
Jalan raya yang awalnya lengang dan teratur, dalam hitungan detik menjadi arena kejar kejaran antara mobil Kepolisian dan pihak musuh yang coba merebut Genzo dari tangan Polisi. Sementara Kenzi dan Aranza, yang coba mensejajarkan mobilnya harus menghadapi beberapa mobil musuh yang coba menghalangi mobilnya.
"Lebih cepat lagi!" perintah Kenzi.
"Baik Tuan!"
Dari kejauhan Kenzi melihat mobil Polisi terseret jauh akibat di tabrak dari belakang oleh mobil musuh. Ia terus memperhatikan musuh mengambil alih Genzo dari tangan Polisi.
"Aranza! kau tahu apa yang harus kau lakukan?" tanya Kenzi tanpa menoleh ke arah Aranza.
"Siap Tuan!" sahut Aranza.
Kenzi dan Aranza, kepalanya menyembul dari jendela kaca mobil. Mengarahkan senjata api menuju titik sasaran tepat. Sekali tembak, peluru tepat bersarang di kepala sopir musuh.
"BRAKKKK!!!
" DUARRR!!!
Mobil musuh bertabrakan dengan pengendara lainnya, lalu terbang sebelum akhirnya terhempas ke jalab raya dan terjadi ledakan. Suara sirine dari pihak Kepolisian terdengar di mana mana. Kejar kejaran antara Polisi, Kenzi dan pihak musuh semakin membuat situasi di jalan raya tak terkendali.
"Putar arah!" perintah Kenzi pada sopirnya untuk mencegat mobil musuh yang membawa Genzo pergi.
Di lain pihak. Genzo yang berada di dalam mobil musuh, terlihat santai dan duduk manis tanpa melakukan perlawanan sama sekali. Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran Polisi ataupun Kenzi.
"Aku yakin, Ayah di culik mereka. Tapi aku tidak boleh membuat Ayah celaka apalagi membuat posisi Ayah dalam bahaya. Aku punya cara lain untuk membebaskan Ayah." Gumam Genzo dalam hati.
"GREPPP!!
Dengab sigap, Genzo memiting leher sang sopir dengan kuat. Dua pria yang berada di samping Genzo berusaha melepaskan cengkraman tangan Genzo. Akibatnya, mobil yang di lajukan mengalami ketidak seimbangan. Nampak mobil mulai kehilangan arah, menabrak pengendara lain.
" BRAKKK!!
Mobil terguling dan terseret jauh keluar dari jalan raya. Genzo berusaha keluar dari dalam mobil. Begitu juga dengan dua pria yang masih hidup, mereka berusaha keluar dari dalam mobil dan mengejar Genzo yang berlari tertatih menjauh.
"DORR!!"
Salah satu musuh melesatkan peluru ke arah Genzo, namun peluru hanya mengenai udara.
"GENZOOOO!!! Pekik seorang wanita berambut panjang dari atas motor yang tiba tiba berhenti di depan Genzo.
" Ariela!!! seru Genzo.
Kemudian ia berlari ke arah Ariela, lalu naik ke atas motor. "Cepat!"
Ariela kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan musuh di belakang. Mereka tertawa senang karena berhasil melarikan diri.
"Hahaha!
Genzo memeluk pinggang Ariela erat, kembali keberuntungan berpihak pada Genzo. Ia berhasil membuat musuhnya semakin marah.
" SIAL!!" Umpat pria itu kesal.
"Anak itu tidak bisa kita remehkan!" timpal kawannya.
Sementara Genzo dan Ariela terus melajukan motornya. Di tengah perjalanan, Genzo meminta Ariela untuk menepi dan menggantikan posisi duduk. Kini Genzo yang melajukan motornya, sementara Ariela duduk di belakang memeluk pinggang Genzo erat.
"Mereka mengejar kita!" pekik Ariela menoleh ke belakang. Ia melihat beberapa motor yang melaju kencang mengejar mereka berdua.
"Kau bawa senjata?" tanya Genzo.
"Ada! tenanglah!" sahut Ariela lalu ia mengeluarkan senjata api di balik jaketnya. Gadis itu langsung mengarahkan senjata api miliknya ke arah musuh, peluru melesat dan tepat mengenai sasaran.
