
Sepeninggal Siena, semua orang terdiam. Tidak ada yang berkata hanya isak tangis terdengar di ruangan itu. Angela kembali ke kamarnya, ia tidak perduli dengan Ayahnya. Gadis itu bersikap acuh bukan tanpa alasan, selain wanita sering menggunakan perasaannya di banding laki laki. Usia Angela yang masih muda dan latar belakang yang tak mengenakkan membuatnya lebih membela Siena di banding saudaranya yang lain.
Samuel yang sedari tadi diam sangat mengerti situasinya, ia terbatuk kecil sebelum akhirnya angkat bicara.
"Sebaiknya Ayah kalian di bawa ke kamar."
Ryu tengadahkan wajahnya menatap Samuel lalu mengangguk, ia menoleh ke arah Jiro sekilas. Lalu mereka berdua mengangkat tubuh Kenzi di bantu Samuel di bawa ke kamar Siena.
"Kak, ambilkan air hangat." Pinta Ryu pada Zoya.
"Tunggu sebentar." Zoya langsung pergi ke dapur.
"Kak, kau tunggu di sini, aku buatkan obat untuk Ayah."
"Iya," sahut Jiro menatap sedih Kenzi yang semakin menggigil, ia peluk Ayahnya dengan erat.
"Kau harus kuat Yah, kau harus bisa keluar dari masalah ini."
Samuel terdiam memperhatikan, tidak ada yang bisa ia perbuat selain bertarung. Lalu ia berpamitan pada Jiro untuk menelpon Yu. Masalah yang du hadapi Kenzi bukan hanya masalah narkotika, tapi masalah keluarga dan dendam pribadi yang akan berbuntut panjang.
Samuel menceritakan itu semua pada Yu, meski ia sendiri belum yakin apa benar yang ia duga. Yu sendiri tidak mengetahui permasalahan yang di hadapi Kenzi. Masalahnya dia ada di Amerika bersama putrinya yang bernama Aira, yang dulu pernah di selamatkan Kenzi dan Siena. Terlebih Kenzi sama sekali tidak pernah menghubunginya selama tujuh belas tahun. Setelah mendengar semua penuturan Samuel. Yu dan putrinya memutuskan untuk pulang ke Hongkong dan membantu Kenzi dan keluarganya keluar dari masalah pelik meski Yu sendiri tidak yakin.
"Paman?" Jiro menoleh ke arah Samuel yang baru saja selesai menghubungi Yu.
"Paman Yu segera pulang." Samuel melirik ke arah Kenzi yang mulai tenang setelah di berikan obat penenang oleh Ryu.
"Kau benar kak, sekarang kita sudah tidak aman lagi." Ryu menimpali.
"Kita harus waspada dan segera bersiap siap, apakah kalian punya senjata api?" tanya Samuel.
"Ada paman, senjata milik ibu. Aku pernah melihatnya di dalam tas." Ryu turun dari atas tempat tidur, lalu jongkok di bawah meja mengambil tas milik Siena yang berisi senjata api.
"Bagus, kalian harus menyimpannya satu untuk berjaga. Kau juga Ryu, Zoya, Jiro." Samuel mengambil tas itu dari tangan Ryu.
"Aku sudah bilang, buat apa kalian nyusahin diri sendiri dengan merawat pria itu!" sungut Angela. "Biarkan saja dia bersama wanita iblis itu, kita aman tidak akan di ganggu mereka." Angela menatap benci pada Kenzi.
"Angela! dia ayahmu, ayah kita!" seru Ryu kesal pada Angela yang masih saja membenci Kenzi.
"Terserah kalian, aku tidak suka melihat pria itu di rumah ini!" Angela sama sekali tidak ingin menyebut Ayah atau Kenzi karena kebenciannya.
Ryu, Jiro hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap adik mereka.
"Kita harus bersabar, dia masih anak anak. Wajar dia seperti itu." Zoya berusaha menjernihkan suasana.
Sementara itu Angela tengah bersiap siap untuk merebut kembali Kenzi dari tangan keluarganya. Rasa cinta yang ia miliki terhadap Kenzi membuatnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Apalagi Hernet, dia tidak mau kalau Kenzi sembuh dan berbalik menyerang, apapun caranya mereka harus tetap membuat Kenzi seperti pria bodoh untuk selamanya.