
"Rupanya kau menantang kami, anak muda!" seru pria itu.
Genzo menghentikan langkahnya, ia menoleh dan memutar tubuhnya menghadap pria tadi.
"Paman, kau salah paham. Mana berani aku menantangmu." Balas Genzo dengan santai.
"Kau sama seperti kakekmu, tapi sayang..." pria itu tertawa terkekeh menoleh ke arah anak buahnya. "Kakekmu tidak ada apa apanya di banding nenekmu itu!"
Genzo mendengus kesal, saat pria tersebut menyinggung soal Kenzi dan Siena. Namun ia bisa menguasai emosinya untuk tidak terpancing.
"Terima kasih Paman, atas pujianmu." Genzo tersenyum, membungkuk hormat dengan satu kaki di tekuk ke belakang.
"Anak ini benar benar menyebalkan!" umpat pria itu dalam hati.
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan Tuan?" tanya Genzo kembali berdiri tegap.
"Rupanya kau perlu di beri pelajaran, supaya kau tahu bagaimana menghormati yang lebih tua!" ucapnya dengan nada kesal.
Semua siswa yang berkumpul, menonton dari jarak jauh. Tidak ada yang berani bicara apalagi melerai. Begitu juga dengan guru di sekolah itu, ikut campur berarti mati. Siapa yang tidak kenal dengan gangster satu itu.
"Paman keliru, aku menghormati Paman!" sahut Genzo mulai bersikap waspada memperhatikan gerakan mereka.
Pria yang berdiri di hadapan Genzo memberikan kode pada salah satu anak buahnya untuk memberi pelajaran pada Genzo. Kemudian pria itu maju ke depan dan berlari ke arah Genzo dengan tangan kanan mengepal melayangkan bogem mentah ke wajah Genzo.
"Tapppp!!
Genzo menahan kepalan tangan pria itu dengan tatapan tajam. Tersungging senyum samar di sudut bibir Genzo, saling tatap mata, dan saling menahan.
" Kreekk!!
Genzo memutar tangan pria itu kebelakang, tangan kirinya mencengkram tenggorokan pria tersebut menggunakan dua jari. Bergerak sedikit saja, sudah di pastikan pria itu akan terbunuh.
"Aku bisa saja membunuhmu, Paman. Tapi itu percuma, kalian tidak akan berhenti menggangguku," bisik Genzo di telinga pria itu.
"Akkkhhh!" hanya suara erangan yang tercekat di tenggorokan, wajah pria itu mulai memerah karena kesulitan bernapas.
"Pergilah, Paman!" seru Genzo melepas cengkramannya, lalu mendorong tubuh pria itu dan ambruk tepat di kaki ketuanya.
"Anak itu?!" ucap pria yang menjadi ketua mereka. "Ternyata tidak bisa di remehkan.
" Bagaimana Paman? boleh aku pergi?' tanya Genzo membungkuk hormat.
Namun bukan jawaban yang Genzo dapatkan, tapi pria itu memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Genzo secara bersamaan.
"Serang!
Ke enam pria itu maju bersamaan menerjang Genzo, tapi bukan Genzo cucu seorang mafia kalau mudah di kalahkan. Dengan sigap dan gerak cepat, Genzo berlari menyambut mereka semua.
" BUKKKK!!!
Dua terjangan kaki kanan Genzo menghantam wajah dua musuh sekaligus. Tubuh mereka ikut ambruk bersamaan, kaki kanan Genzo menendang kaki musuh yang mendekat.
"BRUKKK!!
Dua musuh kembali ambruk. Semua murid maupun guru yang menonton perkelahian Genzo. Berdecak kagum melihat kelihaiannya, mereka saling berbisik membicarakan Genzo terutama kaum hawa. Namun selihai apapun Genzo, perkelahian tetaplah tidak imbang. Mengingat usia Genzo yang masih remaja. Ariela dan Alexa yang sedari tadi diam menahan napas, memperhatikan Genzo. Akhirnya Ariela berinisiatif untuk membantu Genzo.
" Hiaaaaaaaattt!!! Pekiiikk Ariela berlari menerjang musuh.
"BUKKKK!!
Satu pria ambruk terkena pukulan tangan Ariela. Kemudian kaki kanannya menendang dada pria itu tanpa ampun. Di sisi lain, Kitaro sahabat Genzo. Melihat keberanian Ariela membantu Genzo, akhirnya ia ikut berlari ke arena perkelahian membantu Genzo dan Ariela. Di susul Alexa, ikut berlari membantu mereka semua dengan kemampuan seadanya.
Perkelahian berjalan dengan imbang. Melihat anak anak lain ikut membantu, akhirnya pria itu memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Reputasi mereka bisa hancur di mata kliennya jika media meliput pertarungan mereka dengan anak sekolah.
" Mundur!"
ke enam pria itu satu persatu mundur menghampiri ketuanya dengan kepala tertunduk.
"Tinggalkan tempat ini!"
