
"Cepat kau bawa dia ke markas!" perintah Siena pada anak buahnya supaya membawa Kenzi terlebih dahulu. Sementara ia langsung kembali membantu Yu, sekaligus memberitahu kalau Kenzi berhasil di bawanya.
Namun saat ia melintasi sebuah ruangan dengan cara mengendap. Nampak ia melihat Avram tengah bergegas meninggalkan ruangannya dengan tergesa gesa.
"Avram?" Siena terkejut, selama ini ia mengira Avram pria baik. "Ternyata kau.."
"Siena!" panggil seseorang dari arah pintu belakang.
"Kakak Yu!" Siena langsung berlari ke arah Yu. "Kenzi sudah berhasil aku bawa kak. Sekarang kita pergi dari sini."
"Ayo." Yu menarik tangan Siena, lalu mereka berlari keluar dari markas. Namun dari arah belakang, musuh berhasil mengetahuinya dan langsung menembaki Siena dan Yu.
Siena dan Yu langsung berguling ke arah mobil, menghindari musuh.
"DOR! DOR DOR!!"
Siena dan Yu bersembunyi di balik mobil, mereka berdua langsung menghujani musuh dengan peluru. Suara peluru berdesing berseliweran mengarah ke mereka. Yu mengambil bahan peledak di dalam tas kecilnya, lalu ia menggigit kunci peledak langsung di arahkan pada musuh yang semakin banyak.
"DUARRRR!!
Suara ledakan dahsyat terdengar, Siena dan Yu buru buru masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengab kecepatan tinggi menerobos pintu gerbang hingga mobil depan rusak parah.
***
Sesampainya di markas, Siena dan Yu langsung bergegas masuk ke dalam. Atas inisiatif sendiri, anak buah Siena sudah memanggik Dokter pribadi untuk memeriksa kondisi Kenzi.
"Tuan Kenzi harus mendapatkan penanganan serius, sebelum ia terjangkit virus mematikan HIV." Dokter menjelaskan secara keseluruhan.
Mendengar penjelasan Dokter, rasanya Siena ingin memuntahkan sesuatu dalam perutnya, namun ia tahan rasa mual itu.
"Tuan Kenzi akan bangun dalam waktu tiga puluh menit, supaya obatnya bekerja dengan efektif."
"Baik Dok, terima kasih."
Yu mengantarkan Dokter sampai halaman markas, lalu di antarkan oleh anak buah Siena demi keamanan. Sementara Siena masuk ke dalam ruangan menghampiri Kenzi.
"Entah mengapa, bila melihat wajahmu. Aku merasa jijik." Batin Siena.
Wanita itu meletakkan senjata api di atas meja, lalu menarik kursi besi duduk di dekat tempat tidur. Menatap dalam wajah Kenzi cukup lama. Kebencian dan kekecewaan di dalam hatinya tidak dapat ia singkirkan. Sekaligus rasa kasihan terhadap kondisi Kenzi saling berbenturan bergejolak di dalam dada Siena.
Di sisi lain ia sangat membenci dan ingin membalas perbuatan Kenzi atas pengkhianatannya. Namun di sisi lain rasa iba atas kondisinya tak mampu membuatnya benar benar ingin menyingkirkan Kenzi dalam hidupnya. Ia teringat semua kasih sayang dan cinta yang pernah di berikan seutuhnya untuk Siena dan Keluarga. Tapi kembali takdir mempermainkan hidupnya, merubah alur dan menjungkir balikkan sosok Kenzi yang begitu ia kagumi.
"Salahkah aku membencinya? haruskah ku maafkan kesalahannya dan menerimanya kembali? atau aku harus bagaimana Tuhan!" jerit Siena dalam hati, dengan tatapan lurus ke arah Kenzi. Tubuhnya bergetar, menangis dalam diam.
"Apakah aku harus merubah keluargaku lagi seperti apa yang kuinginkan dengan mengorbankan banyak hal, atau aku harus membiarkan semuanya terjadi sesuai KehendakMU.." ucap Siena lirih. Kepalanya tertunduk, air mata menetes membasahi tangannya sendiri.
"Tenanglah Siena."
Yu mengusap punggung Siena untuk menenangkan, meski ia sendiri belum tentu sanggup apabila posisinya berada di posisi Siena. Namun saat ini, hanya itu yang bisa Yu lakukan.