
"Ayah tahu, apa yang kau pikirkan Nak."
Ryu berdiri di ambang pintu, tersenyum memperhatikan Genzo yang tengah melamun.
"Ayah?"
Ryu berjalan menghampiri Genzo dan duduk di tepi tempat tidur seraya mengusap rambutnya. "Alexa bukan?"
"Iya Ayah!" sahut Genzo menundukkan kepalanya sesaat.
Ryu menghela napas dalam dalam, ia teringat semua kebaikan Alexa padanya. Gadis itu rela mengorbankan dirinya untuk membantu Ryu bebas.
"Dia anak baik, kesepian. Dia juga butuh sosok ayah yang selama ini Alexa rindukan."
"Katakan Ayah, apa yang harus kulakukan? aku tidak bisa diam saja, sementara Alexa sudah berkorban buat kita."
Genzo menggenggam erat tangan Ryu. Ia meminta dukungan dan jalan keluar untuk membebaskan Alexa.
"Ayah pasti membantumu, tapi tidak bisa gegabah. Kita bicarakan dengan kakekmu ya?" jawab Ryu.
"Baik Ayah!"
"Sekarang kita sarapan, kau harus sekolah bukan?"
Genzo menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua beranjak dari kursi, berjalan bersama menuju meja makan.
"Sayang, duduklah. Ibu siapkan sarapanmu." Sapa Davira seraya mengecup pipi Genzo.
"Aku tidak lapar Bu, nanti aku sarapan di kantin sekolah saja," sahut Genzo menghela napas dalam dalam.
"Kau baik baik saja?" tanya Davira menatap raut wajah murung Genzo.
"Ya Bu, aku berangkat sekolah."
Genzo tersenyum samar, mengecup pipi kedua orangtuanya, dan berlalu begitu saja. Membuat Davira khawatir, namun Ryu meyakinkan Davira kalau putra mereka bisa di andalkan.
***
Sesampainya di sekolah, Genzo mencari keberadaan Alexa. Namun sudah di carj ke setiap sudut sekolah, Alexa tidak kelihatan sama sekali. Kemudian Genzo menemui dua sahabatnya dan mengajaknya ke kantin.
Genzo meminta dukungan dan berniat bolos sekolah lagi, untuk mencari Alexa. Awalnya keputusan Genzo di tentang dua sahabatnya karena itu terlalu beresiko, tapi mengingat keberanian Alexa yang mau mengorbankan dirinya demi keselamatan mereka. Akhirnha dua sahabat Genzo mendukung keputusannya. Tidak hanya itu, mereka juga akan membantu Genzo dan mereka bertiga memutuskan untuk bolos sekolah.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum pintu gerbang sekolah di tutup!" usul Kitaro.
"Aku setuju!" sahut Ariela.
"Baiklah, ayo!"
Mereka bertiga beranjak pergi setelah membayar makanan yang sudah mereka pesan.
"Kalian mau kemana? jam pelajaran segera di mulai!" cegah satpam sekolah.
"Kami bolos pak!!" sahut mereka bertiga serempak berlari menuju halaman belakang sekolah. Genzo sengaja melewati jalan lain supaya tidak di ketahui cristoper yang mengawasinya.
"Ayo cepat! seru Kitaro.
Langkah mereka terhenti di perempatan jalan. Terdengar suara lantang memanggil Genzo. Mereka bertiga menoleh ke belakang, memperhatikan seorang gadis berjalan tertatih menghampiri mereka.
" Genzoo!!
"Alexaaa!! seru Genzo berlari menangkap tubuh Alexa yang oleng ke samping. Alexaa!"
"Genzo.." ucap Alexa pelan.
"Apa yang terjadi padamu, Alexa," tanya Genzo lirih, mendekap erat tubuh gadis itu, sementara Kitaro dan Ariela jongkok di samping Alexa memperhatikan wajah gadis itu penuh dengan luka lebam. Tidak hanya wajah, Alexa juga mengalami penyiksaan di sekujur tubuhnya.
"Alexa, buka matamu..." ucap Genzo mengusap wajah gadis itu, matanya berkaca kaca hingga tak terasa jatuh menetes di kulit wajah Alexa.
"Genzo..aku sudah tidak kuat lagi.." ucapnya semakin pelan, matanya sedikit terbuka mencoba melihat wajah Genzo yang selama ini ia sukai, kagumi.
"Jangan bicara seperti itu, kau harus kuat,' jawab Genzo terisak.
" Kita bawa ke rumah sakit, cepat!" usul Kitaro dan Ariela.
"Kau benar, ayo!" sahut Genzo.
Kemudian Genzo berdiri menggendong tubuh Alexa. Di ikuti dua sahabatnya, Kitaro menghentikan sebuah taksi yang melintas. Lalu mereka bertiga membawa Alexa masuk ke dalam taksi menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan Genzo terus berusaha menguatkan Alexa, meski terlihat senyum samar di sudut bibir Alexa.
"Bertahanlah..." ucap Genzo terisak.
"Tidak Genzo, aku senang bisa membantumu. Semua ini aku lakukan, karena aku sangat menyayangimu..."
"Simpan tenagamu, tidak perlu kau katakan. Aku juga sayangimu," Genzo mengecup kening Alexa cukup lama.
"Aku mencintaimu, kau cinta pertama dan terakhir.." ucap Alexa tersenyum.
"Aku juga, Alexa." Genzo mendekap erat tubuh Alexa. Kedua sahabatnya hanya diam mendengarkan.
Terdengar suara sirine mobil kepolisian dari belakang, awalnya mereka mengabaikannya. Namun setelah dua mobil Kepolisian itu mendekat dan berusaha menghentikan taksi. Genzo semakin curiga, lalu ia meminta sopir taksi itu melajukan mobilnya lebih cepat.
Awalnya si sopir menolak, namun mendengar tawaran Genzo yang akan membayar 10x lipat, sang sopir menyetujuinya.
"Tenang Tuan, aku siap laksanakan perintah asal ada uang, hahahaha!" sahut sopir itu tertawa terbahak bahak lalu melajukan taksinya dengan kecepatan tinggi.
Sang sopir melajukan taksinya dengan gila, sehingga jalanan yang awalnya tenang dalam hitungan detik terjadi tabrakan di mana mana, kendaraan saling berbenturan karena menghindari tabrakan. Namun semuanya menjadi tak terkendali, mobil Polisi menjadi sedikit terhambat karena terjadinya kecelakaan dari pengendara lain.
"Paman, siapa namamu?" tanya Genzo.
"Call me uncle Joe!" sahut pria itu di iringi tertawa lebar.
"Terima kasih Paman!"
Sejenak mereka bisa bernapas lega, di detik berikutnya mobil Polisi kembali mengejar mereka dalam jumlah yang banyak.
"Paman lihat!" tunjuk Ariela.
"Kalian berpegangan, kita balapan!! seru Joe tertawa lebar, lalu ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Siapa paman Joe? dan kenapa Polisi mengejarku? tanya Genzo dalam hati.
Jantung Genzo semakin berdegup kencang, saat melihat mata Alexa terpejam, napasnya semakin lemah.
"Alexa bertahanlah," ucap Genzo terus memeluk erat tubuh gadis itu.