
Perlahan Kenzi membuka matanya dan mengusap tengkuknya yang terasa sakit. Ia bangun dan menatap sekitar.
"Siena!"
Kenzi sama sekali tidak menemukan Siena di sisinya. Terakhir yang ia ingat, seseorang memukul tengkuknya. Setelah itu ia tidak ingat apa apa lagi.
Kenzi berdiri dan berjalan perlahan menuju pantai. "Dareen telah membawa istriku lagi," gumamnya.
Kenzi memutuskan untuk pulang, karena ia tidak memiliki persediaan senjata. Percuma ia menyusul Siena ke mansion milik Dareen. Sama saja bunuh diri.
***
Sesampainya di rumah, semua anggota keluarga terkejut melihat Kenzi terlihat berantakan. Setelah mereka membiarkan Kenzi tenang, kemudian ia menceritakan apa yang terjadi.
"Ayah, ini tidak bisa di biarkan lagi. Jangan beri ampun lagi mereka!" ucap Ryu dengan nada tinggi.
"Kau benar sayang, Ayah ingin mengakhiri semuanya." Kenzi mengusap wajahnya perlahan.
"Bos, aku punya usul." Samuel duduk di kursi.
"Katakan."
"Pasukan kita dan pasukan Nyonya Siena. Kita kerahkan untuk menyerang markas mereka. Bagaimana Bos?" tanya Samuel.
"Aku setuju, aku pun sudah lelah dengan mereka semua harus bermain kucing kucingan." Kenzi menyetujui usul Samuel.
"Kami ikut bersamamu!"
Kenzi dan yang lain menoleh ke arah Kei, Keenan dan kakak Yu yang baru saja sampai di rumah Dokter Ryu.
"Kalian?" Kenzi berdiri lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Ayah, aku ikut," sela Jiro.
"Aku juga ikut!" potong Angela dan Zidan.
Kenzi dan yang lain menatap ke arah mereka semua.
"Jika di izinkan, aku ikut bersama kalian." Zoya tidak mau ketinggalan.
"Aku tidak izinkan kalian ikut, aku tidak mau terjadi apa apa pada kalian." Kenzi lebih tidak menyetujui keinginan putra putrinya untuk ikut bergabung menyerang markas triad.
"Ayah, izinkan sekali. Aku membela Ibuku, membela Ayah. Aku mohon Ayah." Jiro dan yang lain tetap bersikeras untuk ikut, kecuali Zoya.
"Baiklah jika kalian bersikeras untuk ikut. Tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi apa apa dengan kalian."
"Percayalah Ayah, kami pasti baik baik saja." Jiro mewakili apa yang ingin di sampaikan saudaranya yang lain.
Sesaat Kenzi termenung memikirkan keinginan anak anaknya untuk membantu dalam penyerangan besar besaran.
"Baiklah, ayah setuju." Kenzi menoleh ke arah Yu dan Samuel.
"Kakak Yu dan kau Sam, siapkan kedua pasukan dan atur strategi. Di bantu Rei dan Keenan. Kau Zidan, pastikan kakakmu Zoya aman selama kita pergi. Jiro, Ryu dan Angela, kalian bersiap siap."
"Baik Ayah!" jawab mereka serempak.
Sementara Yu dan yang lain bergegas keluar rumah menuju markas Crips dan Kartel Siloa. Untuk mempersiapkan semua pasukannya. Sementara Kenzi memberikan bekal untuk Ryu yang tak memiliki kemampuan apa apa. Meski Kenzi sudah melarang Ryu ikut, namun semangat anak itu tidak sedikitpun surut untuk membalaskan apa yang sudah mereka perbuat terhadap keluarganya.
****
Keesokan paginya, sebelum Kenzi berangkat. Kenzi masuk ke ruangan pribadi tempat menenangkan diri. Dia duduk di kursi menatap foto keluarga yang terpajang di atas meja. Perlahan matanya ia pejamkan, menundukkan kepalanya.
"Tuhan aku tidak meminta apa apa lagi selain keselamatan putra putriku, aku hanya ingin melihat mereka bahagia dan hidup damai..Tuhan, satu lagi pintaku. Jangan kau pisahkan lagi aku dan istriku, biarkan kami tetap bersama hidup atau mati. Hanya itu permintaanku."
Kenzi membuka matanya, menatap kembali semua foto keluarga. Lalu ia bangkit dari duduknya keluar ruangan dan menemui putra putrinya yang telah bersiap siap berangkat menuju markas. Sementara Yu dan yang lain sudah siap bersama pasukan, tinggal menunggu komando dari Kenzi.
"Kalian semua harus pulang dengan selamat, bawa Ibu kembali. Dan habisi semua musuh tanpa sisa." Zoya tersenyum menatap Jiro dan yang lain.
"Kami berjanji, pulang dengan selamat!" jawab mereka serempak.
"Pergilah, Yang Maha Kuasa akan melindungi kalian semua."
Kenzi menganggukan kepalanya, lalu mereka semua bergegas meninggalkan rumah.
"Tuhan, tolong akhiri semua ini dengan caraMu, lindungi dan kembalikan mereka semua padaku dengan selamat. Amiin."
Zoya tersenyum, mengusap wajahnya pelan. Lalu kembali masuk ke dalam rumah, menunggu mereka pulang di ruang rahasia dengan semua persediaan yang di butuhkan.