THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Nausea



Di tengah perjalanan Siena lupa bertanya di mana Kenzi tinggal, lalu ia menghubungi Samuel. Setelah mendapat infonya kemudian Siena kembali melanjutkan perjalanannya dengan di kawal beberapa anak buahnya.


Sesampainya di halaman rumah Kenzi yang baru, Siena langsung keluar dari pintu mobil menatap ke arah Kenzi yang tengah duduk melamun di teras rumah. Awalnya Siena ragu dan malas untuk melihat wajah Kenzi lagi. Namun ia harus membuang egonya demi putranya yang tengah sakit. Akhirnya ia berjalan menghampiri Kenzi. Terdiam cukup lama menatap Kenzi yang sama sama tengah menatapnya bingung dan senang.


"Siena.." sapa Kenzi berdiri, tangannya terulur ragu ragu untuk menyentuh tangan Siena.


"Jangan senang dulu, aku datang ke sini bukan untuk memintamu kembali. Tapi atas permintaan putramu. Dia mau kau ada di sisinya saat ini." Siena berucap tanpa basa basi, lalu balik badan melangkahkan kakinya.


"Siena tunggu!" Kenzi berjalan tergesa menyusul Siena dan menarik tangannya.


"Apalagi?" tanya Siena dengan dingin.


'Baiklah, aku ikut bersamamu." Kenzi tersenyum menatap Siena yang terlihat sangat acuh.


"Ya sudah tunggu apalagi?"


Namun baru saja Siena hendak masuk ke dalam mobil bersama Kenzi, nampak beberapa mobil memasuki halaman. Siena terdiam memperhatikan beberapa pria dengan senjata api keluar dari dalam mobil dan saling mengarahkan senjata api dengan anak buah Siena.


"Oho, rupanya kalian di sini."


Siena mendengus melihat Hernet dan Laila keluar dari pintu mobil menghampiri mereka.


"Wanita iblis itu lagi," sungut Siena benci sangat membenci Laila.


"Hai sayang, aku sudah tahu semuanya. Kau tidak perlu lagi menyamar." Laila berjalan mendekati Kenzi hendak memeluknya, namun kaki Siena lebih dulu menerjang perut Laila hingga terjungkal.


"Dia milik putraku!"


"Klik!!


" Berani sekali kau menyakiti putriku!" Hernet langsung maju mengarahkan senjatanya pada pelipis Siena. Namun wanita itu hanya tertawa, sama sekali tidak takut di bawah ancaman. Sementara Laila langsung berdiri lagi dan menghampiri Kenzi.


"Jangan sakiti Siena!" bentak Kenzi.


"Aku tidak butuh perlindunganmu!" sahut Siena ketus menatap Kenzi benci.


"Hahaha, berapa nyawa yang kau punya. Sampai kau menantangku." Hernet menarik pelatuknya. Tertawa lebar memperhatikan Siena lalu beralih menatap Kenzi.


"Satu langkah kau mendekat, Siena akan mati." Ancam Hernet pada Kenzi.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Hernet menatap kesal Siena.


'Kau tahu? karena hari ini, aku yang akan mencabut nyawamu!" seiring kata kata terakhir Siena. Tangannya langsung menvengkram tangan Hernet di luar dugaan pria itu. Dengan sigap tangan Siena memutar tangan Hernet ke belakang, lalu menekan jari Hernet yang tengah memegang senjata api.


"DOR! DOR! DOR!!


Siena menarik pelatuknya tiga kali ke punggung Hernet, lalu ia merebut senjatanya dengan satu kaki menendang bokong pria itu hingga tersungkur. Belum puas ia langsung menarik pelatuknya lebih dari tiga kali


" DOR DOR DOR!!"


peluru melesat menembus dada kiri Hernet dan keningnya, pria itu tewas seketika. Laila langsung mengambil senjata apinya lalu di arahkan pada Siena. Namun Kenzi menarik tangan Laila hingga peluru melesat ke udara.


"Dor! Dor!"


"Lepas!" Laila langsung menendang perut Kenzi hingga tersungkur. Wanita itu kembali arahkan senjatanya pada Siena.


"Dor!"


Siena berhasil menghindar, namun peluru itu menggores pelipis Siena. Ia langsung berlari menubruk Laila, saling tarik menarik senjata api di tangan Laila. Sementara anak buah Siena dan Hernet saling baku hantam dan saling menembak.


Kenzi yang sedari tadi memperhatikan langsung membantu Siena menjauhkannya dari Laila lalu ia merebut senjata dari tangan Laila.


"Bunuh dia!" seru Siena.


"Tidak sayang, jangan kau bunuh aku. Kau akan menyesal." Laila menggelengkan kepalanya.


"Bunuh!" pekik Siena.


"Tidak! sebelum kau membunuhku, berarti kau membunuh janin calon anakmu." Laila mengusap perutnya yang rata.


"Tidak mungkin!" seru Kenzi menatap ke arah perut Laila.


"Kalau kau tidak percaya terserah, bunuh saja aku. Tapi asal kau tahu, sebelum kau pergj meninggalkanku. Aku tengah mengandung anakmu lagi." Laila berjalan satu langkah mendekati Kenzi.


Siena menatap benci Kenzi, ia menggelengkan kepalanya. "Aku jijik melihatmu Kenzi!" Siena langsung membuka pintu mobilnya masuk ke dalam lalu melajukan mobilnya meninggalkan mereka.