THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Sacrifice



Di tepi jalan Siena menepikan mobilnya, perlahan air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Ternyata aku masih sangat mencintaimu..aku takut kehilanganmu." Kedua tangannya mencengkram stir, tatapan kosong ke depan.


Bertahun tahun hidup dalam bayang bayang kematian, semua rintangan, dan lika liku kehidupan yang pahit ia jalani tanpa ada rasa takut. Nyawa di ujung senapan sedikitpun Siena tidak merasa gentar. Tapi kini ia merasa semakin sangat lemah saat Kenzi semakin menjauh dari hidupnya, dari sisinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanyanya sembari terisak.


Saat Kenzi ada di sampingnya, menjaga dan bersama sama menghadapi musuh, Siena begitu berani dan seakan menantang maut itu sendiri. Namun apa yang terjadi sekarang? ia begitu merasa rapuh. Siena menunduk, menyandarkan kepalanya di stri mobil yang ia cengkram kuat. Ia terdiam cukup lama dan membiarkan dirinya hanyut dalam kenangan masa lalu, semua terbayang dalam ingatannya. Saat saat indah bersama, saat melewati maut bersama. Saat hidup Kenzi, nyawanya, cintanya, Kenzi betikan pada Siena seutuhnya.


Perlahan tapi pasti, wajahnya ia angkat. Matanya melebar menatap ke depan. Sesaat ia terdiam dengan tatapan kosong. Detik berikutnya ia tertawa terbahak bahak.


"HAHAHAHAHAHAHA!"


"HAHAHAHAHAHAHA!"


Tangan kanannya memukul stir mobil sekencang kencangnya sembari terus tertawa terbahak bahak, seiring air matanya berhenti mengalir. Setelah puas tertawa, ia terbatuk kecil berkali kali sembari mengusap sisa jejak air mata di pipinya.


"Aku sadari satu hal, bukan kematian yang aku takutkan. Tapi kehilanganmu yang paling aku takutkan di dunia ini." Siena tersenyum menyeringai dengan tatapan lurus ke depan.


"Aku masih ingat kata katamu dulu, sayang."


'lebih baik aku berikan kau pada binatang buas dari pada kau meninggalkanku'


Itu kata kata Kenzi dulu, kini terngiang jelas di telinga Siena. Wanita itu kembali tertawa terbahak bahak sendiri di dalam mobil.


"Baiklah sayang, tidak ada seorang wanita pun yang boleh memilikimu selain aku, lebih baik kau mati di tanganku. Maka akan merebutmu kembali meski aku harus membunuhmu!" Kembali Siena tertawa, kali ini di sertai air mata. Kalau dulu Kenzi sangat menginginkan Siena hingga harus berkorban banyak. Kali ini giliran Siena untuk kembali bangkit dan merebut Kenzi dari tangan mereka.


"Aku bosan menjadi baik, aku bosan untuk mengalah!" pekiknya lantang.


Lalu ia menyalakan mobilnya dengan tatapan tajam ke depan, mendengus geram.


"Jika keadaan memaksaku untuk menjadi mafia, kenapa tidak?" ucapnya tersenyum menyeringai lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali ke rumah dengan semangat baru, harapan baru.


***


Sementara itu, Kenzi yang tengah duduk di kamarnya sendirian. Sementara Laila tengah mempersiapkan pengangkatan Kenzi sebagai pimpinan yang sah, dan akan segera di lakukan ritual malam nanti.


"Bos..."


Kenzi terkejut mendengar suara yang sangat familiar, ia mencari sumber suara. Kenzi langsung berdiri dan melangkah menuju balkon.


"Bos, kau baik baik saja?" tanya Samuel setengah berbisik, karena takut kedengaran oleh para penjaga di bawah.


"Ya, aku baik baik saja." Kenzi melepas pelukannya, lalu menarik tangan Samuel masuk ke dalam kamar.


"Ada apa kau kesini? kau tahu? itu sangat berbahaya." Kenzi melirik ke arah balkon sesaat.


"Bos, aku datang atas perintah Tuan Ryu." Samuel menjelaskan jika Ryu meminta Samuel untuk memberikan serum yang du buat oleh tangannya sendiri.


"Serum?" Kenzi menatap botol kecil di tangan Samuel.


"Benar Bos, serum ini untuk mengurangi kecanduan Narkotika." Samuel memberikan serum itu pada Kenzi dan memintanya untuk segera meminumnya.


"Ryu putraku, dia sudah menjadi Dokter yang hebat." Kenzi tersenyum, lalu mengambil botol serum dari tangan Samuel.


Samuel terdiam memperhatikan Kenzi menenggak obat yang di berikan putranya sampai habis.


"Tuan Ryu bilang, obat berikutnya akan menyusul. Supaya Bos, benar benar bisa bebas dari obat obatan yang mereka berikan."


"Ryu putraku, aku pikir kau marah padaku," ucap Kenzi pelan, sembari memberikan botol kosong itu pada Samuel.


"Tidak Bos, Tuan Ryu tidak marah. Dia sangat perduli dan sayang sama Bos." Samuel menjelaskan apa yang terjadi di rumah termasuk lamaran Avram pada Siena.


"Pulanglah Bos.." pinta Samuel.


"Tidak Sam, jika aku pulang. Siena belum tentu memaafkanku. Terlebih, mereka akan terus memburuku jika aku kembali." Kenzi menarik napas panjang.


"Biarlah aku di sini, tapi bisa melindungi keluargaku. Dari pada harus berkumpul tapi nyawa anak anakku tidak aman." Kenzi menjelaskan semua alasannya pada Samuel.


"Tapi Nyonya mau menikah."


"Jika itu membuatnya bahagia dan bisa melupakan rasa sakit hatinya. Aku rela, Sam." Kenzi menundukkan kepalanya sesaat.


"Pergilah, sebelum mereka melihatmu."


"Baik Bos!"


Kenzi menarik tangan Samuel menuju pintu rahasia, supaya anak buahnya tidak melihat kedatangan Samuel.