THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 3



Memiliki suami tampan, kaya, perhatian, dan tanggung jawab adalah impian semua wanita. Namun tidak kenyataannya bagi Althea. Memiliki suami sesempurna Genzo adalah mimpi buruk panjang wanita itu.


Setiap hari ia harus mengurus dirinya sendiri, kehamilannya, meski di bantu dan di perhatikan oleh Davira, bukan itu yang Althea mau. Sedikit perhatian Genzo, itu sudah cukup baginya.


Namun hari hari Althea tidaklah begitu, ia harus menghadapi sikap dingin Genzo dan ketidak perduliannya. Meski terkadang Genzo memberikan sedikit perhatian, itu bukan niat tulus dari dalam hatinya tapi keterpaksaan karena perintah sang Ibu.


Hingga di suatu malam, Althea tengah duduk santai di sofa sambil membaca buku tentang kehamilan. Genzo tiba tiba saja masuk ke dalam kamar lalu duduk di kursi berhadapan dengan Althea.


"Aku mau bicara denganmu.." ucap Genzo pelan.


Althea melipat bukunya, lalu melirik sesaat ke arah Genzo. "Ada apa?"


"Aku mau menikahi Alexa." Jawab Genzo tanpa ada rasa beban di hatinya, kata kata ingin menikah dengan lantang ia ucapkan tanpa bertanya apakah Althea mengizinkan atau tidak. Ya, memang Genzo tidak membutuhkan izin Althea.


"Apa izin dariku penting?" tanya Althea dengan nada bergetar coba menekan perasaannya dan bersikap tenang.


"Memang aku tidak perlu izinmu, yang jelas lusa aku akan menikahinya." Sahut Genzo.


"Apa Ibumu tahu?" tanya Althea.


"Belum, ibu biar menjadi urusanku. Kau tidak perlu ikut campur." Kata Genzo.


"Baiklah!" sahut Althea lalu kembali membuka bukunya. Genzo beranjak dari kursi, lalu meninggalkan Althea begitu saja.


Sakit? jangan di tanya. Itu yang Althea rasakan saat ini, tapi apa hak dia? apa yang bisa Althea lakukan selain menerima apapun keputusan Genzo.


Althea melipat bukunya lagi, air mata yang coba ia tahan akhirnya mengalir deras. Ia menangis sesegukan dan sesekali ia memukul dadanya untuk menghentikan tangisannya.


Suara pintu kamar di ketuk perlahan, lalu pintu terbuka lebar memaksa Althea berhenti menangis dan buru buru mengusap air matanya menggunakan ujung pakaian.


"Ibu.." sapa Althea.


"Ibu..." Althea memeluk tubuh Davira erat dan menangis dalam pelukannya.


"Nak..kau tidak boleh lemah,ada aku,ada ayahmu." Davira menoleh ke arah Ryu yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Kau benar sayang." Sahut Ryu lalu duduk di sofa.


"Apa yang harus aku lakukan, ayah, ibu.." Althea melepaskan pelukannya seraya mengusap air matanya. "Lusa Genzo akan menikahi Alexa."


"Kau harus berjuang demi bayi dalam kandunganmu, ingat. Genzo tak seburuk itu, aku yakin suatu hari nanti dia akan berubah." Tinpal Davira.


"Bagaimana dengan pernikahannya Bu.." ucap Althea sedih.


"Kita bisa menggagalkan pernikahan mereka." Usul Davira.


"Caranya?" tanya Ryu menatap ke arah Davira.


"Kemarilah!"


Davira merangkul bahu Ryu dan Althea, kemudian ia membisikkan rencana untuk menggagalkan pernikahan Genzo dan Alexa.


"Hahaha!" Ryu tertawa, mengacak rambut Davira. "Kau memang istriku yang paling cerdas, aku siap membantu menantuku." Timpal Ryu.


"Bagaimana sayang? kau setuju?" tanya Davira menatap ke arah Althea.


"Aku siap Bu!" sahut Davira kesedihannya hilang seketika.


"Gunakan kemampuanmu, jangan lemah. Perjuangkan hakmu selagi itu di jalan yang benar. Soal hasil, serahkan pada Yang Maha Kuasa yang menentukan yang terbaik buat kita walau itu sulit pada akhirnya." Pernyataan Davira, memberikan semangat hidup Althea lagi, kini ia tidak merasa sendirian dan memutuskan untuk memperjuangkan haknya.