THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



"Uncle Joe! lihatlah!" pekik Ariela menoleh ke belakang, tidak hanya mobil Polisi yang mengejar mereka, tapi mobil pihak musuh ikut mengejar taksi itu.


"Faster Baby! Come on!! seru Joe tertawa lebar, tangan kirinya menyalakan layar monitor yang ada di hadapannya. Nampak jalur jalan raya yang akan di lalui di layar monitor itu.


" Hoaaa! Uncle kau keren!! puji Kitaro memperhatikan layar monitor sembari berpegangan kuat pada kursi.


"Paman, bawa kami ke rumah sakit milik ayah! pinta Genzo.


"Kita harus melawan arah Tuan Muda, bertahanlah!!" seru Joe.


Joe menginjak gas, mobilpun melaju dengan kecepatan tinggi melawan arah. Terdengar suara bunyi klakson dan deru suara mobil membuat ngilu telinga.


"Tit!


"Tit!


"Tit!


"Seeannggggg!!!


Mobil musuh yang ada di samping Taksi berusaha menghadang dan menyerempet. Joe membanting stir ke kanan dan mobil musuh terlempar jauh lalu menabrak pengendara lain, terbang ke udara sebelum akhirnya terhempas kembali ke jalan.


" Duaarrr!! Brakkkk!!!


"Woowwww!! pekik Ariela bersorak kagum melihat cara Joe menyingkirkan musuh satu persatu.


Namun dari arah kiri, mobil musuh menabrak taksi hingga oleng ke arah berlawanan. Joe berusaha menyeimbangkan kembali taksinya dan menghindari tabrakan dengan pengendara lain.


" Ciiitttt!!! suara ban mobil beradu jalan aspal.


"Tit tit tittttt!!! suara bunyi klakson terdengar di mana mana.


Joe kembali bisa menguasai jalan raya lalu melajukan taksi dengan kecepatan tinggi. Baik pihak musuh atau Polisi menambah kecepatan laju mobilnya mengejar Taksi itu.


Joe membanting stir ke kiri dan ke kanan, dengan tatapan fokus ke jalan. Satu persatu pihak musuh atau Polisi terhambat dan saling bertabrakan. Suara Sirine semakin ramai terdengar oleh Genzo dan yang lain. Sementara Joe sendiri asik melajukan taksinya tanpa ada kekhawatiran.


" Bertahanlah Alexa, sebentar lagi kita sampai." Ucap Genzo terus mendekap erat tubuh gadis itu yang mulai dingin.


"Sebentar lagi kita sampai Tuan Muda!" seru Joe tanpa melirik ke arah Genzo.


"Uncle, siapa kau sebenarnya?" tanya Kitaro.


"Bukan saatnya, sebaiknya kita segera bawa gadis itu ke rumah sakit!" jawab Joe, memutar aeah taksinya memasuki halaman rumah sakit milik Ryu.


"Ayo cepat bawa gadis itu masuk!" perintah Joe seraya menoleh ke arah Genzo.


Joe dan yang lain keluar dari dalam Taksi. Namun baru saja mereka keluar sudah di serbu oleh peluru musuh yang baru saja tiba.


"Dor dor dor dor!!!


" Trankkk!! peluru memecahkan kaca mobil yang berjajar di halaman rumah sakit. Suara teriakan dari dalam rumah sakit terdengar jelas oleh Genzo dan yang lain.


Joe berlari bersama Ariela lalu bersembunyi di balik mobil. Begitu juga Genzo dan Kitaro, mereka bersembunyi di balik mobil dengan tatapan ke arah musuh yang terhitung jumlahnya. Di saat bersamaan, Cristoper dan anak buah Siena datang membantu.


"Tuan, cepat masuk ke dalam! aku akan melindungimu!! seru Cristoper seraya berlari ke arah Joe dan Ariela.


Genzo menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali berlari menggendong Alexa masuk ke dalam rumah sakit. Kitaro sendiri, membantu yang lain.


" Bertahanlah Alexa!"


Genzo terus berlari menyusuri lorong rumah sakit, bersamaan dengan para pengunjung rumah sakit yang berlarian ke sana kemari mencari tempat berlindung.


"Minggir!" seru Genzo menerobos kerumunan orang orang yang berlarian.


Langkah Genzo terhenti menatap lurus kedepan, seorang pria tengah berdiri tegap dengan senjata api laras panjang terarah padanya.


Pria itu hanya diam dengan tatapan tajam ke arah Genzo.


