
Keesokan paginya, Jiro menandatangani semua berkas untuk operasi Miko. Setelah selesai, ia terdiam memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang tambahan untuk biaya administrasi.
"Mungkin aku harus ikut pertandingan itu lagi," gumam Jiro.
Jiro memutuskan untuk ikut pertandingan lagi, lalu ia berdiri dan berniat mendaftarkan diri. Ia melangkahkan kakinya, tapi langkahnya terhenti menatap ke ujung lorong rumah sakit. Ia melihat seorang pria dan seorang wanita tengah melintas, perawakannya, rambutnya semua mirip dengan Ryu. Namun yang membuat Jiro tidak yakin kalau itu Ryu. Di lihat dari cara berjalannya tidak normal, terlihat pincang.
"Tidak mungkin itu Ryu, adikku. Ya Tuhan, aku mulai gila," gumamnya pelan. Lalu ia balik badan kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
Apa yang di lihat Jiro tidak salah, Ryu memang tengah bertugas di rumah sakit itu. Selama ini ia bekerja dan mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan seperti cita citanya dulu. Ryu dikenal Dokter yang baik, ramah dan berjiwa penolong. Tidak heran, meski cacat. Banyak wanita yang mengaguminya, selain ia juga tampan. Hingga suatu hari, ada seorang pasien yang menyukai dan selalu berusaha mencari perhatian Ryu, gadis itu bernama Mei mei. Namun Ryu sangat menutup diri, ia tidak mau semakin terluka dan tidak percaya, jika ada wanita yang mau menerimanya dalam keadaan cacat.
Sudah banyak ia kehilangan, dan tidak mau menambah daftar hilangnya orang orang yang ia sayangi.
***
Setelah selesai mendaftarkan diri, Jiro duduk termenung di tepi jalan, ia merasa ragu. Apakah kali ini ia bakalan menang? mengingat lawan yang akan ia hadapi adalah salah satu pria terbaik anak salah satu orang ternama di kota itu dan usianya masih sangat muda.
"Tidak, aku pasti bisa. Aku tidak boleh menyerah, Miko harus sembuh." Jiro menghela napas panjang, tengadahkan wajahnya menatap sekitar.
"Bukankah itu gadis yang malam itu?" ucap Jiro menatap ke arah Angela dan Kyo yang tengah berjalan mendekatinya.
"Kak, kau sedang apa di sini?" tanya Angela.
"Kau? kau tidak sekolah?' Jiro memperhatikan seragam yang mereka kenakan.
"Baru pulang, kak! sahut kyo.
"Aku ikut pertandingan lagi," jelas Jiro pada mereka berdua.
"Horeee! aku pasti mendukungmu kak!" seru Angela.
"Terima kasih." Jiro berdiri. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Kau mau kemana?" tanya Angela, seolah tidak mau di tinggalkan.
"Ke rumah sakit, sahabatku sedang menjalankan operasi."
"Boleh, aku ikut?" gadis itu melipat ke dua tangannya menatap penuh harap.
"Angel, nanti kau di marahi Laura lagi," bisik Kyo tidak setuju. Namun Angela hanya menatap horor Kyo.
"Bawel, kau ikut apa tidak?"
"Ya, baiklah..demi kau. Apa saja aku lakukan." Kyo tertawa kecil saat melihat wajah cemberut Angela.
"Kalau kau mau, silahkan." Jiro menautkan kedua alisnya menatap Angela. Ia tidak mengerti kenapa gadis itu terlihat akrab dan seolah olah sudah kenal lama. Padahal ia baru sekali ketemu dengan Angela.
"Horee! terima kasih kak!" Angela tertawa lebar saat Jiro mengizinkannya ikut. Kemudian mereka bertiga ke rumah sakit menggunakan taksi.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di rumah sakit, di mana Miko sedang menjalankan operasi. Di mana tempat Ryu bekerja selama ini.
"Kau tunggu di sini." Jiro meminta Angela dan Kyo menunggu di depan ruangan Miko di operasi. Sementara Jiro sendiri ke ruang administrasi
"Dia baik ya," ujar Kyo.
