THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
mysterious girl



Seorang pria duduk di sudut cafe, sesekali matanya melirik jam tangan. Tak lama seorang gadis datang menghampirinya lalu duduk menatap pria di hadapannya.


"Kau kubayar mahal, jangan sampai gagal atau nyawamu sebagai gantinya." Pria itu meletakkan sebuah foto di atas meja.


"Tenang tuan, tidak ada pekerjaan yang tidak selesai." Gadis itu mengambil foto di atas meja lalu menatapnya lekat. "Targetku seorang Dokter?" tanya gadis itu.


"Ya kau benar, besok pagi dia akan membuka perusahaan farmasi yang menjual obat obatan untuk pecandu narkoba." Pria itu menjelaskan siapa target yang akan di hilangkan nyawanya besok pagi.


"Baik Tuan, kau jangan khawatir. Semua pekerjaan anda anggap saja sudah selesai." Gadis itu tersenyum menyeringai.


"Bagus, aku suka." Kemudian pria itu mengambil koper kecil di bawah meja, lalu ia letakkan di atas meja.


"Ini bayaranku?" gadis itu membuka kopernya menatap uang dalam koper, lalu menutupnya kembali. Ia tersenyum lalu berdiri sesaat membungkuk lalu melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu tersenyum puas.


***


Pagi pagi sekali Ryu sudah berangkat dari rumahnya menuju perusahaan yang baru saja ia rintis. Siang ini akan di lakukan acara gunting pita. Yang akan di hadiri oleh beberapa lapisan elemen, dari pemerintah dan pengusaha pengusaha lainnya. Tidak lupa Siena dan Samuel ikut menghadiri acara itu, sebagai kebanggaan tersendiri buat Siena.


Saat acara tengah di mulai, seorang gadis berdiri menatap dari kejauhan ke arah keramaian orang orang yang bertepuk tangan. Ia mendesah kecewa karena pengamanan di luar gedung itu sangat ketat, di tambah Siena menyuruh sebagian anak buahnya berjaga jaga untuk mengantisipasi serangan musuh yang tak terduga, bisa saja apa yang Ryu kampanyekan untuk tidak mengkonsumsi narkoba akan mengundang para elit merasa di rugikan.


Gadis itu memutar arah melalui pintu belakang gedung, dia naik ke tangga darurat lalu naik ke atas gedung mempersiapkan senjata api dengan menggunakan peredam suara. Lalu senjatanya ia arahkan pada punggung Ryu. Namun sayang, karena Ryu memang sudah tidak nyaman dengan kaki palsunya, ia tidak bisa diam lama lama tanpa bergerak. Setiap bidikannya tepat di kepala, gadis itu harus mengikuti pergerakan Ryu yang tidak mau diam di tambah anak buah Siena dan Polisi terus menghalangi tubuh Ryu, Akhirnya ia menurunkan senjata apinya.


"Aku harus cari cara lain." Akhirnya gadis itu mrndapatkan kesempatan yang di tunggu, ia melihat Ryu meninggalkan acara itu dan masuk ke dalam gedung. Gadis itu buru buru meninggalkan tempat untuk menyusul Ryu.


Dengan tergesa gesa, gadis itu menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir lalu bersembunyi di balik tembok saat melihat Ryu tengah berjalan menyusuri lorong dengan langkah terseok. Lalu Ryu berhenti dan menyandarkan tubuhnya di tembok perlahan duduk di lantai memijit kakinya. Ia tidak menyadari seseorang tengah mengincar nyawanya.


"Sakit sekali Ibu ..aku sudah tidak kuat lagi.." ucapnya pelan tapi jelas terdengar gadis itu.


"Maafkan aku yang telah membohongimu Bu, aku tidak benar benar bisa mengobati sakitku ini. . aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan lama menemanimu Bu.." gumam Ryu sembari melepas kaki palsunya. Lutut yang mulai membengkak dan merah, terasa panas. Ryu mengerang kesakitan.


Sementara gadis yang mengarahkan senjatanya pada Ryu, tangannya gemetar. Tiba tiba saja jarinya tak kuasa menarik pelatuk untuk mengambil nyawa Ryu.


"Dia seperti kakakku dulu.." ucapnya dalam hati. "Tidak, aku tidak boleh lemah. Kakakku sudah mati." Namun sebelum ia menarik pelatuknya, dari ujung lorong nampak dua pria mendekat hendak melukai Ryu dengan senjata api. Gadis itu berbalik mengarahkan senjatanya pada dua pria yang tak di kenal.


'DOR! DOR!


"Ayo kita pergi! gadis itu membantu Ryu dan memapahnya keluar dari lorong gedung, namun dari arah belakang dua pria lain mengejar lagi. Gadis itu dengan susah payah mengarahkan senjatanya ke arah dua pria tersebut.


" Kau diam jangan bergerak!" ucapnya pada Ryu.


"Dor dor!"


Dua pria itu terpental seiring darah yang memercik ke lantai. Kemudian gadis itu kembali memapah tubuh Ryu. Beruntung indiden itu di ketahui anak buah Siena. Mereka langsung mengejar pria yang berusaha melukai Ryu.


"Kau tidak apa apa?" tanya gadis itu.


"Tidak, terima kasih." Ryu tersenyum pada gadis itu. " Siapa namamu?" tanya Ryu.


"Davira."


"Ryu." Ryu mengulurkan tangannya menjabat tangan Davira.


"Ryu!"


Ryu dan Davira menoleh ke arah suara, nampak Siena berlari menghampiri mereka berdua.


"Kau tidak apa apa Nak?" tanya Siena mengusap wajah Ryu lalu beralih menatap Davira yang tengah menegang senjata api menembak jarak jauh.


"Terima kasih kau telah menyelamatkan putraku." Siena tersenyum namun matanya menatap curiga.


Davira hanya tersenyum, lalu beralih menatap Ryu. "Hati hati, nyawamu dalam bahaya." Davira menyentuh lembut pundak Ryu, lalu gadis itu berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Siapa gadis itu?" tanya Siena.


"Aku tidak tahu Bu," jawab Ryu menatap punggung Davira hingga hilang dari pandangan.


"Kita pulang sayang." Siena membantu Ryu berjalan dengan memapahnya.