THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Faded



Bagi Siena saat ini adalah keselamatan dan kenyamanan anak anaknya, saat Laila terus membawa Kenzi mundur. Siena sama sekali tidak ingin mencegahnya. Hatinya sudah beku sebeku es antartika yang tidak bisa mencair begitu saja. Namun berbeda dengan Ryu, ia tidak ingin Ayahnya di bawa lagi ke dalam lingkungan mereka. Ia sangat tahu bagaimana kondisi ayahnya saat ini.


"Lepaskan Ayahku!" pekik Ryu merebut senjata Jiro lalu ia arahkan pada Laila.


"Ryu, biarkan wanita itu pergi!" cegah Siena tidak menduga, putranya bisa berbuat yang membahayakan nyawanya.


"Tidak semudah itu nak, walau bagaimanapun aku tetap ibumu juga." Laila tertawa terkekeh menatap Ryu dan Siena.


"Aku tidak takut kehilangan nyawaku, asal Ayahku kembali!" pekik Ryu.


"Ryu cukup!" bentak Jiro khawatir. Pasalnya Ryu sama sekali tidak tahu bagaimana menggunakan senjata apinya.


Dengan tangan gemetar, Ryu menarik pelatuknya mengarahkan senjata apinya pada Laila.


"Lakukan jika kau berani." Laila mengalihkan senjata apinya pada Ryu.


Siena diam terpaku, ia melihat putranya tengah panik di antara keberaniannya yang tidak seberapa untuk merebut Kenzi dari tangan Laila. Perlahan Siena menurunkan senjata apinya mendekati Ryu dan Laila.


"Sudahlah Nak, biarkan mereka membawa Ayahmu."


"Tidak Bu! Ryu tetap bersikeras dengan tatapan tajam ke arah Laila.


Siena menarik napas dalam, lalu kaki kanannya langsung menerjang tangan Laila hingga senjatanya jatuh terpental. Ryu langsung merebut Kenzi dari pelukan Laila. Sementara Siena menghajar Laila tanpa ampun. Anak buah Laila hendak membantu, tapi Samuel, Jiro dan Zoya langsung mengarahkan senjata apinya pada mereka.


" Kenzi milikku!" ujar Laila tersenyum menyeringai menatap Siena.


"Aku tidak perduli!"


"Bukkk!" kembali tangan dan kaki Siena menghantam wajah dan perut Laila hingga tersungkur ke tanah. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Kenzi yang berada dalam dekapan Ryu langsung mendorong tubuh Ryu hingga terjungkal.


"Ayah! pekik Ryu.


Kenzi berlari mendekati Siena lalu menarik tangannya hingga menghadap ke arahnya


" PLAKKK!"


Siena menatap tajam Kenzi, napasnya memburu, dadanya naik turun menahan rasa marah dan sakit hati.


"Kau.." ucap Siena pelan.


"Kita pergi dari sini, cepat!" Kenzi menarik tangan Laila lalu mereka berdua berjalan tergesa gesa meninggalkan Siena yang masih terpaku. Hatinya terasa di cabik cabik, luka di hatinya semakin dalam terhadap Kenzi.


"Ibu, maafkan aku." Ryu merasa bersalah, jika saja ia membiarkan Laila membawa Kenzi. Tentu Siena tidak akan mendapatkan rasa sakit di hatinya lagi.


Siena menoleh ke arah Ryu dengan tatapan tajam, lalu beralih menatap Jiro dan Zoya.


"Kalian puas, tidak hanya Ayahmu. Tapi kalian juga menyakiti perasaan Ibu! ucap Siena marah.


" Kalian tidak butuh Ibu, kalian butuh Ayah kalian." Siena terdiam sesaat. "Baik, Ibu akan pergi, kalian bisa rebut kembali ayahmu dari mereka. Ibu tidak akan membantu kalian lagi!" Siena langsung balik badan melangkahkan kakinya.


"Ibuuu!!" jerit Ryu. Ia berlari mengejar Siena lalu menubruk kaki Siena dan memeluknya erat. "Jangan tinggalkan kami, Bu..!


" Lepaskan! kalian tidak butuh Ibu!" Siena menyeret kakinya, tapi Ryu tetap memeluk erat kaki Siena.


"Tidak Bu, kami membutuhkan Ibu..aku mohon Bu.."


"Bu, maafkan kami Bu." Jiro berdiri di hadapan Siena melipat kedua tangannya. "Kami sangat membutuhkanmu. Kami janji tidak akan membantah apa yang Ibu inginkan."


Tubuh Siena bergetar, ia melempar senjata apinya ke tanah. Lalu ia berteriak histeris, dengan derai air mata turun saling memburu.


"Ahhkkkk!!"


Siena menjatuhkan tubuhnya di tanah lalu menangis sejadi jadinya. Ryu beringsut memeluk Siena, di ikuti Jiro dan Zoya.


"Maafkan kami Bu.."


Samuel balik badan, tengadahkan wajahnya menatap langit, berusaha untuk tidak menangis.


"Tuan Surya, Akira, Yeng Chen. Kalian beruntung lebih dulu meninggalkan dunia ini. Lihatlah, aku tidak sanggup melihat keluarga ini semakin hancur," ucap Samuel dalam hati.