"Dor Dor Dor!!
" Lebih cepat lagi, Genzo! seru Ariela seraya bsrpegangan erat di pinggang Genzo.
"Apa kau sudah gila?!" sungut Genzo.
"Hahahaha!" Ariela tertawa terbahak bahak, lalu ia melibat mobil yang membawa Kenzi dan Aranza. "Lihat!" tunjuk Ariela ke arah mobil milik Kenzi.
Genzo semakin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, mengejar mobil milik Kenzi supaya sejajar. Dan usahanya membuahkan hasil. Genzo menoleh ke arah mobil dan berteriak kencang.
"Grandpa! kita kembali!"
Kenzi yang berada di dalam mobil menganggukkan kepalanya. Kemudian mobil Kenzi mengejar motor yang di kendarai Genzo yang lebih dulu melaju dengan kencang menuju rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, Genzo sudah lebih dulu sampai dan menepikan mobilnya. Lalu keduanya berjalan bersama memasuki rumah sakit menuju ruangan dimana Davira berada.
"Ibuuuu!"
"Genzo, putraku!"
Davira langsung turun dari atas tempat tidur, dan memeluk Genzo erat.
"Kakekmu mana?" tanya Siena, memperhatikan pintu ruangan lalu menatap Ariela yang berdiri mematung. "Kemarilah sayang."
"Aku disini!"
Genzo dan yang lain menoleh ke arah Kenzi dan Aranza yang baru saja tiba.
"Papa!" Ariela berlari ke arah Aranza dan memeluknya erat.
"Aranza, terima kasih Nak. Kau sudah membantu kami," ucap Siena.
"Tidak masalah, Nyonya!" sahut Aranza membungkuk hormat.
"Sebaiknya kita pulang ke rumah. Di sana kita lebih aman, bawa Davira dan Angel sekarang juga kita pulang."
Siena menganggukkan kepalany, lalu ia meminta Aranza untuk membantunya mengurus kepulangan Davira dan Angela yang masih koma.
***
Sesampainya di rumah, pertemuan mengharukan terjadi lagi antara Davira dengan Zoya dan Jiro. Mereka menangis dan berpelukan melepaskan beban dan rasa rindu yang ada di dalam hati mereka.
Saat ini, hanya tinggal Ryu dan Zidan, suami Angela yang masih menjadi misteri keberadaannya. Davira menceritakan awal ia dan Ryu menghilang tujuh belas tahun yang lalu. Kini Kenzi semakin paham duduk permasalahannya. Serigala berbulu domba, mata mata yang ada di rumahnya adalah bagian dari sindikat mereka.
Zidan, suami Angela adalah aktor kedua atas penculikan yang terjadi selama ini. Davira menjelaskan semuanya secara lengkap. Di akhir cerita, ia mempertanyakan kode rahasia yang Ryu simpan. Namun tidak ada seorangpun yang tahu, mereka hanya menemukan data data rahasia yang di simpan di dalam kotak rahasia.
"Lindungi putraku, jangan sampai mereka menangkapnya. Saat ini, yang mereka butuhkan adalah putraku. Untuk menekan Ryu supaya bekerja sesuai keinginan mereka."
"Ibu jangan khawatir, aku bisa di andalkan!" sela Genzo seraya mencium pipi Davira sekilas. "Ada Grandpa, Paman kecil dan Paman besar yang menjagaku."
"Kau memang anak Ibu, kau mirip dengan kakek dan nenekmu sayang." Davira tersenyum ke arah Siena dan Kenzi. "Bukankah dia teman sekolahmu?" tunjuk Davira ke arah Ariela.
"Yes Mom!" sahut Genzo tersenyum lebar.
Genzo tiba tiba saja terdiam menatap ke arah Ariela. Ia teringat kejadian di jalan raya, saat mengejar musuh. Sekilas, ia melihat wajah Alexa tengah menatapnya dari dalam mobil musuh. Alexa terlihat berbeda, cantik dan pakaian yang dikenakan Alexa jauh berbeda.
"Siapa sebenarnya Alexa?" tanya Genzo dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Davira membuyarkan lamunan Genzo.
"Tidak ada Bu!