THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Pretented



"Ryu, dia siapa?" tanya Siena memperhatikan Kenzi yang tengah duduk di kursi meja makan, sementara Ryu membuatkan kopi untuk Kenzi.


"Hei Ibu, duduklah. Aku buatkan teh." Ryu menoleh sesaat ke arah Siena yang duduk berhadapan dengan Kenzi yang hanya diam.


"Kau ada keperluan apa?" tanya Siena pada Kenzi.


"Bu, Om ini asistenku sekarang, dia akan membantu pejerjaanku di sini. Biar aku tidak terlalu capek." Ryu menjawab pertanyaan Siena.


"Oh." Siena menganggukkan kepalanya, lalu mengambil teh. "Siapa namamu?' tanya Siena sambil menyecap teh nya perlahan.


'Kenjiro."


"Uhukkk!" Siena langsung terbatuk, ia letakkan gelas teh di atas meja menatap ke arah Kenzi.


"Kenapa Nyonya?" tanya Kenzi santai.


"Tidak apa apa!" sahut Siena.


Ryu hanya tersenyum tipis melihat mereka berdua layaknya dua orang asing yang baru saja bertemu. "Iya Bu, namanya Om Kenjiro, lebih tepatnya Dokter Kenjiro." Jelas Ryu.


Siena diam memperhatikan wajah Kenzi lalu menundukkan kepalanya sesaat.


"Aku pulang Bu!"


"Hei sayang, tumben kau pulang cepat." Siena langsung mencium pipi Angela yang menghampirinya.


"Iya Bu," sahut Angela. Lalu matanya melirik ke arah Kenzi yang hanya diam memperhatikan.


"Halo Om! sapa Angela lalu duduk di sebelah Kenzi.


" Halo sayang, kau baru pulang kuliah?" tanya Kenzi bersikap tenang supaya Siena tidak curiga.


"Iya Om!" Angela tersenyum menatap wajah Kenzi. "Om ganteng siapa namanya? pasti om ini pacarnya Ibu yang baru," celetuk Angela.


Siean dan Kenzi saling pandang sesaat. "Bukan sayang, Om di sini membantu Dokter Ryu." Kenzi menjelaskan pada Angela.


"Oh, aku pikir pacar Ibu!" Angela tertawa lebar melihat Siena menatap horor ke arahnya.


Kenzi tertawa kecil, tangannya terulur mengusap puncak kepala Angela dengan lembut.


"Om, aku ke kamar dulu." Angela berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan.


"Maaf, dia masih anak anak. Bicaranya suka ngelantur." Siena tersenyum.


"Tidak apa apa." Kenzi tersenyum menatap Siena yang meninggalkan ruangan.


Entah apa yang di rasakan Kenzi saat ini. Rasa bersalah yang sangat besar serasa mencekik lehernya. Andai saja ia tidak melalukan kesalahan. Mungkin saat ini ia tengah berbahagia bersama keluarganya. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi di luar kehendak.


***


Saat mereka tengah makan malam. Melihat Kenzi masih ada di dalam rumahnya membuat Siena bertanya tanya, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada Ryu.


"Nak, memang malam ini kau hendak mengerjakan apa?" tanya Siena.


"Ada yang harus aku kerjakan Bu, dan besok harus selesai. Oleh karena itu Dokter Kenjiro menginap malam ini." Ryu menjelaskan pada Siena. Ia tahu akan banyak kebohongan yang akan di katakannya pada Siena. Namun semua itu ia lakukan demi melihat keluarganya utuh kembali sebelum ia kehilangan harinya, kehilangan pandangannya menatap kedua orangtuanya seperti dulu lagi.


"Makanlah," ucap Siena pada Kenzi.


"Terima kasih."


Saat Siena hendak duduk, salah satu penjaga datang menghampiri.


"Nyonya, di luar ada tuan Avram."


"Avram?"


"Benar Nyonya." pria itu menjawab.


"Baiklah, kalian makan duluan. Nanti Ibu belakangan." Siena melangkahkan kakinya menemui Avram.


"Selalu mengganggu, mau malam, mau siang. Avram lagi, Avram lagi," gerutu Ryu kesal.


"Benar kak, aku juga bosan lihatnya," timpal Angela. "Sudah di tolak kok masih deketin Ibu, biarpun aku benci Ayah, tapi aku tidak mau kalau Ibu menikah dengan pria lain selain Ayah." Ungkap Angela.


Ryu tersenyum mendengar pernyataan Angela yang di dengar oleh Kenzi langsung.


"Aku punya ide!" Zoya melebarkan matanya menatap mereka semua.


"Apa kak?" tanya Angela.


"Ayo ikut aku semuanya." Zoya berdiri di ikuti yang lain, menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, Zoya berpura pura mengerang kesakitan supaya terdengar oleh Avram dan Siena. Sontak kedua orang itu langsung masuk ke dalam.


"Sayang kau kenapa?" tanya Siena khawatir.


"Ibu, aku tidak tahu. Setiap kali ada Om Avram malam malam datang ke rumah, bayi ini nendang nendang bikin aku mual Bu.." rengek Zoya lirih supaya di percaya oleh Siena.


"Apa mungkin, ada orang hamil ngidamnya seperti itu?" tanya Siena pada Ryu.


"Tentu Bu, itu bawaang si jabang bayi. Mungkin bayi ini sudah pintar sejak dalam kandungan. Hingga bisa hapal baunya Om Avram," jelas Ryu.


Siena mengerutkan dahi menatap Avram sesaat, "apa iya? biasanya ngidam makanan, atau yang lainnya." Siena semakin heran.


"Tidak apa apa, aku pulang saja. Mungkin itu bawaan si bayi," ucap Avram dengan nada marah karena tersinggung.


"Baiklah, maaf ya," Siena membungkuk sesaat.


"Tidak masalah," ucap Avram dengan tatapan tajam ke arah Kenzi yang hanya diam tanpa ekspresi apapun.


"Ok, selamat malam." Siena melambaikan tangannya pada Avram. Kemudian pria itu meninggalkan rumah Siena.


"Bagaimana sayang? apa kau masih mual?' tanya Siena pada Zoya.


Zoya menggelengkan kepalanya. " Tidak lagi Bu."


"Ya sudahlah, kita makan yuk." Siena mengajak mereka semua untuk kembali makan. Ryu, Angela dan Kenzi tertawa kecil di belakang Siena.