THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Best Friend



Kepergian Ibunya membuat putra putri Siena terpukul. Mereka menyadari telah egois hanya menuntut pada Ibu mereka, tapi sama sekali tidak melihat luka yang telah Ibunya terima. Namun mereka tak kuasa untuk membenci Kenzi.


Kenzi duduk di kursi menampuk wajahnya sesaat. "Seharusnya aku yang peegi bukan ibumu."


"Ibu.." ucap Angela lirih.


"Tidak ayah, aku percaya pada Ibu. Dia tidak benar benar pergi dari kita semua. Aku yakin Ibu punya alasan kuat kenapa dia memilih pergi dari rumah." Jiro terlihat lebih tegar dari yang lain.


"Kau benar kak," sahut Ryu, meski hati kecilnya merasa sangat bersalah pada Siena.


"Ayah.." Angela tengadahkan wajahnya menatap Kenzi.


"Iya sayang."


"Berjanjilah untuk tidak menyakiti Ibu lagi."


"Ayah berjanji sayang, Ayah janji." Kenzi mencium puncak kepala Angela dengan dalam, ia merutuki kebodohannya telah mengkhianati istri dan putra putrinya.


***


Siena menepikan mobilnya di tepi jalan raya, matanya menatap sekitar lalu keluar dari pintu mobil. Berdiri tegap melepas kaca mata hitamnya lalu ia lemparkan ke dalam mobil.


Mata Siena melebar, mulutnya menganga. Menatap ke arah dua sosok pria yang ia kenal.


"Keenan? Rei?" ucap Siena tidak percaya bakal bertemu dua sahabatnya. Tanpa terasa ada bulir air mata di sudut netranya.


"Rei! Keenan!" pekik Siena berlari menghampiri mereka berdua.


Rei dan Keenan saling pandang sesaat. "Apa kau kenal wanita itu?" tanya Keenan.


Rei hanya mengangkat kedua bahunya menatap ke arah Siena yang berlari menghampirinya. "Tidak tahu."


"Rei! Keenan!" Siena tersenyum lebar merentangkan kedua tangannya hendak memeluk mereka. Namun kedua sahabatnya itu malah mundur ke belakang menjauhi Siena.


"Kau siapa?" tanya Rei.


"Apa aku mengenalimu?" timpal Keenan menatap wajah Siena.


"Sial, kalian telah melupakanku," sungut Siena cemberut, lalu menurunkan kedua tangannya. Ia lupa, kalau wajahnya sudah berubah. Bukan wajah Siena yang dua sahabatnya kenali dulu.


"Memangnya kau siapa?" tanya Rei lagi.


"Apa kau benar benar melupakanku? aku Siena Rei! Keenan!" jelas Siena dengan nada tinggi.


"Siena?" ucap mereka serempak, namun detik berikutnya mereka tertawa terbahak bahak.


"Kenapa kalian tertawa?"


"Kalau kau Siena? kenapa wajahmu tidak seperti Siena? kalau apa yang kau katakan itu benar, mengapa kau terlihat muda? tidak seperti kami?" Rei kembali tertawa.


"Hahahahaha!" Keenan terus tertawa hingga ia memegangi perutnya sendiri.


"Hei, hei, hentikan tawamu. Nanti asam uratmu kambuh!" ledek Rei menepuk perut Keenan pelan.


"Sial kau, doa itu yang bagus!" sungut Keenan perlahan menurunkan volume suara tawanya, sembari mengusap sudut netranya yang mengeluarkan air mata.


"Kalian tidak percaya kalau aku sahabat kalian?" Perlahan Siena meyakinkan Kei dan Keenan. Ia menceritakan saat masih kuliah dulu. Siena juga mengingatkan Rei dan Keenan saat berusaha membebaskannya dari cengkraman Kenzi.


"Keenan, kau ingat? bukankah putraku Jiro pergi bulan madu ke Indonesia?"


Keenan mengerutkan dahinya, "ya aku ingat. Tapi Jiro tidak menceritakan apa apa tentang kalian di sini. Jadi kupikir kalian baik baik saja."


Siena merengtangkan kedua tangannya merangkul bahu ke dua sahabatnya, lalu mereka berjalan ke arah pohon besar yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Siena duduk di atas rumput bersama kedua sahabatnya.


"Di mana Dinda? apa dia ikut bersamamu?" tanya Siena.


"Istriku sudah tiada sejak tiga bulan lalu, putriku sudah menikah dan menjadi dosen di salah satu Fakultas di Jakarta."


"Lalu Marsya? di mana dia?" giliran Rei mendapatkan pertanyaan serupa.


"Marsya sudah meninggal dari sejak 5 tahun yang lalu, putriku di Amerika bersama suaminya. Aku pernah mencarimu, tapi kabar di berita mengatakan kalau kau sudah mati karena kecelakaan. Apakah itu benar?" sekarang Rei dan Keenan menatap wajah Siena menunggu penjelasan wanita di hadapannya.


"Kau sendiri?" tanya Keenan.


Siena menundukkan kepala sesaat, lalu ia menceritakan apa yang terjadi selama ini, pada dirinya, putra putrinya dan Kenzi.


"Ckckckck" Rei berdecak kesal. "Manusia manusia brengsek itu benar benar minta di kirim ke neraka!" sungut Rei dan Keenan geram.


"Apa rencanamu Si?" tanya Keenan.


"Aku tetap mengawasi keluargaku di luar, dengan begitu aku bisa melindungi mereka dan melenyapkan semua musuhku." Siena menghela napas panjang di akhir ceritanya.


"Aha!" seru Keenan masih saja terlihat konyol dari muda dulu.


"Apalagi," ucap Rei menatap jengah Keenan.


"Di usia kita yang tidak muda lagi, rasanya kalau kita habiskan sisa hidup kita hanya dengan duduk di kursi menikmati secangkir kopi sambil menunggu kapan kematian akan menjemput, bagaimana kalau kita adu lagi adrenalin kita?" usul Keenan.


"Maksudmu?" tanya Rei masih tidak mengerti dengan penjelasan Keenan yang berputar putar.


"Kita ikut gabung dengan Siena seperti dulu? bagaiaman Rei?" tanya Keenan menatap Rei.


"Setuju!" seru Rei.


"Kalian tidak takut mati?" goda Siena.


"Besok atau lusa, toh mati juga!" sahut Keenan asal.


"Kebiasaan kau!" Rei menepuk kening Keenan.


"Hahahaha!" di balas Keenan denga tertawa lebar.


"Bagaimana Si?" Rei menoleh ke arah Siena.


"Terserah kalian." Siena berdiri, di ikuti yang lain.


"Kau tinggal bersamaku dan Keenan. Di rumah baruku." Rei mengusulkan Siena untuk tinggal bersama.


"Baiklah, aku setuju."


Rei dan Keena saling tatap sesaat, lalu saling berpelukan.