THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Charmed



Dunia seakan tak lagi indah, kehidupan seakan tak lagi bermakna jika bukan karena sang buah hati. Mungkin Siena memilih mengakhiri hidupnya. Namun tawa canda mereka saat berada di atas tempat tidur berbagi cerita, rengekan manja Angela saat kedua kakaknya menggoda adik perempuan satu satunya. Tatapan penuh harap dari kedua bola mata Ryu untuk selalu bertahan membuat hidup Siena lebih berarti dan indah meski kesedihan kadang hadir melengkapi hari harinya, membentuk alur yang berbeda sebagai penghias kehidupan yang tak lepas dari suka dan duka, tawa dan air mata saling berkesinambungan melengkapi haru biru perjalanan hidup, hingga melahirkan nuansa yang berbeda, yang bisa di nikmati dalam keadaan apapun.


Siapapun tidak ingin hidup bersedih dan menderita, begitu juga dengan Siena yang selalu berharap kebahagiaan meski ia sendiri tidak tahu hakekat sebuah kebahagiaan yang di carinya selama ini. Kebahagiaan yang selalu di rindukan harus berbalik menjadi sesuatu yang menyakitkan untuk di kenyam.


Ibarat hidupnya sudah tersungkur dan terjatuh ke dalam lubang yang sangat dalam dan sulit untuk bangkit kembali. Kini ia harus menjalani hidup bagai sebuah pengembaraan dalam labirin yang tak pernah ada jalan keluar, laksana mencari letak di mana ujung dunia sementara semua terlihat tak berujung dan entah di mana tepinya.


Diantara tangisan yang tak lagi ada air mata, memotivasi diru hidup adalah pilihan yang di tentukan oleh pikirannya sendiri, bagai penggalan bait yang entah sampai kapan akan berakhir.


"Ibu.."


Siena menoleh ke arah Ryu yang berdiri di sampingnya lalu tersenyum.


"Iya sayang."


"Ibu sedang apa?" tanya Ryu, ia duduk bersimpuh di kaki Siena sembari memijit kakinya sendiri yang terasa sakit.


"Kau kenapa sayang?" Siena ikut duduk di bawah memegang kaki Ryu yang sedang ia pijit. "Sakitkah?" Siena menatap wajah Ryu yang terlihat kelelahan.


"Iya Bu, kaki palsu ini membuatku tidak nyaman. Aku ingin melepasnya." tangannya memukul kakinya yang mulai kesemutan.


"Kalau di lepas, bagaimana nanti kamu berjalan?" tanya Siena suaranya parau, keluh kesah Ryu soal kakinya membuat Siena teringat kejadian masa lalu. Hatinya berdenyut sakit terasa di tusuk ribuan jarum.


"Aku bisa pakai tongkat ibu." Ryu tersenyum sembari merebahkan kepalanya di pangkuan Siena.


"Ibu terserah kamu nak, jika kau merasa tidak nyaman. Bagaimana dengan Mei Mei? apa nanti dia tidak malu kalau jalan bareng kamu?"


Ryu tengadahkan wajahnya menatap Siena, tangannya di angkat mengusap pipi Siena dengan lembut.


"Aku sudah putus Bu.."


"Kenapa? apa masalahnya?" tanya Siena mengusap lembut puncak kepala Ryu.


Ryu menarik napas dalam dalam, ia tarik tangannya lalu merubah posisi tidurnya miring. Dengan tatapan kosong ke depan.


"Aku tidak mau menyusahkan siapa siapa Bu, hidupku sudah cukup merepotkan Ibu. Mana ada wanita yang sanggup hidup bersama pria cacat seperti aku Bu. Tapi bagiku itu tidak mengapa, memiliki Ibu dan Ayah itu sudah cukup bagiku bahagia."


"Semoga Ibu..." sahut Ryu pelan.


"Amin."


"Plakk!


Ryu terkejut saat Angela memukul lengannya, ia bangun lalu tangannya mencubit gemas hidungnya.


" Sakit tahu!"


"Biarin, ayo bangun. Ini Ibuku, jangan kau ambil ya kak." Angela menggeser tubuh Ryu lalu gilirannya merebahkan kepalanya di pangkuan Siena.


"Aku juga sudah putus dengan Aranza," gerutu Angela.


"Kenapa?" tanya Ryu. Siena hanya diam mendengarkan mereka. Sesekali tersenyum mengingat masa mudanya dulu.


"Mungkin dia punya kekasih baru," sungut Angela.


"Tidak apa apa sayang, mungkin dia bukan jodohmu. Lagipula masih banyak pria baik di luar sana. Contohnya sahabatmu itu, siapa namanya?" tanya Siena tertawa kecil menggoda Angela.


"Kyo!" Mata Angela membulat menatap Siena. "Oh Ibu, jangan dia."


"Memang kenapa? Kyo baik, ganteng, peduli juga sama kamu." Ryu menimpali.


Angela langsung bangun dan duduk menatap horor Ryu.


"Kakak! Kyo itu bawel, doyan makan, gendut, tidak bisa bela diri, terus-?"


"Itu tandanya kau menyukainya, buktinya kau hapal betul kebiasaan buruk Kyo!" potong Ryu.


"Kakak!"


Siena dan Ryu tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Angela cemberut. Sederhana bukan? ya bahagia itu sederhana dan bisa di nikmati kapan saja, baik dalam keadaan suka dan duka.