ibuuuuu!!! jeritnya histeris mundur kebelakang.
"Sayang, tenanglah..tenang.." ucap Kenzi berjalan perlahan mendekati Aira yang berdiri ketakutan bersandar di dinding.
"Tidak! jangan mendekat! jangan mendekat!"
"Sayang kau mundur!" Siena menarik tangan Kenzi ke belakang. Lalu ia berjalan mendekati Aira, bibirnya mengalun merdu sebuah lagu yang biasa Siena nyanyikan saat Aira masih kecil. "Na..na..na..na..na.."
Perlahan Aira tenang, menatap wajah Siena. Matanya yang liar berubah sendu. Ingatannya berputar ke masa lalu, bayangan wajah Jiro, Zoya, tawa canda dan panggilan sayang kedua orangtuanya terus berputar di otak Aira. Ia menutup kedua telinganya, menggelengkan kepala berkali kali.
"Ibuuu!!! pekiknya histeris, detik berikutnya tubuhnya merosot dan hampir jatuh ke lantai andai saja Kenzi tidak bergerak cepat menangkap tubuh Aira.
" Cucuku!" seru Kenzi memeluknya erat.
"Aku panggil Dokter!"
Siena berlari keluar kamar, sementara Kenzi mengangkat tubuh Aira dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang menggenggam erat tangan Aira.
"Apa yang sudah terjadi padamu, sayang."
Beberapa saat Kenzi menunggu, akhirnya Dokter datang dan memeriksa kondisi Aira. Kenzi dan Siena berdiri di pojok kamar memperhatikan Aira. Tak lama kemudian, Dokter telah selesai memeriksa.
"Bagaimana Dok?" tanya Kenzi cemas.
"Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir, Nona Aira dalam masa pemulihan. Bersabarlah sedikit lagi, Nona Aira pasti sembuh seperti sedia kala," jelas Dokter panjang lebar.
"Terima kasih Dok!"
Dokter menganggukkan kepala, lalu ia pamit undur diri untuk kembali bekerja. Siena dan Kenzi bisa bernapas lega mendengar penjelasan Dokter. Ada harapan besar, Aira bisa sembuh dan bisa mengungkap siapa ya g sudah menyakitinya.
***
Sementara itu di sekolah, Genzo fokus belajar. Membuat Kitaro berkali kali berdecak kagum.
"Wah, wah, wah, sejak kapan Tuan muda menjadi rajin seperti ini?' bisiknya pelan.
"Atau...kau menyerah?" goda Kitaro.
Genzo menoleh ke arah Kitaro, dan menatap horor ke arahnya, lalu kembali fokus ke depan.
Tak lama kemudian bel berbunyi tanda jam istirahat, semua siswa berhamburan keluar menuju kantin.
Di kantin, Genzo dan Kitaro duduk di kursi pojok menghadap ke halaman sekolah. Mereka makan dengan tenang, sesekali Genzo memperhatikan Ariela dan Alexa yang berada tak jauh dari tempat ia duduk, tengah menikmati makan siang. Mata Alexa dan Genzo beradu pandang, tapi gadis itu kembali menundukkan kepala. Sikap Genzo yang acuh tak acuh mengundang perhatian Ariela.
Tiba tiba saja ketenangan di dalam kantin menjadi ricuh, semua siswa yang ada di dalam berhamburan keluar kantin. Genzo dan Kitaro hanya terbengong memperhatikan teman temannya berlarian keluar.
"Ada apa?" tanya Kitaro menatap ke arah Genzo.
"Aku tidak tahu!" sahut Genzo.
Belum hilang rasa bingung mereka, dari arah luar kantin terlihat beberapa pria menggunakan setelan jas putih nampak rapi. Berjalan menghampiri mereka dan berjajar di hadapan Genzo dan Kitaro.
"Ada apa ini?" tanya Kitaro pelan, menyikut lengan Genzo.
Namun Genzo hanya diam dan terlihat santai, seolah tidak terjadi apa apa. Dengan tenang, ia menikmati makan siangnya. Berbeda dengan Kitaro yang mulai ketakutan.
"Halo, Tuan Muda. Apa kabarmu!" sapa seseorang dari arah lain, terlihat berbeda pakaian yang di kenakannya.
Genzo dan Kitaro melirik ke arah suara, namun Genzo kembali fokus dengan makanannya.
"Kitaro, kau pergi dari sini." Perintah Genzo.
"Kau sendiri?" tanya Kitaro balik.
"Kau tidak perlu khawatir, ayo cepat!" perintahnya lagi.
"Baiklah!" sahut Kitaro, berdiri lalu berlari dan bergabung dengan anak anak lain di depan kantin memperhatikan dari jauh.
"Aku suka gayamu, Tuan Muda!" ucap Pria itu mengepulkan asap rokok ke udara.
"Aku tidak kenal kalian!" jawab Genzo acuh.
"Tentu saja kau tidak mengenal kami." Pria tersebut berjalan mendekati Genzo.
"Lalu? kenapa kau masih berada di sini Paman? kau merusak suasana makan siangku," jawab Genzo sembari mengunyah makanan.
Pria itu membungkukkan badan dan berbisik di telinga Genzo.
"Katakan, di mana ayahmu menyimpan dokumen rahasia?"
Genzo terdiam, darahnya berdesir panas. Jantungnya berdetak lebih kencang, saat pria itu menyinggung nama Ryu.
"Dokumen? dokumen apa? aku yakin, ini semua ada hubungan dengan hilangnya ayah dan ibu" gumam Genzo dalam hati.
"Paman, aku tidak mengerti dokumen apa yang kau maksud. Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau aku, anak kemarin sore?" tanya Genzo balik menatap tajam wajah pria tersebut.
"Kau jangan main main anak kecil, jika kau sayang nyawamu. Katakan padaku, di mana Dokter Ryu menyimpan dokumen rahasia itu!"
"Brakkk!!" pria tersebut menggebrak meja.
Genzo tersenyum sinis, lalu berdiri. Ia mendorong tubuh pria itu hingga mundur ke belakang.
"Apa kau tuli Paman? harus berapa kali aku mengatakan?"
"Kau cukup berani, mirip dengan kakekmu. Kenzi." ucap Pria itu dengan nada kesal.
"Tentu saja Paman, dalam darahku mengalir darah kakek dan nenekku. Tentu Paman sendiri tahu, siapa mereka bukan?" tanya Genzo dengan nada cemooh.
"Kurang ajar!" balas pria itu geram.
"Sudahlah Paman, kau mengganggu suasana hatiku."
Genzo melangkahkan kakinya keluar kantin. Di ikuti pri pria tersebut. Sementara anak anak hanya memperhatikan dengan jantung yang berdebar debar.
"Yakuza." Bisik salah satu murid ke telinga Kitaro