THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
I hate



Ryu tergesa gesa masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu bersiap siap untuk ke rumah sakit. Ia lupa hari ini ada pertemuan penting tentang rencana pembangunan pusat rehabilitasi untuk pecandu narkotika.


Setelah selesai ia menemui keluarganya di meja makan. Namun ia hanya berpamitan dan meminta Samuel untuk menemaninya.


"Paman, kau bisa antar aku?" tanya Ryu.


"Tentu." Samuel langsung beranjak keluar dan mempersiapkan mobil yang akan di gunakan Ryu.


"Tuan minumlah dulu teh hangat ini." Mei chan menghampiri membawakan secangkir teh hangat.


"Tidak perlu! aku bilang kau tidak perlu sok manis di depanku!" ucap Ryu kesal dengan nada tinggi. Membuat Jiro bingung dengan sikap adiknya.


"Ryu, apa kau tidak punya sopan santun sedikit?" tanya Jiro.


"Terserah kakak!" sahut Ryu balik badan lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Ryu!" pekik Jiro. "Aku belum selesai bicara!"


"Sudahlah.." Zoya menarik tangan Jiro untuk duduk kembali.


"Aku heran saja, akhir akhir ini dia ketus sekali," gerutu Jiro.


"Mungkin dia banyak pekerjaan kak," timpal Angela.


"Maaf kalau saya sudah membuat keributan di rumah ini." Mei Chan membungkuk hormat.


"Tidak, ini bukan salahmu." Kenzi yang sedari tadi diam angkat bicara.


Sementara Ryu terus berjalan keluar rumah dengan hati yang sedih.


"Mengapa semua orang tidak ada yang mengerti perasaanku," gumam Ryu.


"Paman, ayo kita berangkat!"


"Baik Nak." Sahut Samuel melirik sesaat ke arah Ryu lewat kaca spion. Ia melihat raut wajah kesedihan yang sulit untuk di ucapkan dengan kata kata. Samuel menarik napas dalam dalam. Lalu memberanikan diri bertanya.


"Apakah kau tidak menyukai wanita itu?"


"Sangat paman, aku sangat risih melihat keberadaannya di rumahku." Ryu memalingkan wajahnya, rasanya ia ingin menangis, tapi kata kata Siena selalu terngiang di telinganya.


"Kamu harus kuat dan tangguh seperti Ibumu-?" ucapan Samuel terputus saat mobilnya terguncang.


"Brakk!!"


Samuel menoleh ke belakang nampak dua buah mobil menabrak mobilnya dari belakang.


"Gawat nak, ada bahaya!"


"Paman ayo cepat!' seru Ryu mulai panik.


Samuel terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun dari arah depan sebuah mobil menghadang.


" Brakkk!"


Samuel tak sempat menghindar, akhirnya mobilnya menabrak mobil di depan. Hingga hilang kendali dan menabrak pembatas jalan. Samuel langsung keluar dari dalam mobil langsung bersembunyi di balik mobilnya bersama Ryu.


"DOR! DOR! DOR!


Samuel menembaki musuh yang mendekat. Lalu ia menembak salah satu mobil yang sudah rusak akibat tabrakan tadi.


'DUARRR! Suara ledakan terdengar cukup kencang.


" Kau sebaiknya lari ke arah sana!" pinta Samuel pada Ryu. "Biar aku yang melindungimu!"


"Tidak paman!" ucap Ryu kepalanya merunduk di ikuti Samuel. peluru berseliweran semakin banyak.


'Paman, sepertinya ada yang nembantu kita?" Ryu dan Samuel tidak mendengar ada peluru melesat ke arah mobilnya lagi. Mereka berdua kepalanya menyembul untuk memastikan apa yang terjadi.


"Anak buah Ibumu!" pekik Samuel tertawa lebar.


"Benar paman. sudah kuduga Ibu selalu memperhatikanku," ucap Ryu matanya berkaca kaca. Di antara yang lain, hanya Ryu yang sensitif perasaannya dan mudah sekali menangis. Namun ia tidak melihat Siena sama sekali.


"Di mana Ibu?" tanya Ryu pelan.


"DOR DOR DOR!


" DUARR!"


"AHHHKKKKK!


Ryu dan Samuel kembali merunduk cukup lama. Tak lama kemudian tidak terdengar suara tembakan lagi, hanya terdengar suara langkah berlari dan suara mobil yang meninggalkan tempat.


Ryu dan Samuel berdiri perlahan, ternyata peperangan telah usai banyak musuh yang tewas sebagian melarikan diri. Nampak anak buah Siena kembali masuk ke dalam mobil. Ryu kecewa karena tidak melihat Ibunya. Namun saat salah satu mobil melintas di depannya, Ryu melihat ke arah kaca mobil yang terbuka. Nampak Siena menatap ke arah Ryu tersenyum dan memberikan sebuah ciuman jarak jauh.


"IBUUUUU! Pekik Ryu berlari dengan menggunakan tongkatnya, namun mobil Siena sudah melaju dengan kencang meninggalkan lokasi.


" IBUUUU!" Jerit Ryu menatap mobil yang semakin jauh dan hilang dari pandangan matanya.


"Ibu.." ucapnya lirih dengan air mata mengalir deras.


"Sudahlah nak, Ibumu melakukan ini pasti ada alasan kuat." Samuel merangkul bahu Ryu untuk kembali ke dalam mobil. "Kita tinggalkan tempat ini sebelum Polisi datang."