
Hari pernikahan Genzo telah tiba, meski tidak ada dukungan dari kedua orangtuanya. Genzo tetap bersikeras dengan keputusannya untuk menikahi Alexa.
Genzo berdiri tegap di depan cermin, memperhatikan pantulan tubuhnya. Setelan jas putih, rambutnya yang gondrong di ikat tertata rapi. Setelah selesai, Genzo berjalan keluar dari kamar pribadinya.
Ketika ia melewati kamar pribadi Ibunya, langkahnya terhenti mendengar suara teriakan minta tolong. Genzo menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka. Lalu ia membukanya perlahan, nampak Althea tengah memangku Ibunya yang tak sadarkan diri.
"Panggilkan Ayah cepat!" perintah Althea.
Genzo kembali bergegas keluar kamar dan memanggil Ryu yang berada di ruang kerjanya. Tak lama kemudian mereka berdua kembali ke kamar Davira.
"Ada apa Nak? apa yang terjadi dengan Ibu?" tanya Ryu lalu jongkok di hadapan tubuh Davira yang tak sadarkan diri.
"Aku tidak tahu, Ayah!" sahut Althea terisak.
"Genzo, kau bantu aku mengangkat ibumu. Bawa dia ke ruang medis!" perintah Ryu tengadahkan wajahnya menatap ke arah Genzo.
"Baik Ayah!" sahutnya lalu jongkok, mengambil alih tubuh Davira dan menggendongnya.
Setengah berlari, Genzo menggendong Davira ke ruangan medis yang berada di lantai bawah. Lalu ia membaringkan tubuh ibunya di atas tempat tidur.
"Sebaiknya kalian tunggu di luar. Genzo, kau jangan kemana mana, aku membutuhkan bantuanmu." Pinta Ryu.
"Baik Ayah!" jawab Genzo, lalu ia bergegas keluar kamar di ikuti Althea. Mereka berdua menunggu di luar kamar.
Detik berlalu, menit berganti. Genzo terlihat gelisah, berkali kali ia melirik jam tangannya.
"Aku terlambat sepuluh menit, semoga Alexa mengerti dan mau menungguku." Ucap Genzo dalam hati, lalu ia merogoh saku celananya mengambil ponsel. Namun ponsel dalam sakunya hilang tiba tiba. "Di mana ponselku?"
Genzo bergegas kembali ke kamarnya mencari ponsel mililnya, tapi ponsel itu tidak di temukan meski ia sudah mencari ke setiap sudut ruangan. Lalu ia kembali ke lantai bawah, menggunakan telpon rumah untuk menghubungi Alexa. Namun sayang, telpon rumah tiba tiba saja rusak.
Genzo masih belum menyadarinya, ia semakin kesal. Lalu ia memutuskan untuk menemui Alexa sebentar, namun baru saja satu langkah. Ryu sudah berteriak memanggilnya.
"Genzo!"
Genzo balil badan dan bergegas menghampiri Ryu. "Ada apa Yah? bagaimana dengan Ibu?"
Kemudian Genzo masuk ke dalam kamar, di ikuti Ryu dan Althea.
"Bagaimana Ibu?" tanya Genzo khawatir.
"Hidup Ibu mungkin tidak lama lagi, tapi Ibu punya satu permintaan." Kata Davira lirih.
"Jangan bicara seperti itu Bu, aku yakin ibu baik baik saja." Jawab Genzo matanya berkaca kaca.
"Kau boleh memilih, pilih ibumu atau menikah dengan Alexa."
Genzo terdiam, menatap tajam ibunya sendiri. Ia tidak percaya kalau ibunya akan memberikan pilihan yang sama sama sulit.
"Katakan, pilih ibu atau Alexa?" tanya Davira lagi semakin membuat Genzo terpojokkan.
"Aku pilih Ibu.." jawab Genzo, menundukkan kepalanya.
"Sekarang batalkan pernikahanmu." Davira menyodorkan ponsel milik Genzo.
Mata Genzo melebar, menatap ponsel di tangan Davira. Ia baru menyadari, kalau semua itu hanyalah akal akalan.
"Ibu.."
"Cepat lakukan, katakan kalau kau membatalkan pernikahan itu." Paksa Davira.
Genzo mengambil ponsel miliknya, lalu menghubungi Alexa yang sudah menunggunya lama. Tanpa banyak basa basi, Genzo memutuskan untuk membatalkan pernikahannya lalu menutup ponsel begitu saja.
"Anak baik, sekarang kembali ke kamarmu dan ganti pakaianmu." Perintah Davira.
Di sisi lain, Althea senang mendapatkan dukungan dari mertuanya. Namun di sisi lain, ia merasa tidak enak hati melihat Genzo terlihat sangat sedih. Toh pada kenyataannya, Genzo tidak akan pernah bisa Althea miliki.
Genzo melangkahkan kakinya dengan gontai, sekilas ia menatap tajam ke arah Althea yang hanya menundukkan kepalanya.
"Kau puas?" tanya Genzo dan berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi ke arah Althea.