Angela menganggukkan kepala, matanya menatap sekitar rumah sakit.
"Angel?"
Angel dan Kyo menoleh ke samping, melihat Ryu sudah berdiri di samping mereka.
"Kak Ryu." Balas Angel
"Kau sedang apa di sini? keluargamu ada yang sakit?" tanya Ryu menatap ke pintu ruangan operasi.
"Tidak kak, aku sedang menjenguk teman." Angela menggelengkan kepala. "Kakak bekerja di sini?" tanya Angela balik.
Ryu menganggukkan kepala. "Iya."
Tiba tiba dari arah lain, seorang suster menghampiri. "Dok, pasien di ruangan 04 membutuhkan Dokter!"
Ryu menganggukkan kepalanya. "Baiklah."
"Angel, aku tugas dulu ya." Ryu menepuk pipi Angela pelan. Lalu ia balik badan melangkah bersama suster.
"Tampan, tapi sayang cacat. Kalau tidak, sudah kupacari!" sahut Angela. Membuat sahabatnya tertawa lebar.
"Otakmu perlu di cuci." Sambil menepuk kening Angela.
"Kau tidak sopan!" seru Angela menepis tangan Kyo, lalu balik memukul lengan kyo.
"Aw, sakit!" pekik Kyo memegang lengannya.
"Hei, kalian kenapa ribut?" tanya Jiro berdiri di belakang mereka. Menatap Angela dan Kyo saling balas memukul.
"Ini kak, dia mulai duluan." tunjuk Angel pada Kyo.
"Enak saja, kau yang mulai. Weee!" Kyo menjulurkan lidahnya ke arah Angel. Membuat gadis itu merajuk, memegang lengan Jiro dan bergelayut manja.
"Jewer dia kak," sungut Angela.
Jiro hanya diam menatap jari jemari gadis itu yang bergelayut manja di lengannya. Ada perasaan hangat menjalar di dalam dadanya. Perasaan hangat yang hilang selama 17 tahun yang lalu. Detik ini, ia merasakan kembali rasa hangat itu, perasaan manja, damai, canda tawa. Mata Jiro berkaca kaca, dan air matanya hampir jatuh. Buru buru ia menyekanya.
"Sudah jangan ribut, kalian sahabat bukan?" Jiro mengusap lembut rambut Angela. Gadis itu tengadahkan wajahnya menatap wajah Jiro. Kedua mata mereka saling beradu, dan saling tatap cukup lama. Perasaan hangat di hati Jiro ia rasakan lagi. Perasaan hangat dan manja, untuk pertama kalinya Angela rasakan.
"Uhuk!" Kyo terbatuk kecil memperhatikan mereka berdua.
"Kakak maaf," ucap Angela menarik tangannya lalu menjauh dari tubuh Jiro.
"Tidak apa apa, anggap saja aku kakakmu." Jiro kembali mengusap puncak kepala Angela tersenyum menatap teduh wajah gadis itu.
***
Sementara Kenzi sendiri harus terlibat masalah dengan seorang wanita yang usianya terpaut jauh. Entah apa yang membuat Laila begitu tergila gila dengan Kenzi. Wanita itu setiap hari mendatangi rumah Kenzi dan memaksanya untuk menerima cintanya.
Kenzi sama sekali tidak bisa berbuat banyak, selain ia punya rasa hutang budi karena telah menyelamatkan nyawanya, juga telah merawatnya selama ini. Kenzi sendiri tidak mungkin menerima Laila yang usianya lebih muda 12 tahun dari kenzi. Apalagi, hatinya sudah ada Siena yang tidak akan pernah tergantikan. Namun, siapa yang tahu tentang masa depan, jodoh, mati dan rejeki?
Laila duduk termenung, memikirkan bagaimana caranya meyakinkan Kenzi, bahwa dirinya bisa di sejajarkan dengan Siena. Ia juga berkali kali mengatakan untuk tidak menunggu Siena karena wanita itu sudah mati.
"Aku harus mencari tahu keberadaan Siena." Laila bangkit dari duduknya, lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah Kenzi untuk mencari informasi secara detail tentang Siena.