
Sesampainya di halaman rumah Siena langsung memasuki rumahnya, ia berdiri di ambang pintu sesaat, berjalan perlahan menghampiri anak anaknya yang tengah duduk di kursi bersama Avram. Tak lama ia melihat Samuel yang tergesa gesa datang dari arah pintu ikut berkumpul bersama mereka.
"Ibu? Ibu dari mana?" tanya Angela berdiri menghampiri Siena.
"Ibu ada urusan Nak." Siena tersenyum menatap Angela.
"Om Avram sudah menunggu Ibu dari tadi," timpal Jiro ikut berdiri bersama Zoya menghampiri Siena.
Sementara Ryu hanya diam memperhatikan, berdiri di samping Samuel. Siena duduk di kursi berhadapan dengan Avram.
"Kau menunggu jawabanku?" tanya Siena.
Avram menganggukkan kepalanya. "Kau benar, apa kau sudah bisa menentukan?"
Siena tersenyum menganggukkan kepalanya, wajahnya tengadah menatap Ryu yang menggelengkan kepala tanda ia tidak setuju.
Lalu Siena mengalihkan pandangannya pada Jiro, Zoya dan Angela yang menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Ya, aku sudah bisa menjawabnya sekarang." Siena menatap tajam Avram.
"Apa?"
Sesaat Siena menundukkan kepalanya, "maaf Avram, aku tidak bisa menikah denganmu."
Ryu menjerit kecil kegirangan saat Siena menolak lamaran Avram. Sementara anaknya yang lain menatap bingung Siena. Begitu juga Avram, pria itu sempat terkejut dan kecewa. Namun ia berhasil menenangkan dirinya.
"Jika itu keputusanmu, aku hargai. Tidak masalah Siena, kita masih bisa menjalin persahabatan." Avram tersenyum kecut.
"Terima kasih."
Siena berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar. Meski kecewa, Avram berusaha untuk menerima keputusan Siena dengan lapang dada. Kemudian ia berpamitan pada anak anak Siena kembali pulang.
"Syukurlah, keputusan ibu sudah tepat," ucap Ryu ngeloyor begitu saja di ikuti Samuel dari belakang.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan Ibu, aku juga lega. Itu tandanya Ibu masih mencintai Ayah." Jiro ikut merasa lega, sembari mengusap perut Zoya dengan lembut.
Sementara Angela hanya diam, ia juga tidak masalah jika Siena tidak menikah dengan Avram, justru membuatnya senang. Dengan begitu, ia bisa melanjutkan hubungannya dengan Aranza yang sempat terputus di tengah jalan.
"Bagaimana paman? apa ayah mau minum obatnya?" tanya Ryu.
"Tentu tuan," jawab Samuel.
"Paman, jangan panggil aku dengan sebutan Tuan, panggil aku, Ryu. Kita keluarga paman." Ryu merasa keberatan dan risih.
"Baiklah Nak." Samuel tersenyum merasa sangat di hargai oleh putranya Kenzi.
"Bagus Paman, kita buat obat selanjutnya. Langkah terakhir supaya tubuh Ayah menjadi kebal terhadap obat obatan."
Samuel menganggukkan kepalanya, lalu menemani Ryu kembali bekerja membuat obat untuk Kenzi.
***
Setelah beristirahat cukup lama, menenangkan diri dan meyakinkan dirinya untuk menentukan sikapnya. Siena bergegas kembali ke markas dan mengambil alih kembali Kartel Siloa untuk kembali ia pimpin.
Sesampainya di markas, ia mengumpulkan anak buahnya. Lalu ia membentuk organisasi itu mejadi beberapa bagian sesuai struktur yang sudah ia buat. Kini Kartel Siloa menyatakan diri menjadi sebuah organisasi yang terorganisir di bawah pimpinan Siena langsung sebagai BigBos.
Setelah selesai pengangkatan dan organisasi itu terbentuk, Siena memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menjaga rumah dan anak anaknya dari serangan muduh. Ia juga menempatkan dua bodyguard untuk mengawal Angela kemanapun pergi, tidak lupa juga ia menempatkan penjagaan untuk Jiro dan Ryu.
Siena berdiri dengan memegang senjata api laras panjang, berdiri di hadapan anak buahnya yang berbaris rapi.
"Kalian siap!" ucap Siena lantang menatap tajam seluruh anak buahnya.
"Siap Bos!! seru mereka serempak hingga suaranya terdengar menggema di ruangan yang berukuran besar.
" Berani kalian mengkhianati Kartel Siloa, hukumannya adalah mati!"
"Siap Bos!" sahut mereka lagi.
Siena tersenyum lebar, menatap puas ke arah anak buahnya.
"Sayang, lihatlah. Aku tidak lemah lagi, aku tidak merengek lagi," ucap Siena dalam hati.