"Klik! terdengar suara pelatuk di tarik oleh pria tersebut. Perlahan Genzo membungkukkan badan, lalu ia letakkan tubuh Alexa di lantai. Ia tidak mau kalau gadis itu sampai tertembak.


" Katakan apa maumu?" tanya Genzo lagi, namun pria itu tetap bungkam.


"Kau mau membunuhku? lakukan!"


Pria itu hanya tersenyum sinis, bersamaan dengan jarinya melepaskan peluru secara beruntun ke arah Genzo.


"Dor Dor Dor Dorrr!!!!


" Alexa?" ucap Genzo menatap wajah Alexa yang tengah memeluknya erat. Genzo merasakan telapak tangannya basah oleh darah.


"Alexaaaaa!!! jerit Genzo mendekap erat tubuh gadis itu lalu ambruk ke lantai. Sementara pria tadi melarikan diri setelah peluru yang dia lesatkan mengenai punggung Alexa.


" Kenapa kau lakukan ini, Alexaa!!! Genzo menjerit histeris memanggil Alexa.


"A, aku.." ucap Alexa terbata bata.


"Jangan bicara dulu Alexa," potong Genzo menatap wajah Alexa, dari mulut gadis itu mengeluarkan darah segar. Kemudian Genzo mencoba bangkit seraya mengangkat tubuh Alexa.


"Ti, tidak Genzo. A, aku...akku..su, sudah ti, tidak kuat lagi..akku, ba, hagia mati dalam pelukanmu. Ge, Genzo..aku men, cintai..mu..."


Mata Genzo melotot, mulutnya menganga menatap wajah Alexa yang terkulai lemas dalam pelukannya.


"Alexaaaa!!! pekiknya memeluk tubuh Alexa erat erat, lalu ia bangkit dan berdiri tegap. Setengah berlari ia menggendong tubuh gadis itu menuju ruang UGD. Darah berceceran di lantai di setiap langkah Genzo hingga ruang UGD.


" Dokter! lakukan sesuatu!!" perintahnya pada dua orang Dokter yang tengah berada di ruang UGD. Lalu tubuh Alexa di letakkan di atas brankar.


Kedua Dokter itu memeriksa kondisi Alexa dengan sigap. Namun pemeriksaan itu di hentikan dan Dokter menyatakan kalau Alexa sudah tiada. Genzo sama sekali tidak percaya dengan apa yang di katakan Dokter itu. Ia menjerit dan menangis memeluk tubuh Alexa erat erat.


"Alexaaaa!!


" No!!!"


Kedua Dokter itu hanga diam di sudut ruangan, membiarkan Genzo menangisi tubuh Alexa yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Kalian semua akan mendapatkan balasan yang setimpal!!


Genzo melepaskan tubuh Alexa, lalu ia berlari keluar ruangan, menuju peperangan yang terjadi di luar rumah sakit. Ia mengambil dua buah senjata api milik musuh yang sudah tergeletak tak bernyawa. Perasaan marah bercampur sedih, Genzo berlari menghampiri musuh seraya melesatkan peluru dari kedua tangannya.


" Ini untuk darah dan air matamu, Alexaa!!" jerit Genzo.


"Dor dor dor!!!


Kemarahan dan kesedihan yang sudah menguasai jiwanya, Genzo melupakan keselamatan dan nyawanya sendiri. Ia terus mengejar musuh, berlari kesana ke mari menghabisi semuanya, di bantu Cristoper dan Joe.


Joe kagum melihat gerak lincah Genzo layaknya penembak jitu yang profesional. Menghabisi musuhnya tanpa ampun, hingga sebagian melarikan diri.


Tatapan Genzo tajam dan merah saat berhadapan dengan pria yang sudah menembak Alexa.


" Ini untuk nyawamu, cintaku!!


"Dor dor dorrr!!


"Dont!!! pekik Cristoper mencegah Genzo membunuh pria tersebut, namun peluru sudah bersarang di seluruh tubuh pria itu, hingga ambruk dan tewas seketika.


Genzo tidak perduli, ia abaikan larangan Cristoper. Ia lemparkan kedua senjata api itu ke tubuh pria tersebut, lalu ia kembali berlari masuk ke dalam rumah sakit menuju UGD tempat jasad Alexa berada. Namun, sesampainya di sana, tubuh gadis itu sudah tidak ada beserta kedua Dkter tadi.


" Alexa? kau dimana? siapa yang sudah membawa Alexa pergi?" gumam Genzo pelan.