
Malam ini bulan bersinar terang. Seterang pikiran Siena yang bisa bernapas lega melihat keluarganya berkumpul lagi. Hari hari kelam terlewati sudah. Benarkah hidup damai yang di inginkan Siena saat ini? atau dia bahagia saat masalah datang bertubi tubi?
Siena duduk di bangku taman, wajahnya tengadah menatap bulan menikmati keindahan malam. Mengingat semua kejadian di masa muda hingga sekarang.
Keringat, air mata dan darah bercucuran mewarnai kehidupannya yang penuh dengan lika liku dan tantangan. Semua itu seperti mimpi buruk yang Siena rasakan saat itu. Tapi kini, saat ia mengenangnya. Mimpi buruk itu menjelma kenangan manis. Siena tersenyum dan tidak menyangka, jika hidup yang ia lalui bisa serumit itu.
Bagi Siena hidup itu layaknya hotel, siapa saja boleh datang dan pergi silih berganti. Sama halnya hidup Siena, suka duka, air mata, tawa dan derita itu semua bagian dari hidupnya, kisahnya. Sama sekali ia tidak menyesal atau mengeluh atas apa yang terjadi. Satu hal yang Siena sadari, mungkin bukan hanya dirinya, tapi semua orang yang ada di dunia ini bukan kematian yang di takuti. Tapi kehilangan yang di cintai lebih menakutkan dari pada kematian itu sendiri.
Siena kembali tersenyum dan menepuk keningnya sendiri. Sejak ia memilih Kenzi dan menerimanya seutuhnya. Saat itu juga pilihan akan membawa pada pilihan yang lain. Menjadi kisah hidup yang penuh warna dan drama. Terkadang Siena atau yang lainnya berpikir untuk melepaskan sesuatu demi mendapatkan yang lebih baik. Tapi apa yang lebih baik itu? Siena sendiri tidak tahu dan sampai sekarang belum menemukan jawabannya.
Siena kembali menarik napas panjang dan merasa lega. Ia menoleh ke samping melihat Kenzi berjalan menghampirinya. Pria itu terlihat lebih baik dari pada dulu yang selalu pulang dalam keadaan terluka.
"Sayang." Siena tersenyum kepada Kenzi meski setiap melihat wajahnya bayangan Laila selalu datang di benaknya. Berbulan bulan ia harus menahan rasa cemburu, meski ia harus berpura pura tegar tanpa ada Kenzi di sampingnya. Pada kenyataan ia sangat mencintai dan kembali jatuh di pelukan Kenzi.
"Sayang, kau di sini?"
Biasanya dalam kisah kisah film atau novel. Pria yang selingkuh akan merasa sangat bersalah dan berusaha mendapatkan maaf dari pasangannya. Tapi tidak dengan Kenzi, bukan kata maaf yang ingin Kenzi dapatkan. Tapi bagaimana ia membangun kembali kepercayaan dan waktu yang terbuang bersama Siena.
"Kenapa kau duduk di sini? kenapa tidak bersamaku?"
"Aku tidak mau mengganggu waktumu bersama anak anak."
"Tapi kita bisa berkumpul bersama sayang." Kenzi memeluk Siena dengan erat. Keduanya menatap bulan yang bersinar terang.
"Maafkan aku, jika masih ada rasa sakit di hatiku." Siena melirik ke arah Kenzi.
"Aku mengerti sayang, kau butuh waktu lama untuk bisa menerimaku seutuhnya. Setidaknya aku senang, kau masih mau menerimaku." Kenzi mencium puncak kepala Siena dengan dalam.
"Kau adalah bentuk perasaan yang ingin ku mengerti Siena, Aku benci diriku kala kuingat pernah mengkhianatimu."
"Lupakan sayang, biarkan aku mencoba untuk menerimamu lagi."
Kenzi menarik wajah Siena lalu mencium bibirnya cukup lama. Lalu melepaskan ciumannya.
"Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku, dan putra putriku. Kau istriku dan ibu yang hebat untuk anak anakku."