THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Miss you



Di dalam mobil, mereka tertawa gembira atas keberhasilannya membunuh Hernet. Keenan melepas wig nya begitu juga dengan Rei. Kenudian Keenan melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit.


"Hahahaha, berhasil!" seru Rei.


Namun dari arah belakang, anak buah Avram mengejar dari belakang. Rei menoleh ke arah belakang saat merasakan guncangan mobil yang di tabrak dari belakang.


"Gawat Si, kita di kejar!"


Siena menoleh ke belakang sesaat, lalu mengambil senjata api di dalam tas.


"Keenan! lebih cepat!" seru Siena.


"Siap!" sahut Keenan menambah kecepatan mobilnya, mobil melaju dengan kecepatan maksimal. Membuat kondisi di jalan raya menjadi kacau, hampir saja mobil Keenan menabrak pengendara lain. Hingga laju mobil tak terkendali tabarakan kecil hingga beruntun terjadi di jalan raya.


Keenan terus fokus ke jalan raya untuk tetap stabil dalam melajukan mobilnya. Sementara Siena dan Rei kepalanya menyembul keluar jendela menembaki musuh.


"DOR DOR DOR!!


Sesekali mereka menarik kepalanya masuk ke dalan saat Keenan tak dapat menghindari benturan keras antara mobilnya dan pengendara lain. Hingga mengalami kerusakan parah.


" Cepat Keenan!" perintah Siena.


"DOR DOR DOR!!


Satu persatu mobil musuh terpelanting berputar di tengah jalan raya menabrak pengendara lain. Hingga tersisa satu mobil itu pun terhalang oleh pengendara lain hingga mereka kehilangan jejak Siena.


" Uhuuuu!!" Seru Rei dan Kernan telah berhasil lolos berteriak.


Siena hanya tersenyum memperhatikan kedua sahabatnya. Ia menarik napas dalam dalam. Sejak kehadiran mereka berdua menemani hari hari Siena. Wanita itu perlahan melupakan semua kesedihan meski terkadang hadir rasa rindu menusuk relung hatinya yang paling dalam. Namun semua itu menjadi biasa Siena rasakan, tidak membuatnya menjadi beban tersendiri.


"Aku bahagia, meski tanpa ada Kenzi di sampingku," ucap Siena dalam hati lalu ikut tertawa bersama dua sahabatnya. Jika memang dengan cara itu Siena bisa memberikan keamanan dan kenyamanan keluarganya untuk hidup normal. Maka ia akan melakukannya dan rela hidup berjauhan dengan keluarga.


***


Kenzi meminta izin putra putrinya untuk mempekerjakan baby sitter untuk membantu Zoya.


Usul Kenzi di sambut baik oleh Zoya dan Jiro. Karena mereka masih baru.


"Baiklah kalau kalian setuju."


"Aku tidak tahu Kenzi. Bahkan markas kartel Siloa sudah pindah entah di mana sekarang mereka berada," jelas Yu.


"Beberapa hari ini aku berusaha mencari Siena. Anak anak sangat membutuhkan ibunya." Kenzi masih merasa sangat bersalah, sampai kapanpun ia tidak bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk anak anaknya.


"Kau harus terus berusaha lebih keras lagi Kenzi, dan jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama jika tidak ingin kehilangan Siena untuk selama lamanya." Yu mengingatkan kembali Kenzi.


"Terima kasih kakak Yu."


"Bagaimana kondisi rumah? aman?" tanya Yu.


"Semenjak Siena meninggalkan rumah. Tidak ada keributan, bahkan tidak ada musuh yang menyerang." Kenzi menjelaskan situasi di rumahnya saat ini. Yu sempat terdiam dan menganggukkan kepala mendengar penjelasan Kenzi.


"Aku yakin, Siena berperan penting di belakang layar. Terciptanya ketenangan semua karena Siena." Yu bergumam dalam hati.


"Kau kenapa?" tanya Kenzi.


"Ah tidak, tapi tetap saja kau harus waspada. Bukan senjata api yang harus kau takuti. Tapi musuh dalam selimu lebih berbahaya." Lagi dan lagi Yu mengingatkan itu semua pada Kenzi.


"Baik kak," sahut Kenzi.


"Kau pulang saja, aku akan membantumu mencari keberadaan Siena." Yu berdiri, di ikuti Kenzi.


"Baik kak, terima kasih. Kalau kau melihat dia, segera hubungi aku."


Yu menepuk lengan Kenzi pelan, kemudian Yu mengantarkan Kenzi sampai teras rumah. Dan melambaikan tangan saat mobil yang di kendarai Kenzi melaju meninggalkan rumah Yu.


Tak butuh waktu lama, Kenzi telah sampai lagi di rumahnya. Nampak ia melihat seorang wanita yang akan bertugas membantu Zoya merawat putrinya.


"Ayah, kau sudah pulang?" tanya Jiro.


"Iya sayang, apakah dia yang akan membantu Zoya?" tanya Kenzi.


"Iya Ayah, namanya Mei Chan." Jiro memperkenalkan Mei Chan pada Ayahnya.


"Halo, panggil saya Mei Tuan." Mei Chan membungkukkan badannya.


Kenzi hanya menganggukkan kepalanya, ia langsung ngeloyor masuk ke dalam kamar. Saat ini ia tidak menginginkan apa apa. Yang ada dalam hatinya merindukan kehadiran Siena.