
Malam pukul 19:30
Untuk pertama kalinya, Genzo bersedia makan malam satu meja dengan Althea. Perubahan sikap Genzo membuat Ryu dan Davira sangat senang, tapi tidak untuk Althea. Dia masih menjaga jarak dan hatinya untuk tidak begitu saja menerima perubahan sikap Genzo yang bisa kapan saja melukai hatinya.
"Habiskan susunya." Kata Genzo seraya menyodorkan gelas susu ke hadapan Althea.
"Terima kasih!" ucap Althea tanpa menoleh ke arah Genzo. Ia menjadi sangat takut untuk sekedar melihat senyuman suaminya sendiri setelah sekian lama mendapatkan sikap angkuh Genzo.
"Althea, aku-?" untuk pertama kalinya, Genzo menyebut nama Althea, harus terputus karena mendengar pergerakan halus yang mencurigakan di luar rumah.
Genzo yang sudah terlatih, seperti Siena dan Kenzi. Sehalus apapun pergerakan itu pasti tahu.
"Ada bahaya, kalian cepat sembunyi!" seru Genzo pelan.
"Ada apa sayang?" tanya Davira lalu berjalan tergesa gesa mengikuti langkah Genzo dan Althea.
"Sepertinya ada bahaya di luar, kita ikuti saja apa kata putra kita." Timpal Ryu.
Kemudian mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah. Genzo berpesan untuk tidak keluar sebelum ia kembali. Rupanya, kematian salah satu anak gengster itu memicu kemarahan sang ayah untuk membalaskan dendam kepada Genzo dan keluarganya.
Setelah memastikan kedua orangtua dan istrinya aman, Genzo kembali ke ruang makan. Lalu bersembunyi di bawah meja, tak lama kemudian ia melihat seorang pria dengan penutup kepala memegang senjata api laras panjang, berjalan menghampiri meja di mana Genzo bersembunyi.
Perlahan Genzo keluar dari tempat persembunyiannya, mengambil tabung gas lalu ia pukulkan ke punggung pria tersebut.
"Bukkk!!"
Pria tersebut tersungkur ke lantai, senjata apinya terlepas dari genggaman tangannya. Belum sempat pria itu bangun, Genzo sudah lebih dulu mencengkram kerah baju pria itu lalu meninju wajahnya tanpa ampun hingga tak sadarkan diri.
Senjata api yang tergeletak di lantai, Genzo ambil. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, mengintip dari balik kaca jendela.
"Brummmm!!"
Beberapa mobil berhenti di luar gerbang halaman rumahnya, sebagian menabrak pintu gerbang hingga menyebabkan kerusakan.
"Dor dor dor!!!"
Baku tembak di halaman rumahnya tak dapat di hindari lagi antara pihak musuh dan anak buahnya yang sudah waspada sejak tadi.
Genzo memecahkan kaca jendela menggunakan senjatanya, lalu melesatkan banyak peluru ke arah musuh yang mencoba masuk ke dalam.
"Dor dor dor!!"
Satu persatu musuh berjatuhan tak bernyawa lagi. Genzo kehabisan peluru, ia balik badan hendak mengambil senjata api di ruang penyimpanan.
"Ini!"
Genzo terdiam sesaat, melihat Althea sudah berdiri di belakangnya dengan dua senjata api di kedua tangannya.
"Kau, aku sudah bilang srmbunyi." Kata Genzo lalu mrngambil senjata api di tangan Althea. "Cepat kau sembunyi!" perintah Genzo menunjuk ke arah lemari besi yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Prankkk!!"
"Brakkk!!"
Pintu di dobrak paksa dari luar, Genzo menarik tangan Althea lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya
"Dor dor dor!!"
Satu persatu musuh yang berusaha masuk tewas seketika sebelum melukai. Genzo menarik tangan Althea, berjalan merunduk ke arah lemari besi.
"Tetap di sini, jangan lakukan apapun tanpa perintahku. Kau paham?"
Althea menganggukkan kepalanya, memperhatikan Genzo berlari ke arah jendela kaca yang sudah rusak. Suara peluru berdesing memekakkan telinga, Althea tetap mengawasi Genzo di balik lemari besi.
"Dor dor dor!!"
"Duarrr!!" terdengar ledakan keras, terlihat api menyala di sertai asap pekat membumbung ke udara.
Tak lama kemudian tak terdengar suara peluru lagi, hanya terdengar teriakan anak buah Genzo yang coba mengejar sebagian musuh yang melarikan diri.
Pandangan Althea teralihkan kepada sosok pria yang keluar dari ruang makan dengan mengarahkan senjata api ke punggung Genzo.
"Dor dor!!" Dua peluru melesat ke arah pria tersebut sebelum menembak punggung Genzo.
Genzo balik badan menatap ke arah Althea yang berdiri tegap dengan senjata api di tangannya. Rupanya Althea yang sudah menembak pria tersebut sebelum melukai Genzo.
"Terima kasih!" ucap Genzo berjalan mendekati Althea. "Kau sudah menyelamatkan nyawaku."
Althea menoleh ke arah Genzo, menurunkan senjata apinya. "Aku hanya melindungi ayah, bayi yang kukandung."
Genzo terdiam menatap punggung Althea yang berlalu begitu saja. "Kenapa aku baru menyadarinya...maafkan aku Al.." gumam Genzo pelan.
Genzo menarik napas dalam dalam, lalu berlari keluar untuk memastikan. Kemudian, ia menghubungi Siena dan Kenzi untuk berhati hati. Tidak menutup kemungkinan mereka akan mengganggu keluarganya yang lain termasuk Angela, Jiro dan istrinya.
Tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi. Genzo sangat terkejut dengan kedatangan mobil patroli. Beruntung, yang datang dua sahabatnya. Kitaro dan Ariela, mereka berdua keluar dari dalam mobil. Memperhatikan rumah yang terlihat sangat kacau dan berantakan.
"Hahaha, kau tidak pernah berubah Genzo!" seru Kitaro tertawa.
"Mau sampai kapan kau menjalani hidup dengan menantang maut?" timpal Ariela.
"Jangan kalian pertanyakan itu, sebaiknya kalian masuk. Aku perkenalkan kalian dengan seseorang." Kata Genzo.
"Siapa?" tanya mereka serempak.
"Istri dan calon anakku." Jawab Genzo untuk pertama kalinya mengakui Althea sebagai istrinya.
"Wah, kau memang sahabat yang keterlaluan. Kenapa kau baru memberitahu kami!" rutuk Kitaro.
"Ayolah!" ajak Genzo, lalu merangkul bahu mereka berdua. Melangkah bersama memasuki rumahnya yang sudah berantakan.