THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Sepulang dari rumah Alexa, Genzo kembali ke rumahnya dan meminta Cristoper untuk menyelidiki perusahaan Farmasi yang di sebutkan ayahnya Alexa. Dalam waktu tiga puluh menit, informasi itu sudah Genzo dapatkan.


"Perusahaan itu pernah meminta kerjasama dengan rumah sakit milik Tuan Ryu. Tetapi Ayah Tuan muda menolaknya untuk bekerjasama dengan mereka." Ungkap Cristoper.


"Baik Paman, terima kasih informasinya. Bagaimana dengan organisasi Silver Die? apakah Paman sudah mengetahui lokasinya?" tanya Genzo.


"Sudah Tuan muda, kita tinggal melakukan penyergapan nanti malam." Cristoper membungkukkan badannya sesaat, lalu ia menghubungi anak anak Siloa untuk penyerangan nanti malam.


Genzo terdiam menatap Cristoper, duduk dengan santai di sofa. Para penjaga berdiri di belakang sofa siap siaga menjaga Genzo sesuai permintaan Ryu.


"Tuan Muda, kita bersiap sekarang."


"Baik Paman!" sahut Genzo.


"Nak.." sapa Samuel menghampiri Genzo.


"Paman Besar." Genzo berdiri dan menundukkan kepalanya sesaat sebagai bentuk rasa hormat terhadap Samuel yang sudah di anggap guru dan ayahnya, karena Samuel yang selama ini mengajari Genzo dalam segala hal, selain Cristoper ikut mengarahkan Genzo supaya kuat dan tangguh secara mental dan jiwanya. Karena mereka berdua tahu, hidup Genzo tidak akan mudah sejak Ryu dan Davira menghilang.


"Ingat semua pesan dan ingat semua yang sudah kuajarkan padamu. Aku percaya, dalam darahmu mengalir darah Kakek dan Nenekmu."


"Paman Besar, aku akan selalu mengingat semuanya. Paman Besar jangan khawatir, aku pasti kembali dengan selamat."


Samuel menepuk pundak Genzo berkali kali, ia bangga melihat pertumbuhan Genzo. Setiap kali melihatnya, ia seperti melihat Kenzi dulu.


"Pergilah!"


Genzo membungkukkan badan sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Di ikuti Cristoper dan anak buah Genzo dari belakang.


***


Di markas besar Silver Die, nampak sekumpulan anak perempuan di perkirakan usia 6 hingga 17 tahun tengah mengemas narkoba. Selama ini, organisasi itu menculik dan membeli anak anak kecil hingga remaja untuk di pekerjakan dalam bisnis narkoba. Jika usia mereka sudah remaja, maka satu persatu anak perempuan itu akan di bunuh dan di jual organ tubuhnya terutama mata.


"Cepat kerjakan! jangan lamban!" teriak salah satu pria yang mengawasi anak anak itu. Nampak diantara mereka, ada Alexa yang ikut mengemas narkoba.


"Kau! ayo ikut!" dua pria mendekati Alexa dan anak peremouan lainnya, lalu mereka menarik kerah baju dua anak gadis itu, menyeretnya keluar ruangan dengan paksa.


"Tuan, jangan sakiti aku!" Alexa berusaha memberontak dari cengkraman pria tersebut, namun semakin Alexa memberontak, pria itu menampar wajahnya berkali kali hingga tersungkur ke lantai.


"Diam atau kau mati!" ancam pria itu.


"Tuan, lepaskan, kumohon!" ucap Alexa tetisak, tubuhnya menggigil ketakutan.


"Ahh! banyak omong!" pria itu menendang kaki Alexa, lalu menarik tangannya dan menyeret tubuh gadis itu sebelum berdiri.


"Berapa anak yang harus di bawa?" tanya salah satu pria yang berdiri di ambang pintu.


"Dua!" jawab pria yang menyeret tubuh Alexa.


"Bagus, ayo cepat!"


"Tuan, lepaskan aku!" teriak Alexa berusaha untuk bangun, namun kembali ia tersungkur karena tidak bisa mengimbangi langkah pria itu.


Tiba tiba pria itu menghentikan langkahnya, terdengar kegaduhan dan suara teriakan anak anak dari dalam ruangan. Pria itu saling pandang sesaat.


"Polisi?" tanya pria itu pada kawannya.


"Aku tidak tahu, tapi rasanya tidak mungkin."


"Kau tunggu di sini, biar kuperiksa anak anak itu." Pria tersebut menyerahkan Alexa kepada kawannya, sementara dia sendiri memeriksa kegaduhan yang terjadi di ruangan lain.


