
Malam ini Siena dan keluarganya berbahagia meski tadi sempat ada gangguan yang tak mengenakkan hatinya. Namun melihat senyum bahagia putra putrinya rasa kesal di dalam hatinya hilang.
Siena menghela napas panjang, teringat wajah Kenzi yang terlihat lebih segar dari sebelumnya. Lamunannya buyar saat suara pintu balkon kamar di ketuk seseorang dari luar.
"Ada orang? siapa?" gumam Siena pelan. Ia berdiri dari kursi lalu mengambil senjata api yang tergeletak di atas meja, perlahan ia mendekati pintu balkon lalu membukanya perlahan.
"Klik!"
Senjata api ia arahkan pada sosok pria yang ia kenal. "Avram?"
"Ya ini aku." Avram menjawab, sembari menurunkan tangan Siena yang mengarahkan senjata api di tangannya.
"Kau? malam malam di sini? seperti maling?" Siena menatap curiga pada Avram.
Avram tidak menjawab pertanyaan Siena, tangannya merengkuh pinggang Siena dan mendekapnya erat.
"Aku merindukanmu Siena, sangat merindukanmu."
"Kau, apa apan. Lepaskan aku." sahut Siena dengan nada pelan.
"Siena, aku sangat mencintaimu. Aku berusaha untuk menerima keputusanmu. Tapi ternyata aku tidak bisa."
"Avram, aku tidak mencintaimu. Maaf, sebaiknya kau pergi dari rumahku, sebelum anak anakku melihatmu." Siena mendotong tubuh Avram.
"Tapi Siena-?"
"Pergi!" potong Siena.
Avram menarik napas panjang, ia menatap kesal wajah Siena. "Baiklah, aku pergi."
Siena mendengus, lalu kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon.
***
Sepulang dari makan malam, Laila dan Kenzi mendatangi markas menemui Hernet. Mereka semua akan kedatangan Bigbos yang selama ini menjadi pemimpin tertinggi di dua organisasi. Namun pemimpin mereka tidak pernah hadir di tengah tengah mereka, dia hanya mengendalikan dua organisasi itu lewat perintah tanpa tatap muka kecuali di perlukan mendesak.
Selama Kenzi ikut dalam organisasi crips dari jaman ia masih muda, belum pernah sekalipun bertemu dengannya selain dari hernet sebagai bos kedua.
"Cepat kita keruangan." Hernet menatap Laila dan Kenzi.
"Aku belum tahu," sahut Hernet. Sementara Kenzi hanya diam mengikuti saja apa mau mereka.
Mereka bertiga bergegas menemui pemimpin mereka di ruangan tertutup yang tak pernah di gunakan selain pertemuan penting dengan pria tersebut.
Hernet mengetuk pintu ruangan perlahan, setelah mendengar ada suara dari dalam memerintahkan mereka untuk masuk. Kemudian Hernet membuka pintu ruangan. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam ruangan, melihat seorang pria duduk di kursi membelakangi mereka.
"Selamat malam Tuan," sapa Hernet.
"Apa saja yang selama ini kalian kerjakan, sampai sampai keuangan organisasi kita semakin merosot!" ucap pria itu dengan nada tinggi.
"Maaf tuan, semua ini akibat ulah wanita bertopeng itu." Hernet menjawab sembari menundukkan kepala.
"Bodoh! mengendalikan seorang wanita saja kalian tidak bisa! pria itu memutar kursinya menghadap Hernet, Kenzi dan Laila. Bagi Hernet pria itu tidak asing karena sering bertemu selama ia menjadi bos. Tapi tidak bagi Kenzi, untuk pertama kalinya ia bertemu dengan pemimpin mereka.
" Kau Kenzi bukan?" tanya pria itu menatapnya tajam.
"Benar tuan, Kenzi yang dulu pernah membelot." Hernet kembali mengingatkan.
Pria itu tertawa kecil mencemooh. "Bagaimana? bukankah lebih baik bergabung lagi dari pada harus menjadi musuhku, Kenzi?" Pria itu berdiri menghampiri Kenzi.
"Kenzi, aku minta kau periksa file yang ada di ruangan sebelah, dan kau Laila. Tetap di sini bersama Hernet." Perintah pria itu.
Kenzi hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Lalu ia bergegas keluar dari ruangan. Sepeninggal Kenzi mereka membicarakan hal penting yang tak pernah Kenzi duga.
"Bagaimana tuan? apa kau jadi menikahi wanita itu?" tanya Hernet.
Pria itu menatap marah pada Hernet. "Kau meledekku?" tanya pria itu.
"Bukan tuan, bukan maksudku seperti itu." Hernet membungkuk hormat.
"Dia wanita angkuh, tapi aku suka. Dia harus menjadi milikku apapun caranya." Pria itu tertawa terkekeh. "Dia sangat liar dan keras kepala, tapi aku bisa mengendalikannya lewat putrinya, lihat saja nanti. Berani sekali dia menolakku."
Laila dan Hernet saling pandang, mereka ikut tertawa. Tanpa mereka sadari dari balik pintu, Kenzi mendengarkan semua yang mereka bicarakan.
"Wanita mana yang di maksud mereka?" tanya Kenzi dalam hati. Kemudian ia bergegas kembali ke ruangan untuk memeriksa file.