Terdengar riuh tepuk tangan semua murid saat mereka pergi meninggalkan sekolah. Genzo menarik napas panjang, mengusap keringat di keningnya.
" Kitaro, terima kasih," ucap Genzo menepuk pundak sahabatnya.
"Tidak masalah, itulah gunanya sahabat!" sahut Kitaro sembari memainkan kedua alisnya
"Ariela, Alexa, terima kasih."
Dua gadis itu hanya diam saling pandang sesaat, detik berikutnya mereka balik badan beranjak pergi meninggalkan Genzo dan Kitaro yang melongo memperhatikan sikap kedua gadis itu.
"Loh, kenapa lagi dengan mereka?" tanya Kitaro.
"Entahlah, wanita memang seperti itu. Pura pura tidak perduli!" sahut Genzo di akhiri ketawa lebar. "Ayo kembali ke kelas!"
Kitaro merangkul bahu Genzo, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju kelas.
***
Sepulang dari sekolah, Genzo langsung mengceritakan apa yang terjadi di sekolah pada semua anggota keluarganya. Tidak ada satu pun yang terlewati.
"Dokumen? dokumen rahasia tentang apa?" tanya Kenzi kepada Samuel dan Cristoper.
"Putraku, Ryu. Terlibat dalam masalah apa?" Siena menimpali pertanyaan Kenzi.
"Selama yang aku tahu, Tuan Ryu tidak terlibat dalam dunia hitam Nyonya. Dan Tuan Ryu sendiri, tidak banyak hal selalu dia ceritakan pada kami," jawab Samuel, berpikir keras menngingat semua hal yang pernah Ryu katakan.
"Hmm, apa ini ada hubungannya dengan penelitian yang pernah kita gagalkan dulu, sayang?" Kenzi menoleh ke arah Siena mengingatkannya tentang masa lalu.
"Mungkin, tapi mungkin juga hal lain. Cristoper, selama kau mengikuti putraku, apakah ada hal yang kau ketahui?" tanya Siena menatap ke arah Cristoper yang sedari tadi diam.
"Aku kira, ini ada hubungannya dengan perusahaan Gold Moon Nyonya."
"Gold Moon?" Kenzi menoleh ke arah Siena. Ia baru mendengar nama perusahaan itu.
Cristoper melanjutkan ceritanya tentang perusahaan Gold Moon. Yang di pimpin seorang mafia, dan anggota dalam perusahaan itu tidak ada orang lain selain dua jaringan mafia yang tergabung menjadi satu.
"Grandma, Grandpa!" panggil Genzo, akhirnya ia angkat bicara.
"iya sayang?" sahut Siena.
"Grandma, pasti tahu kebiasaan Ayah. Di mana tempat biasa Ayah menyimpan barang barang pribadi dan rahasia?"
"Wah!" mata Siena melebar, ia baru menyadari kalau yang di ucapkan Genzo itu benar. "Sayang, kau memang cucuku yang bisa diandalkan!" seru Siena bangga.
"Kau benar, ayo kita periksa ruang kerja putra kita!" ajak Kenzi tidak ingin menunda waktu lagi.
Siena dan Kenzi beranjak dari kursi menuju ruang kerja Ryu. Di ikuti Genzo, Cristoper dan Samuel. Sesampainya di ruang kerja Ryu yang selalu terkunci sejak menghilang, Siena bergegas mencari tempat rahasia di mna Ryu selalu menyimpan barang barang pribadi dan rahasia.
Siena menggeser lemari di bantu Cristoper dan Kenzi. Lalu ia jongkok menghadap dinding, tangannya meraba raba dinding yang nampak biasa saja dan tidak ada yang mencurigakan. Namun Siena terus menekan nekan dinding menggunakan telapak tangannya, dan benar saja. Perlahan dinding itu bergeser dan terbuka lebar.
"Lihat!" seru Siena.
Ia mengambil sebuah dokumen di dalam brankas rahasia itu. Tidak hanya dokumen, terdapat sebuah ponsel, dan barang barang lainnya. Lalu dokumen itu ia berikan pada Kenzi.
"Sayang, coba kau periksa!"
Kenzi mengambil dokumen itu lalu membawanya dan meletakkannya di atas meja. Ia membuka dokumen itu dan memeriksa setiap lembar file.
"Gila, ini benar benar gila! pekik Kenzi pelan.
" Sayang, ada apa?" tanya Siena.
Kenzi menutup kembali dokumen itu, ia belum bisa menjelaskan secara detail, karena ia butuh data data yang masih Ryu sembunyikan, namun sejauh ini Kenzi memahami kemana arahnya, dan siapa dalangnya. Termasuk yang menculik keluarganya.
"Untuk sementara, kita harus meningkatkan kewaspadaan." Kenzi menatap Samuel dan Cristoper. "Cris, kau perintahkan anak buah kita untuk menjaga keluargaku di sini. Perketat penjagaan. Dan perintahkan anak buah kita yang terbaik untuk mengawal cucuku kemanpun dia pergi."
"Siap Tuan!" sahut Cristoper.