Sesampainya pria itu di dalam ruangan, di mana anak anak tengah mengemas narkoba. ia terkejut, karena tidak mendapati satupun anak anak di dalam ruangan itu. Yang lebih membuat ia terkejut bercampur marah, narkoba yang sudah di kemas hancur berantakan.


"Sial! Umpat pria itu balik badan.


Ujung senapan sudah menempel tepat di wajahnya. "Siapa kalian!" matanya melebar menatap tiga pria di hadapannya. Namun, bukan jawaban yang ia terima.


"Dor Dor!!"


Dua peluru bersarang di kening pria tersebut. Tubuhnya perlahan ambruk ke lantai tak bernyawa lagi. Kemudian ketiga pria tersebut berlari keluar ruangan.


"Ayo cepat! Kalian keluar lewat sini!" perintah tiga pria itu membuka pintu ruangan lain dan memerintahkan anak anak melewati pintu belakang.


Sementara di luar markas, peluru berdesing berseliweran, mobil di halaman yang terparkir terbakar dan meledak.


"DUARRR!!!


Kebakaran terjadi di mana mana, pihak musuh banyak yang tumbang. Mereka tidak menduga akan mendapatkan serangan mendadak. Gudang senjata terbakar, begitu juga gudang penyimpanan obat obatan terlarang.


" Paman! Aku akan masuk ke dalam!" seru Genzo melirik sesaat ke arah Cristoper, lalu ia berlari setengah merunduk masuk ke dalam markas.


Di dalam markas Genzo mencari keberadaan Alexa. Namun Genzo tak menemukan keberadaan Alexa.


Langkah Genzo terhenti saat melihat empat pria sudah berdiri di hadapannya. Dua di antara mereka, Genzo mengenalinya. Pria yang berusaha menculik Alexa tempo hari.


"Apakah kau mencari temanmu itu?' tanya pria itu di iringi tertawa lebar.


" Dia sudah mati!" ucap salah satu kawannya. Lalu pria itu melemparkan botol kecil yang berisi dua bola mata.


Genzo tertunduk menatap botol itu, mendengus geram lalu menatap marah ke empat pria tersebut. Genzo berpikir kalau Alexa telah mati, dan di ambil kedua bola matanya.


"Kalian!" ucap Genzo marah.


"Hahahahaha! Ke empat pria itu tertawa terbahak bahak. Tanpa mereka duga, Genzo mengeluarkan dua senjata api lalu ia lesatkan peluru secara bersamaan ke arah empat pria tersebut.


" DOR DOR DOR!!


Ke empat pria tersebut jatuh tersungkur ke lantai, noda darah membasahi lantai yang putih bersih. Genzo mendekati empat pria yang sudah meregang nyawa lalu menendangnya satu prrsatu, setelah puas ia berlari kembali keluar ruangan.


Genzo yang sudah di kuasai amarah, mulai membakar setiap sudut ruangan. Perlahan api membesar. Genzo segera berlari keluar markas sebelum api menyambar gas yang berjajar di dalam markas itu.


"DUARRRR!!


Terjadi ledakan dahsyat dan memporak porandakan markas itu. Genzo berdiri di antara anak anak peremouan yang berhasil di selamatkan. Dari kejauhan terdengar suara sirine pertanda pihak Kepolosian datang ke lokasi setelah Cristoper menghubungi pihak berwajib.


Dengan langkah gontai, Genzo menghampiri Cristoper dan mengajaknya untuk kembali pulang. Namun saat ia memutar tubuhnya, seorang gadis yang ia kenal sudah berdiri di hadapannya dengan berurai air mata.


" Alexa?" Genzo tidak percaya melihat temannya masih hidup.


"Terima kasih!" pekik Alexa berlari dan memeluk erat tubuh Genzo. Gadis itu menangis sesegukan di dada Genzo.


"Sudah jangan menangis, kau sudah aman." Genzo membalas pelukan Alexa sesaat, lalu ia melepas pelukannya.


"Ayahmu sudah tiada," ucap Genzo menceritakan apa yang terjadi di rumah gadis itu.


"Aku tahu, mereka membunuhnya," jawab Alexa terisak.


"Apa rencanamu?" tanya Genzo.


Alexa hanya menggelengkan kepala, lalu ia benarkan kaca matanya.


"Tuan Muda, sebaiknya Nona Alexa malam ini menginap di rumah, besok aku carikan tempat tinggal untuknya," usul Cristoper.


"Kau benar Paman, ayo kita pulang!"