
Sesampainya di halaman rumah, Angela langsung menarik tangan Jiro lagi memasuki rumahnya.
"Angel?" sapa Laura.
"Nenek, kenalin ini kak Jiro yang kemarin kuceritakan."
"Halo." Jiro menyapa, membungkukkan badan sesaat.
"Kau yang namanya Jiro? masuklah Nak. Nenek sedang buat makanan." Laura mempersilahkan Jiro untuk duduk.
"Nanti Nek, aku mau kenalin kak Jiro pada Ibu!" seru Angela sembari menarik paksa tangannya untuk mengikuti langkah Angela menuju kamar Siena.
"Ini kamar Ibuku." Angela perlahan membuka pintu.
Semilir angin berhembus perlahan saat pintu terbuka, kenangan masa lalu begitu kuat di ingatan keduanya. Entah mengapa, jantung Jiro berdegup kencang. Tangannya berkeringat, tubuhnya serasa bergetar. Bahkan kedua kakinya terasa lambat bergerak untuk menuju wanita yang tengah duduk di kursi roda menghadap jendela.
"Ayo kak." Angela melirik sesaat ke arah Jiro yang terpaku berdiri di belakang Siena.
"Ibu.." Angela berdiri di samping Siena. "Aku mau kenalkan Ibu pada sahabatku." Angela tersenyum pada Siena meski wanita itu tetap sama tak bergeming dari tempatnya.
"Halo." Jiro menyapa, masih berdiri di belakang Siena.
Namun tidak ada jawaban dari Siena, semuanya diam terpaku. Tidak ada yang bicara sepatah katapun. Detik berikutnya, Angela menarin tangan Jiro untuk berdiri lebih dekat dengan Siena.
"Kakak sini, biar Ibu bisa melihat wajah Kakak!"
"Tapi-?"
"Ayo! potong Angela sembari menarik paksa tangan Jiro, lalu mendorong tubuh pria itu untuk berdiri di hadapan Siena.
" DEG!"
Jantung Jiro serasa berhenti berdetak, lidahnya kelu sekedar untuk berucap. Tubuhnya bergetar, lututnya terasa lemas. Meski wajah Siena rusak, namun Jiro masih mengenali Ibunya. Perlahan ia menjatuhkan tubuhnya di kaki Siena. Tangannya terulur dengan gemetar menyentuh pipi Siena.
"I, -?" Jiro menelan salivanya, dengan derai air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.
"IBUUUU!!!" Jerit Jiro memeluk erat tubuh Siena.
"Ibu?" gumam Angela menautkan kedua alisnya menatap mereka. Ia masih belum mengerti, namun ia memilih diam.
"IBUUU!!"
Jiro memeluk erat dan tidak ingin melepaskannya.
"Aku pikir kau sudah tiada, maafkan aku Ibu..maafkan aku yang tidak bisa melindungi Ayah, maafkan aku yang tidak bisa melindungi Miko. Maafkan aku Ibuuu..maafkan aku yang tak bisa melindungi kalian."
Angela mengusap air matanya yang jatuh di pipi, mendengarkan kata penyesalan, kata kata rindu di bibir Jiro. Meski ia tidak yakin Namun Angela bisa mencerna, kalau pria di hadapannya adalah kakak kandungnya. Lalu ia beralih menatap wajah Siena yang basah oleh air mata. Perlahan ia jongkok, tangannya menyentuh pundak Jiro.
"Kakak, kau kakakku?" ucap Angela.
Jiro melepas pelukannya, beralih menatap wajah Angela. Air matanya semakin deras membasahi pipinya.
"Jadi? kau adikku, kau adikku...!" Jiro langsung memeluk erat Angela.
"Maafkan kakakmu ini, maafkan aku.." ucap Jiro lirih, air matanya membasahi bahu Angela.
"Kakak, akhirnya aku menemukan keluargaku." Angela melepaskan pelukannya.
"Kau adikku.." ucapnya pelan dan tersenyum getir, ia alihkan pandangannya pada wajah Siena yang rusak.
"Ibu, apakah mereka yang telah melakukan ini padamu, Bu?" tangan Jiro mengusap wajah Siena yang rusak sebelah kanan.
"Mereka siapa kak?" tanya Angela.
"Kau Jiro? kakak Angela?" tanya Laura yang sudah berdiri di belakang mereka.
"Benar Nek," sahut Jiro.
"Syukurlah, salah satu putranya berhasil di temukan." Laura tersenyum bahagia.
"Jadi? aku masih punya kakak lagi?" tanya Angela.
Jiro menoleh ke arah Angela. "Iya sayang, kamu masih punya kakak laki laki. Tapi aku tidak tahu apakah ia masih hidup atau tidak." Jiro menundukkan kepala sesaat. Lalu ia beralih menatap Laura.
"Nek, bagaimana ceritanya?" tanya Jiro, bagaimana bisa Siena berada di rumah Laura. Kemudian Laura menceritakan awal pertemuannya dengan Siena. Membuat Angela menangis tersedu sedu, mendengar kisah Ibunya dari Laura.
"Ibu, maafkan aku yang selalu nakal dan buat kesal Ibu." Angela memeluk erat tubuh Siena. Jiro mengusap air matanya, kini air mata itu bukanlah kedukaan tapi kebahagiaan. Meski ia sendiri belum tahu keberadaan Kenzi, Ryu dan Zoya. Apakah mereka masih hidup.
"Nak, sebaiknya kau bersihkan badanmu. Setelah itu kita makan bersama. Tentu kau sudah lama tidak makan bersama Ibumu, bukan?" usul Laura.
"Baik Nek." Jiro tersenyum menganggukkan kepalanya. Menatap punggung Laura yang meninggalkan kamar.
"Angel..." Jiro kembali menarik bahu Angela lalu memeluknya. Perlahan tapi pasti, di sudut bibir Siena terukir senyuman samar.
Sementara di luar rumah Laura, sepasang mata sudah memperhatikan sejak lama. Sang pengintai tengah memperhatikan dan menyusun rencana.