THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
I Like You Doctor



Satu hari berlalu, Ryu menunggu Ayahnya menelpon namun sampai sekarang tidak ada kabarnya. Ryu juga sudah menghubungi kawan kawannya di Amerika. Mereka mengatakan jika Kenzi sudah kembali.


"Mengapa sampai sekarang, Ayah tidak menghubungiku?" gumam Ryu.


Akhirnya Ryu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit meski kondisinya belum pulih. Ia bergegas mengambil tongkat untuk menopang tubuhnya, lalu bergegas menuju rumah sakit dengan di kawal dua bodyguard.


Sesampainya di rumah sakit, dua bodyguard di minta untuk menunggu di luar saja selama ia bekerja. Satu jam berlalu, Ryu telah selesai dengan pekerjaannya lalu ia bergegas untuk pulang, Ryu berjalan dengan tertatih menyusuri lorong, sesekali ia tersenyum dan menganggukkan kepala saat suster atau pasien yang menyapanya.


"Tuk!


"Tuk!


Terdengar suara ketukan tongkat yang Ryu gunakan untuk membantunya berjalan. Ia melamun di sepanjang lorong memikirkan Ayahnya.


" Kau di mana Ayah.." ucap Ryu dalam hati. Kepalanya menunduk.


"Tuk!"


"Tuk!"


Semegah apapun rumah, jika pondasinya runtuh. Maka rumah itu akan ikut hancur. Begitu pula apa yang terjadi dalam sebuah keluarga, perselingkuhan, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga. Selalu anak yang menjadi korban. Begitu pula yang di alami Ryu saat ini. Anak dan orang tua memiliki pemikiran yang berbeda, terkadang anak lebih dewasa dalam berpikir dari pada orang tuanya, atau sebaliknya.


Jiro, Ryu dan Angela meski satu kandung, hanya Ryu yang memiliki cara berpikir yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ryu sangat ingin melihat orangtuanya kembali bersama, keluarganya kembali hidup normal saat ia masih remaja dulu. Meski ia tahu, kalau Ibunya sangat terluka oleh pengkhianatan Kenzi. Namun ia sama sekali tidak bisa membenci Ayahnya. Meski salah di mata Siena apa yang di lakukannya sekarang, tapi Ryu tetap bertekad untuk merubah keluarganya menjadi utuh kembali meski harus mengorbankan hidup, masa deoan dan cintanya. Ryu memilih hidup sendiri dari pada harus menjalin kasih dengan wanita.


"Aku lelah.." ucap Ryu berhenti di tengah lorong berdiri tegap.


"Bisa kubantu?"


Ryu menoleh ke arah belakang, melihat seorang gadis yang tempo hari menyelamatkannya.


"Davira? kau di sini?" tanya Ryu tersenyum.


"Kau mau apa?" tanya Ryu heran.


"Membantumu, kau lelah bukan?" tanya Davira balik.


Ryu mengangguk, ia membiarkan Davira mengangkat satu lengannya dan memapah Ryu keluar dari rumah sakit.


"Terima kasih, kau telah membantuku." Ryu menundukkan kepala sesaat.


"Kau mau pulang?" tanya Davira menoleh ke arah dua bodyguard yang berdiri di belakang Ryu.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Bagaimana kalau aku traktir makan siang?" tanya Davira menatap Ryu penuh harap.


"Makan siang? memangnya kau tidak malu? ngajak aku yang cacat seperti ini?" Ryu merasa minder dengan gadis cantik di hadapannya, ia tidak ingin terluka lagi hanya karena wanita.


"Kenapa harus malu? ayolah." Davira menarik tangan Ryu pelan.


"Nona, sebaiknya Tuan Ryu pulang. Jika Nona mau, silahkan ikut kami." Salah satu bodyguard melarang Ryu untuk pergi keluar rumah selain ke rumah sakit mengingat musuh di luar sana tengah mengincar nyawanya.


"Apa yang dia katakan benar, kau mau?" tanya Ryu.


"Tidak terima kasih, lain kali saja." Davira menarik tangannya.


"Oke, tidak masalah." Ryu membungkukkan badan sesaat, lalu ia masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan pada Davira saat mobil melaju meninggalkan halaman rumah sakit.


"Kau baik, sangat baik. Aku tidak berani melukaimu. Sejak pertama kali melihatmu, kau mengingatkanku pada kakakku," gumam Davira tersenyum. "Mungkin, aku menyukaimu."