THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Kabar penyerangan di rumah sakit milik Ryu terdengar oleh keluarga Kenzi. Mereka segera meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di sana telah terjadi kerusakan di mana mana, yang terluka dari pihak pengunjung rumah sakit atau musuh bergelimpangan di mana mana. Kenzi dan Ryu tidak percaya, jika Genzo di incar banyak musuh, apa yang sebenarnya mereka inginkan?


Kenzi atau Ryu, sama sekali tidak bertemu Genzo atau yang lain. Ia mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit yang melihat kejadian, kalau Genzo dan dua sahabatnya beserta sang sopir di bawa Polisi ke kantor Pusat Kepolisian. Setelah mendapat kabar itu, mereka berdua segera meluncur ke Kantor Pusat Kepolisian, dan menghubungi Pengacara untuk menyusul mereka.


Sesampainya di Kantor Polisi, Ryu atau Kenzi tidak percaya melihat Genzo, Ariela, Kitaro dan Joe. Tengah di introgasi dan di paksa mengakui perbuatan yang tidak mereka perbuat sama sekali. Genzo dan dua sahabatnya beserta Joe, di tuduh telah membunuh seorang gadis yang bernama Alexa.


"Itu mustahil!!" ucap Kenzi marah seraya menarik kerah baju salah satu Polisi yang mengintrogasi cucunya.


"Sebaiknya anda patuhi peraturan, kami bisa menangkap anda karena telah melindungi pembunuh." Ancam Polisi itu.


"Ayah tenanglah!" Ryu menarik tangan Kenzi supaya melepaskan cengkramannya. Ia tidak ingin masalahnya bertambah runyam.


"Mereka sudah bersekongkol, Nak." Kenzi geram atas tuduhan yang di berikan pihak berwajib pada cucunya.


"Aku tahu Ayah, tapi kalau dengan cara seperti ini yang ada semua tambah kacau." Jelas Ryu tetap berusaha tenang.


Kenzi menarik napas dalam dalam, ia coba untuk tenang. Di saat bersamaan Aranza datang dan mempertanyakan hal yang sama pada pihak berwajib tentang keterlibatan putrinya. Kerusuhan hampir saja terjadi, andaikan Ryu tidak mencegahnya. Baik Aranza maupun Kenzi sama sama tidak terima dengan tuduhan itu sementara bukti jasad Alexa pun tidak ada. Dengan alasan masih di visum.


Akhirnya mereka bertiga hanya bisa diam, tapi bukan diam menyerah. Mereka diam hanya ingin mematuhi peraturan yang ada. Kekesalan semakin memuncak saat Genzo, Ariela, Kitaro dan Joe hendak di bawa ke Kantor Polisi pusat.


"Ayah, Grandpa, kalian tidak perlu khawatir. Aku bisa di andalkan!" ucap Genzo tersenyum menatap Ryu dan Kenzi.


Ryu hanya diam, memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin memperlihatkan raut wajah kesedihan di depan putranya.


"Kau memang cucuku yang paling bisa di andalkan! sahut Kenzi lalu mencium keningnya cukup lama.


" Ayah! sapa Genzo.


Ryu hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah Genzo. Ia tidak sanggup melihat putranya dalam keadaan kedua tangan di borgol layaknya penjahat.


Genzo tersenyum, menganggukkan kepalanya. Ia paham mengapa Ryu bersikap seperti itu.


"Kalian jangan khawatir, aku pasti baik baik saja!" seru Genzo menoleh ke belakang, saat anggota Polisi memasukkannya ke dalam mobil bersama dua sahabat dan sopir taksi itu.


"Papa!" pekik Ariela berlinangan air mata menatap ke arah Aranza yang hanya berdiri mematung memperhatikan.


"Mereka sudah melibatkan anak anak, aku tidak akan tinggal diam!" ucap Kenzi geram


"Kau benar, Tuan. Akan kubalas perbuatan mereka." Timpal Aranza.


"Sebaiknya kita pergi dari sini, kita bicara di rumah," usul Ryu.


***


Sepanjang perjalanan, Genzo, Ariela, Kitaro, dan Joe duduk terdiam menundukkan kepala. Hidup mereka seketika berubah, seharusnya menikmati masa remaja di sekolah menimba ilmu. Namun kenyataan berkata lain, mereka harus terlibat dengan para mafia.


Ariela dan Kitaro mengangkat wajahnya menatap ke arah Genzo.


" Kita sahabat, dalam persahabatan tidak ada kata maaf. Sahabat tidak akan meninggalkan sahabatnya dalam keadaan apapun." Sela Kitaro.


"Jangan ucapkan kata kata itu lagi, aku tidak suka!" sungut Ariela memajukan bibirnya menatap Genzo.


Sesaat semuanya terdiam haru, detik berikutnya mereka bertiga tertawa terbahak bahak mentertawakan keadaan mereka sekarang.


Joe yang sedari tadi diam, kaki kirinya menendang pelan kaki kanan Genzo.


"Uncle! ucap Genzo mengalihkan pandangannya.


"Kau tahu? di patuhi salah, tidak di patuhi juga sama saja. Kita sudah terjebak, dan selamanya kita tetap akan salah. Kau paham maksudku?"


Genzo terdiam sesaat, lalu tertawa lebar di ikuti Ariela dan Kitaro.


"Kita yang mulai, berarti kita juga yang harus mengakhiri!" timpal Kitaro.


"Siap jadi buronan?!" tanya Joe.


"Tentu Uncle!! jawab mereka serempak.


Joe berdiri merunduk lalu berjalan perlahan mendekati Ariela. Tangannya yang di borgol mengambil jepit rambut di kepala Ariela, lalu ia kembali duduk. Jepit rambut itu ia gigit, kemudian ia berusaha membuka borgol menggunakan jepit rambut Ariela.


Semuanya mempeehatikan aksi Joe, jantung mereka berdebar debar, menahan napas. Seketika mereka bersorak pelan saat Joe berhasil membuka borgol di tangannya. Kemudian pria itu membuka borgol Genzo dan yang lain, setelah selesai mereka saling berpelukan sesaat lalu berbisik pelan menyusun rencana.


Mereka berempat duduk di bawah, lalu kedua kaki mereka semua menendang pintu mobil secara bersamaan dan mereka lakukan berkali kali. Tak lama mereka merasakan mobil itu berhenti. Joe menoleh ke arah Genzo dan dua sahabatnya lalu menganggukkan kepala sebagai kode.


Terdengar suara pintu mobil di buka dari luar, dengan serempak mereka menendang pintu bersamaan dengan terjungkalnya seorang Polisi ke jalan raya. Joe dan yang lain segera keluar dari pintu mobil lalu berlari ke tepi jalan raya, masuk ke dalam hutan lindung.


"Kejar!!" perintah Polisi itu pada rekannya.


Sementara iringan mobil Polisi yang ada di belakang segera menepikan mobilnya dan mereka semua berlari ke arah hutan lindung mengejar Genzo dan yang lain. Mereka berpencar masuk ke dalam hutan lindung.


Sementara Genzo dan yang lain, tidak benar benar masuk ke dalam hutan. Saat melihat anggota Polisi itu berpencar ke dalam hutan. Joe dan yang lain bergegas kembali masuk ke dalam mobil Polisi.


"Yihaaa!! kita pergi Tuan Muda!! pekik Joe senang, berhasil mengelabui anggota Polisi.


" Kau hebat Paman!" puji Genzo serempak.


"Kita pergi, kita selesaikan masalah ini dengab cara kita sendiri!" Ucap Joe, lalu melajukan mobil Polisi itu dengan kecepatan tinggi.