THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Quandary



Sesampainya di halaman rumah, mereka langsung keluar dari dalam mobil. Samuel membayar taksi lalu berlari menyusul Jiro dan yang lain masuk ke dalam rumah.


"Kak Jiro!" pekik Angela senang bukan main melihat kakaknya sudah pulang bulan madu tanpa memberitahu terlebih dahulu, memang awalnya Jiro berniat memberikan kejutan dengan membawa Samuel kembali ke tengah keluarga mereka. Gadis itu langsung berlari mendekati Jiro. Namun langkahnya terhenti saat melihat Kenzi.


"Kakak! kenapa kau bawa pulang pria itu!" tunjuk Angela benci.


"Angela, dia ayahmu. Kau tidak pantas bicara seperti itu?" Jiro menasehati adiknya, dia sendiri belum tahu masalahnya apa.


"Aku tahu, tapi dia sudah menyakiti ibu dengan menikahi wanita murahan itu!"


"Jadi? apa yang di katakan wanita tadi benar Ayah?" Jiro menatap Kenzi dalan pelukannya.


Kenzi hanya mengangguk dengan lemah. Jiro tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, namun ia tidak serta merta menghakimi Ayahnya. Ia tahu bagaimana Kenzi terhadap keluarga yang di sayanginya.


"Angela, di mana Ryu?" tanya Jiro mengalihkan pembicaraan.


Ryu yang ada di kamar nendengar suara ribut ribut langsung keluar kamar.


"Kau sudah pulang kak?" Ryu berjalan menghampiri mereka.


"Ayah!" pekik Ryu langsung mengambil tubuh Kenzi lalu di bawa ke sofa. Ia baringkan di atas sofa. Lalu ia berlari ke kamar kerjanya mengambil alat alat medis, tak lama ia kembali.


"Apa yang terjadi dengan Ayah?" tanya Jiro tidak mengerti.


"Ayah kecanduan Narkotika. Mereka sudah memperdaya Ayah," jelas Ryu. "Angela, kau ambilkan air."


"Tidak mau!" sahut Angela masih marah terhadap Kenzi.


"Ada apa ini?"


Ryu, Jiro dan yang lain menoleh ke arah Siena yang baru saja pulang dari markas.


"Kau?!" seru Siena menatap ke arah Kenzi yang terbaring lemah menggigil kedinginan. Ia langsung menghampiri Kenzi dan mengangkat tubuh Kenzi supaya berdiri.


"Ibu!" jerit Ryu, dengan langakah tertatih Ryu menghalangi langkah Siena.


"Tidak Ibu, jangan lakukan itu pada Ayah!" Kedua tangan Ryu di rentangkan menghalangi langkah Siena.


"Ibu, tolong Ibu..ayah membutuhkan kita." Jiro menimpali ikut berdiri di samping Ryu.


"Halah, biarkan saja dia pulang ke rumah wanita iblis itu!" seru Angela, ia lebih mendukung Siena. Sementara Samuel hanya diam, ia mencoba mencerna alur yang ada.


"Diam kalian, ini perintah Ibu! kalian harus menuruti apa kata Ibu!" bentak Siena marah, lalu ia mendorong tubuh Kenzi hingga tersungkur ke lantai. "Bawa pergi dia dari sini, tidak semudah itu aku memaafkannya!"


"Ibu..." ucap Ryu lirih, ia bersimpuh di kaki Siena, wajahnya tengadah dengan air mata yang turun saling memburu, kedua tangannya di lipat memohon pada Siena.


"Aku mohon..." Ryu menelan salivanya, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku tahu Ibu marah, aku tahu Ibu kecewa dan sakit hati. Aku tidak melarangnya, tapi Ibu.." ucapnya terisak. "Izinkan aku sebagai putra Ayah, untuk merawat dan berbakti pada Ayah. Aku mohon Ibu..." Ryu tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Ia hanya menatap Siena dengan tatapan penuh harap.


"Izinkan Ryu dan aku merawat Ayah, jangan halangi kami untuk berbakti sebagai rasa bersalah kami telah membuat kalian seperti ini." Jiro bersimpuh di kaki Siena melipat kedua tangannya.


Melihat kedua putranya memohon dengan segenap perasaan yang mereka miliki, akhirnya hati Siena luluh dan membiarkan kedua putranya merawat Kenzi. Tapi bukan berarti Siena memaafkan Kenzi. Hatinya sudah terluka cukup parah sehingga tidak ada kata maaf untuk Kenzi saat ini. Tanpa banyak bicara, Siena melangkah pergi meninggalkan mereka, dan kembali ke markas Kartel Siloa.


"Ibu!" pekik Ryu menjadi serba salah. Begitu juga dengan Jiro.


Di sisi lain ada Ibu yang harus di bela. Di sisi lain seorang Ayah yang sangat membutuhkan pertolongan Ryu dan dukungan penuh dari keluarga untuk keluar dari kecanduannya.


"Nak, biar ayah pergi saja." Kenzi berusaha bangun dan berdiri.


"Tidak! Ryu langsung memeluk Kenzi. " Tidak aku izinkan Ayah pergi lagi."


Siapa yang tidak hancur, situasi yang sangat sulut. Tapi keputusan harus di ambil dengan cepat. Samuel menundukkan kepala menangis dalam diam. Dia pikir selama ini mereka hidup bahagia ternyata salah besar.